mmahrus aliUstadz Muhammad Mahrus Ali B.Sc*

Dulu, waktu saya masih baru di pesantren, kawan sekaligus guru saya pernah mengajak saya untuk ikut atau lebih tepatnya mendengarkan diskusi beliau dan kawan-kawannya di Kamar Gubuk Madura (KAGUM) PP HMC. Saya masih ingat, dalam makalahnya beliau menulis seperti ini: ‘’Orang-orang di luar sana sudah pergi ke bulan. Sementara kita di sini masih sibuk mencari asalnya lafadz Shana(صان)’’.

Waktu itu, saya bilang pada beliau, “Kalau untuk tingkat dasar dimanapun ya sama saja. Bedanya, kalau mereka belajar 1+1=2, tapi kalau di pesantren ya belajar Shaana ashluwu shawana ala wazni fa’ala. Ubdilat alwawu alifan litaharrukiha wa infitahi ma qablaha fa shaara Shana (lafad Shoona asalnya adalah lafadz Showana mengikuti wazan fa’ala. Wawu diganti menjadi alif karena ia berharakat dan terletak setelah harakat fathah maka lafad showana tersebut menjadi lafad shona).

Setelah saya mengaji tentang jihad di dalam Islam, saya mendapat kesimpulan terutama dari keterangan-keterangan ulama’ kontemporer, seperti almarhum Syekh al Buthi di dalam ‘’al Jihad Kaifa Nafhamuhu wa Numarisuhu’’ , Syekh al Zuhaili dalam ‘’Atsaar al Harb fi al Fiqh al Islami’’ dll., bahwa jihad dengan perang dalam Islam tidak bisa dipahami sebagai upaya penganiaan dan pemaksaan terhadap non Muslim. Sebab QS al Baqarah: 256 dengan tegas menyatakan, “Tidak ada paksaan dalam agama’’.

Mayoritas ulama’ juga sepakat bahwa motif peperangan dalam Islam bukanlah kekufuran. Akan tetapi kezaliman non muslin terhadap dakwah Islam, baik kezaliman yang sedang terjadi maupun yang diyakini akan terjadi (al ‘Udwan al Waaqi’ aw al Mutawaqqa’). Oleh karenanya, dalam peperangan, Islam sangat melarang pembunuhan anak-anak kecil dan perempuan. Seandainya motif peperangan dalam Islam adalah kekufuran, tentu saja mereka boleh dibunuh. Namun kenyataannya, Islam melarang tindakan tersebut. Mereka menolak pandangan yang mengatakan bahwa ayat pedang telah menghapus puluhan ayat toleran, termasuk ayat 256 al Baqarah di atas.

Kalau ditinjau secara bahasa, ayat tersebut berbentuk ‘’kalam khobar’’ atau kalimat berita. Dalam ilmu ushul fikih dijelaskan bahwa kalam khobar tidak mungkin dihapus (di-naskh). Sebab, terjadinya naskh dalam kalam khobar akan berarti kalam khobar yang di-naskh adalah dusta dan ini tidak mungkin bagi Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak mungkin pada awalnya Allah menginformasikan tidak ada paksaan dalam agama, namun kemudian informasi tersebut Dia batalkan. Ayat tersebut juga tidak bisa dimasukkan dalam kalam khobar yang bermakna insya’ (kalimat berita bermakna larangan). Sebab ayat tersebut akan berarti melarang sesuatu yang meski tidak dilarang pun tak mungkin tercapai. Karena, keimanan merupakan keyakinan yang tak mungkin bisa dipaksakan.

Namun kesimpulan ini, seolah terasa isykal (bermasalah) ketika dihadapkan pada hadits Ibn Umar bahwa Rasulullah bersabda,

أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة. فإ ذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءهم وأموالهم إلا بحق الإسلام وحسابهم على الله تعالى.

Sebagian orang memahami hadits ini menunjukkan orang muslim diperintahkan agar memerangi dan memaksa non muslim masuk Islam. Namun, pemahaman seperti ini tidak akan terjadi pada orang yang belajar ilmu Shorof dimasa kecilnya. Karena inilah maka masalah ini memiliki kaitan erat dengan cerita saya diatas dan mengingatkan saya pada kawan sekaligus guru saya itu. Dalam hadits ini kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai lafadz(أقاتل) bukan lafadz (أقتل). Orang yang belajar Shorof pasti tahu kalau Lafadz(أقاتل) sangat berbeda dengan lafadz (أقتل). Di dalam kitab tashrifnya mbah kyai Muhamad Ma’sum dikatakan begini:

……………………………ينقل الثلاثي إلى وزن فاعل بزيادة الآلف بعد الفاء للمشاركة بين اثنين

Dengan demikian, lafadz (أقاتل) menunjukkan makna perlawanan dari kedua pihak. Bahkan ia hanya bisa dipakai untuk menunjuk makna perlawanan dari pihak kedua terhadap pihak pertama yang hendak melakukan pembunuhan. Jadi seseorang bisa disebut مقاتل jika dia melakukan perlawanan terhadap orang yang menyerang atau merencanakan penyerangan. Sementara orang yang melakukan penyerangan terlebih dahulu tidak bisa disebut (مقاتل ) tetapi disebut (قاتل). Hal ini karena makna ‘musyarakah’ (timbal-balik) tersebut tidak timbul kecuali ketika bangkitnya pihak kedua untuk melakukan perlawanan dan pembelaan diri.

Dari keterangan ini, maka tidak ada kontradiksi antara hadits Ibn Umar tersebut dengan kesimpulan di atas. Sebab, hadits tersebut bermakna: ‘’Saya diperintahkan untuk membentengi dakwah Islam dan melawan segala tindakan kezaliman terhadapnya. Dan apabila perlawanan tersebut hanya bisa dilakukan dengan memerangi orang2 yang berbuat zalim maka ia merupakan keharusan yang tak dapat dihindari.’’

Di dalam Fath al Bari, Ibn Hajar al ‘Asqalani berkata,

…وعلى هذا ففي الاستدلال بهذا الحديث على قتل تارك الصلاة نظر، للفرق بين صيغتي أقاتل وأقتل والله أعلم. وقد أطنب ابن دقيق العيد في شرح العمدة في الإنكار على من استدل بهذا الحديث على ذلك وقال لا يلزم من إباحة المقاتلة إباحة القتل؛ لأن المقاتلة مفاعلة تستلزم وقوع القتال بين الجانبين.

Walhasil, belajar ilmu shorof itu ternyata amat penting sekali. Orang yang tidak paham ilmu shorof tidak boleh menafsiri al-Quran dan al-Hadits.

*alumnus Universitas Al-Ahgaff, Yaman

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL