Oleh : K.H. Said Aqil Siroj

said aqil siroj

Tasawuf memandang bahwa kekuasaan itu mengandung dua unsur penting. Khalq dan khulq. Khalq merupakan kekuasaan yang tampak secara material, seperti jabatan presiden, gubernur, menteri, bupati, dan wali kota. Sementara khulq berupa kekuasaan yang bersifat spiritual atau ruhani. Maka, kekuasaan yang ideal menurut pandangan tasawuf adalah yang dapat memberikan hasil positif bagi kehidupan manusia baik secara lahiriah maupun batiniah. Kekuasaan menjadi penting ketika orang yang memegang kekuasaan mempunyai kesempurnaan spiritual atau ruhani, yakni yang mampu mewujudkan moralitas yang luhur dan etika yang paripurna (atau itmamul khuluq, seperti disebut Nabi Muhammad saw). Salah satu wujud konkret kesempurnaan moralitas penguasa itu adalah yang memiliki bashirah, dlamir, fu’ad, sirr, dan latha’if.

Kekuasaan menjadi efektif dan berfungsi dengan baik apabila orang yang berkuasa mempunyai bashirah, yaitu mata hati (eye of the heart), sebagaimana ditegaskan Allah swt : “Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri” (Q.S. al-Qiyamah : 14). Mengapa demikian? Soalnya, seorang penguasa yang mempunyai bashirah akan mampu membedakan dengan tegas antara kebaikan dan keburukan. Dengan demikian, kekuasaan selalu berada pada posisi yang jelas dan terang, serta digunakan untuk kepentingan mewujudkan kebaikan dan kemaslahatan dan bukan keburukan. Sekali lagi Allah berfirman : “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan” (Q.S. asy-Syams : 8).

Kekuasaan juga membutuhkan pribadi penguasa yang mempunyai dlamir, yaitu yang merangkum dalam dirinya nilai-nilai moral, karena dlamir berfungsi untuk mengarahkan kekuasaan agar selalu berada pada jalur yang benar dan difungsikan pada kebaikan bersama. Di samping itu, kekuasaan juga harus dipegang oleh seseorang yang mempunyai fuad, yaitu suatu integritas batiniah yang mampu bertindak sebagai hakim atau penentu bagi segenap perilaku manusia. Kekuasaan yang selalu berkutat pada persoalan kebijakan akan menimbulkan persoalan apakah kekuasaan yang telah berjalan itu sesuatu yang baik atau buruk. Maka, seorang penguasa yang mempunyai fuad akan dimudahkan dalam memperoleh kejelasan soal baik dan buruknya suatu tindakan. Seperti dinyatakan dalam Alquran : “Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya” (Q.S. an-Najm : 11)

Seorang penguasa juga membutuhkan sirr, yang secara harfiah bermakna “rahasia”. Tidak semua orang mempunyai sirr yang berfungsi mengawasi tindakan dan segenap aktivitasnya yang sudah atau yang sedang berjalan. Potensi ini membutuhkan pelatihan-pelatihan khusus agar semakin tajam. Kekuasaan yang dikendalikan oleh pribadi yang mempunyai sirr akan selalu mempertanggungjawabkan tindakannya kepada Tuhan dan manusia, serta berhati-hati pula dalam menjalankan kekuasaannya.

Penguasa juga membutuhkan lathaif, yaitu kelembutan batin. Yakni, suatu pengalaman personal dan batin dalam mengenal Allah (ma’rifat). Kekuasaan harus dipandang dari dua sisi, lahiriah dan batiniah. Latha’if merupakan instrumen batin yang mengantarkan para penguasa untuk selalu bertindak sesuai dengan kehendak Allah (ma’rifat). Karena sifatnya yang immateri, tingkatan batin manusia itu berjenjang dalam tahapan-tahapan atau yang disebut maqam. Setiap tingkatan yang ada merupakan salah satu pengalaman yang muncul karena terjadinya pertemuan spiritual dengan Allah. Di kalangan para sufi, cara-cara, prinsip pembagian wujud, dan istilah teknis batin (latha’if) berbeda-bda sesuai dengan hasil intensitas pendakian pengalaman spiritualnya.

Dalam melihat kekuasaan, kita perlu belajar kepada Abu Mahfudz Ma’ruf al-Karkhi, seorang sufi besar pada masa klasik. Menurutnya, kehidupan yang hakiki adalah kepedulian terhadap yang hakikat dan berpaling dari kepalsuan. Maka, segala rupa kekuasaan lahiriah membutuhkan kejujuran, profesionalitas, dan berorientasi kemaslahatan secara luas dan berdimensi luas. Dalam konteks ini, kita dapat memperhatikan pribadi-pribadi sempurna, seperti Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Dinasti Umayyah. Dia layak disebut sufi. Dia adalah seorang pemimpin negara berkualitas yang berhasil menjadikan kekuasaannya sangat bermakna bagi kehidupan. Di tangannyalah kekuasaan dipersembahkan untuk membangun cita-cita kemanusiaan yang berdimensi luas.

Kenyataan ini bukanlah sesuatu yang ganjil sepanjang penguasa mampu menjaga secara proporsional keseimbangan antara ilmu, amal, dan kebersihan hati (atau tashfiyatul qalb). Sebagaimana dinyatakan dalam Alquran : “Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Alquran itulah yang hak dari Tuhanmu, lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (Q.S. al-Hajj : 54).

Kekuasaan menjadi berharga apabila memberikan implikasi yang baik dan positif bagi masyarakat secara luas, baik dari sisi lahiriah maupun batiniah. Di sinilah pentingnya seorang penguasa harus memperkaya batinnya dengan nilai-nilai spiritualitas sehingga muncul keseimbangan antara orientasi fisik dan metafisik. Sebaliknya, kekuasaan menjadi sesuatu yang nista dan tak bernilai apabila hanya menimbulkan kerusakan alam semesta dan konflik antarumat manusia.

Walhasil, kekuasaan materi masih belum cukup jika tidak diimbangi dengan kekuasaan spiritual. Kekuasaan materi dan spiritual akan mampu mewujudkan perubahan secara damai. Ia bekerja dari ruh ke ruh, dari hati ke hati, dan juga tepat sasaran. Jika kekuasaaan spiritual mampu mewarnai perjalanan umat manusia negeri ini, niscaya berbagai persoalan bangsa akan berakhir secara damai dan manusia akan mencapai titik puncak peradabannya. (cr/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL