makam Imam Husein di Karbala

Oleh: Rosmadewi Muhammad

“Imam Husein adalah hati nurani agama.”

(Antoine Bara)

“Sabar itu ada batasnya,” demikian perkataan yang sering kita dengar untuk menjustifikasi kemarahan atau sikap ketidaksabaran seseorang. Benarkah demikian?

Sebelum kita membahasnya, marilah kita sadari bersama bahwa seorang muslim dalam rentang  hidup dan kehidupannya akan selalu berpegang teguh pada Al Quran dan meyakini bahwa Kitab Suci inilah yang akan memberikan jalan keselamatan bagi kehidupan fana ini dan membawa dampak dahsyat bagi kehidupan di akhirat kelak.

Kehidupan yang tidak kekal di bumi ini akan mengalami proses panjang antara bahagia dan derita yang silih berganti. Kita akan berjalan dalam ketetapan takdir yang tanpa tawar-menawar. Tentu, ada kesempatan untuk ‘bernegosiasi’ dengan takdir, misalnya melalui berdoa. Namun doa pun terkadang terasa mudah mengucapkannya tapi amat sulit menanti jawabannya dengan kesabaran.

Seorang hamba yang masih pada level ‘awam’  biasanya jika derita datang sulit mencerna kata ‘sabar’. Saat musibah atau cobaan datang, ia seakan terpelanting ke jurang yang dalam, merasa sendirian, menderita, dan hanya berteman dengan air mata dan kerisauan.

Kata ‘sabar’ bisa kita temukan bertebaran dalam tadarus harian Al Quran. Namun ketika kata tersebut harus disematkan ke dalam aliran darah dan jasad saat kita terperangah mendapatkan mushibah, banyak sekali orang, termasuk saya, yang tergagap-gagap dan bahkan tak mampu memaknainya.

Allamah Faqih Imani dalam menjelaskan makna ‘sabar’ dalam salah satu uraian pada Tafsir Nurul Quran,  menuliskan bahwa kata tersebut  bermakna ‘menjalani kondisi asing dengan tanpa keluh-kesah dengan iringan ridha dan ikhlas pada-Nya’. Sabar juga bermakna shaum (puasa),  sehingga secara pribadi penulis mengimplementasikan sabar dengan cara melakukan shaum, dan penulis merasakan bahwa saat banyak persoalan membelit kehidupan, shaum memang  cara yang terbaik untuk menghadapinya.  Insya Allah dengan ijin-Nya, persoalan akan terurai dan diringankan.

Allamah Faqih Imani memaknai ‘sabar’ pada jajaran yang paling puncak adalah ‘perang suci’.   Tentu saja bagi umat yang awam sulit sekali menjangkau makna sabar dikaitkan dengan kata berperang dan kita akan berfikir dalam ayat sabar ini, siapa yang dimaksud? Buat orang awam, berperang di jalan Allah (perang suci) akan memunculkan kegalauan: dimana, melawan siapa, dengan cara apa, dalam kondisi apa?

Akan tetapi, mari kita telaah dengan bantuan kitab tafsir, siapakah yang dimaksud ‘manusia dengan kesabaran paling puncak’ itu?  Minimalnya, ada tiga ayat tentang sabar yang bisa kita tafakuri bersama, untuk melihat  siapa figur  yang cocok bagi ayat-ayat ini.

  1. Ali Imran (3) : 200

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya :

“Hai orang – orang yang beriman,  sabarlah kamu dan teguhkanlah kesabaranmu (dalam menghadapi musuh)  dan bersiapsiagalah (untuk berperang) dan taqwalah kepada Allah agar kamu memperoleh kejayaan.”

2.  Al Baqarah (2) : 155

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh Kami akan mencoba kamu dengan sesuatu dari ketakutan,  kelaparan, kekurangan harta,  jiwa dan buah-buahan; sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

 

3. Al Furqon (25) : 75

أُولَٰئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا

“Mereka itulah yang akan dibalas dengan derajat yang tinggi dengan sebab kesabaran mereka,  dan mereka disambut di dalamnya dengan penghormatan dan keselamatan.”

Allahu Akbar… Dari ketiga ayat ini, terlihat parameter kesabaran level super adalah bersiap siaga untuk perang, menghadapi ketakutan dan kelaparan, serta terancam jiwanya. Adakah kita,manusia awam, sudah menghadapi kesulitan sebesar itu? Siapakah makhluk yang sanggup tabah dan sabar bersikukuh menjalani takdir derita dan kesulitan kemudian ia berhasil  sukses dengan kejayaan abadi yang sifatnya bukan materi?

Menjelang tibanya bulan Muharam ini, sebagian kaum muslimin akan teringat pada sosok Al Husain alaihissalam, cucu Baginda Nabi, Muhammad Rasulullah SAW.  Kisah tentang perjuangan dan derita hidupnya banyak ditulis dalam puisi, hikayat, lagu, dan berbagai media sastra lokal Nusantara. Misalnya, lagu Aceh berbunyi ‘Hasan ngon Husen cucoe di Nabi  (Hasan dan Husain cucu Nabi) / Aneuk bak Siti Fatimah Zuhra  (Anak dari Siti Fatimah Az-Zahra) / Syahid di Husen teuma dalam prang  (Mati syahid Hasan di dalam perang) / Syahid di Hasan inong brie tuba (Mati syahid Husen diracun istri). Beberapa tradisi Nusantara pun terinspirasi dari kisah Imam Husain, misalnya tradisi Oyak Tabuik di Pariaman (Sumatera Barat) dan ritual bulan Suro (Asyura/10 hari awal bulan Muharam) di Jawa.

Berbagai ritual penghormatan yang mendalam bagi Imam Husein, yang dilakukan umat manusia (termasuk non Muslim), dari berbagai mazhab, dan suku bangsa, menunjukkan apa yang diistilahkan Annemarie Schimmel dalam salah satu tulisannya, “Yang kematiannya menjamin kembali kehidupan.”  Maksudnya, kematian Imam Husein justru memunculkan banyak kehidupan baru sebagai hasil dari pemaknaan dan penghormataan atas perjuangannya. Bentuk penghormatan yang paling sederhana dan mengakar masih banyak dilakukan di kampung-kampung, yaitu membuat bubur dua warna di bulan Muharam.

Kini pertanyaannya, seperti apakah kesabaran yang ditunjukkan Imam Husain sehingga sepanjang masa perjuangannya masih dikenang sebagian umat manusia di berbagai penjuru dunia?

Imam Husain dan Perjalanan Menuju Karbala

Imam Husein adalah putera kedua pasangan Imam Ali dan Fathimah Az-Zahra. Berdasarkan berbagai  pendapat yang masyhur, cucu Nabi Agung ini dilahirkan di kota Madinah pada tanggal 3 Sya’ban 4 H.

Ayah Imam Husein adalah menantu Rasulullah yang sangat tinggi ilmunya. Rasulullah pernah bersabda, ‘Ana madinatul ilm wa ‘Aliyyun bãbuhã faman arôdal madînah,  fal yãtîha  mîm bãbîhã”   (Akulah kota ilmu dan Ali adalah pintunya; maka siapa yang ingin mendapatkan ilmuku,  datanglah dari pintunya).  Demikian pula sang Bunda, Fathimah Az-Zahra, adalah wanita yang sangat mulia,  memiliki ketinggian ilmu, dan sangat dermawan.

Silsilah keluarga Imam Husein adalah silsilah cemerlan, sumber cahaya ilmu dan kemuliaan yang tidak pernah padam selalu cemerlang,  mulai dari kakek, ayahnya,  dan ibundanya. Shalawat dan salam atas Nabi Agung Muhammad SAW serta seluruh  keluarganya yang suci lagi mulia.

Pada tahun 60 Hijriah, ketika Rasulullah sudah wafat; saat para khulafa’ur rasyidin telah menghadap ke haribaan Allah SWT, ketika pemerintahan berada di tangan seseorang yang bernama Yazid bin Muawiyah, Imam Husein memulai sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran level super.

Perjalanan itu dilakukan setelah penduduk Irak mengirimkan surat kepada Imam Husein, sebanyak lima ratus lembar surat lebih. Isinya, mereka meminta Imam Husein agar menjadi pemimpin mereka, karena mereka tidak mau dipimpin oleh Yazid yang dikenal berakhlak sangat buruk, jauh dari nilai-nilai Islam.

Imam Husein pun memulai perjuangan untuk menyelamatkan akidah umat, karena sungguh bahaya besar bila umat Islam dipimpin oleh orang yang secara terang-terangan melanggar ajaran Islam.

Dari kota Madinah Imam Husein berangkat pada 3 Syaban 60 H menuju Makkah yang berjarak   sekitar 450,9 km. Pada masa kini jarak itu ditempuh dengan bis cepat hanya sekitar 4 jam. Bagi sebagian besar jamaah haji yang sudah agak sepuh, jarak 4 jam itupun sudah terasa amat melelahkan.  Selama dalam perjalanan, kita akan merasakan gersangnya kota jika dibandingkan dengan semua wilayah yang ada di Indonesia yang penuh pepohonan hijau dimana-mana. Namun, jamaah haji zaman kini merasakan kenyamanan karena bis-bis dilengkapi AC serta perbekalan makanan yang cukup.

Tapi, mari kita bayangkan situasinya sekitar 1379 tahun yang lalu. Imam Husein melakukan perjalanan panjang tanpa kenyamanan dan fasilitas mewah seperti zaman kini.  Musa Kazhim dalam  tulisannya “Rahasia Waktu dan Tempat Kesyahidan Itu” menceritakan bahwa Imam Husain tinggal di Makkah lebih kurang selama empat bulan (sejak 3 sya’ban – 8 Dzulhijjah  60 H)

Selama di Makkah, beliau berjumpa dengan ribuan kaum muslim dari berbagai penjuru,   menyampaikan tausiah dan menjelaskan tentang falsafah gerakan perlawanan. Beliau juga menelusuri kebenaran surat-surat yang datang dari penduduk Irak, benarkah rakyat Irak siap berperang suci melawan kezaliman? Untuk itu, Imam Husein mengirim sepupunya, Muslim bin Aqil ke Irak, untuk melakukan semacam penyelidikan. Namun, akhirnya Muslim gugur syahid karena dibunuh oleh Ubaidullah, salah seorang penduduk Kufah (Irak).

Di dalam situasi yang genting dan berbahaya (karena pastilah kedatangan Imam Husein ke Irak akan dihadapi dengan keras oleh Yazid dan pasukannya), banyak sahabat Rasulullah  yang menasihati cucu Nabi ini agar mengurungkan niat  menuju Kufah dengan berbagai alasan. Akan tetapi Imam Husein as tidak membatalkan niatnya untuk melakukan gerakan menumpas kezaliman Yazid. Akan tetapi Imam Husein sangat memahami bahwa gerakannya adalah menegakkan akidah yang telah diperjuangkan oleh datuknya, Nabi Muhammad SAW, sehingga nyawa pun akan dikorbankannya.

Akhirnya, pada 8 Dzulhijjah tahun 60 H, tanpa menyelasaikan ibadah haji;  seusai melaksanakan thawaf, dirangkaikan dengan sa’i  antara Safa’ dan Marwah,  Imam Husein pun memulai perjalanan ke Irak. Saat perpisahan dengan seluruh jamaah dan pengikutnya yang tengah berhaji as. Ima Husein mengungkapkan:

“Aku bisa melihat serigala -serigala padang pasir Irak menyerangku di antara Nainawa dan Karbala dan merobek-robek tubuhku.  Mereka melakukannya demi memenuhi kantong-kantong harta  mereka.  Urusan mereka adalah memuaskan kerakusan,  sedangkan urusanku adalah melawan kerusakan dalam masyarakat dan agama ini.  Allah telah memilih kesyahidanku sebagai penyembuh dan jalan perbaikan keadaan…hanya orang yang siap mengorbankan nyawanya di jalan Allah yang akan menemaniku.”

Perjalanan menuju Irak ditempuh sekitar lebih kurang dua puluh lima hari.  Imam Husein sampai di Karbala pada 2 Muharam 60 H setelah melewati 14 tempat,  dimana disetiap tempat beliau berjumpa dengan tokoh lokal, berbincang dan memberikan tausiah. Di Karbala, Imam Husein dan rombongannya dicegat oleh ribuan tentara. Selama berhari-hari mereka dilarang meminum air di sungai Furat. Dalam kelaparan dan kehausan yang amat sangat, Imam Husein, para putranya, saudaranya, dan para sahabatnya bertempur melawan ribuan tentara bengis. Sungguh berat menceritakan bagaimana pembantaian yang terjadi hari itu terhadap cucu kesayangan Nabi Muhammad ini.

Bila masih ada yang mengatakan bahwa ‘sabar itu ada batasnya’, mungkin perlu membayangkan lagi kejadian ini. Bayangkanlah perjalanan amat berat, lama, dan di tengah berbagai keterbatasan; perjalanan yang sudah diketahui ujungnya, yaitu kematian. Bayangkanlah hari-hari berat tanpa makanan dan air, dipenuhi kematian orang-orang yang dicintai.

Rasanya, tidak mungkin bagi kita manusia biasa untuk mencapai kesabaran yang super seperti itu. Tidak akan ada kesabaran yang menandingi kesabaran Imam Husein yang menembus jalan kesyahidan menjemput suksesi keabadian. Namun, setidaknya, kita bisa meneladani sepersekian persennya, agar tak lemah dalam menghadapi kesulitan hidup di masa modern ini. (LiputanIslam.com)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*