zakatfitrahMenurut mazhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali, zakat fitrah hukumnya wajib atas setiap Muslim yang mampu, baik tua maupun muda. Karena itu, wali bagi anak-anak dan orang gila wajib mengeluarkan hartanya serta memberikannya kepada orang fakir. Sedikit berbeda mazhab Ja’fari  menyatakan zakat fitrah ini diwajibkan kepada orang yang baligh, berakal dan mampu. Maka harta anak kecil dan orang gila tidak wajib dizakati, karena Rasulullah saw bersabda, “Tiga orang terbebas dari ketentuan hukum : anak-anak hingga baligh, orang tidur hingga dia bangun, dan orang gila hingga ia sadar”.

Begitu pula, dalam ukuran mampu ini para ulama berbeda pendapat. Mazhab Hanafi menyatakan bahwa orang yang mampu adalah orang yang mempunyai harta cukup nishab yag wajib dizakati, dan nilainya melebihi keperluan hidupnya. Sedangkan Maliki, Syafi’i, dan Hanbali mengatakan yang dimaksud orang yang mampu adalah orang yang memiliki persediaan makanan pokok melebihi keperluan dirinya sendiri dan keluarganya selama satu hari satu malam di hari raya Idul Fitri di luar keperluannya akan tempat tinggal, pakaian dan berbagai perlengkapan, pelayan dan sebagainya. Para ahli fikih mazhab Maliki menambahkan bahwa seorang juga dianggap mampu jika dapat meminjam dan merasa mampu melunasinya.

Dengan syarat menurut Maliki, Syafi’i, dan Hanbali—yakni setiap orang yang memiliki kelebihan dari kebutuhan makanannya untuk satu hari satu malam—maka hampir setiap orang Muslim, meskipun secara umum tergolong miskin, tetap wajib mengeluarkan zakat fitrah. Tentu saja ini memiliki hikmah dan tujuan, agar setiap Muslim termasuk yang disebut miskin ikut merasakan kebahagiaan memberi, walaupun hanya satu kali dalam setahun; dan bukan hanya menjadi penerima sepanjang tahun. Dengan begitu, ia terdorong untuk berusaha keras, sehingga pada suatu hari kelak, ia mengalahkan kemiskinannya. Hal ini bersesuaian dengan salah satu sabda Nabi saw, “Tangan yang di atas (yakni yang memberi) lebih utama daripada tangan yang dibawah (yakni yang menerima).”

Adapun mazhab Ja’fari memuat kriteria orang yang mampu adalah orang yang mempunyai belanja satu tahun untuk dirinya dan keluarganya, baik secara aktual saat itu (bil fi’l) ataupun secara potensial di masa mendatang (bil quwwah) dengan syarat, dia memiliki sesuatu yang dapat menghasilkan atau pekerjaan yang dapat memberikan penghasilan. Dengan begitu, menurut mazhab Ja’fari, tidak wajib megeluarkan zakat bagi budak dan orang fakir yang tidak mempunyai belanja satu tahun, baik secara aktual maupun potensial.

Jadi, seorang Muslim yang memenuhi persyaratan tersebut—sesuai mazhabnya masing-masing—diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah atas nama dirinya sendiri serta atas nama setiap anggota keluarga yang menjadi tanggungannya. Masalahnya, siapa saja anggota keluarga yang dimaksud yang wajib ditanggung zakat fitrahya?

Menurut mazhab Hanafi, yang dimaksud dengan anggota keluarga yang ditanggung fitrahnya adalah anaknya yang masih anak-anak, anaknya yang sudah dewasa tetapi gila, dan pembantunya. Adapun anak yang sudah dewasa dan berakal tidak menjadi tanggungan ayahnya lagi untuk membayarkan zakat fitrahnya, begitu pula isteri tidak menjadi tanggungan suaminya.

Menurut mazhab Maliki yang dimaksud dengan orang yang ditanggung adalah kedua orang tua yang fakir, isteri, anak-anak lelaki yang tidak memiliki harta hingga mampu bekerja, anak-anak perempuan yang fakir hingga bersuami. Sedangkan menurut mazhab Syafi’i dan Hanbali yang dimaksud degan orang yang dinafkahi adalah setiap orang yang dibawah tanggungannya seperti ayah, isteri dan anaknya, serta pembantunya.

Adapun menurut mazhab Ja’fari seseorang wajib mengeluarkan zakat fitrah semua orang yang berada dalam tanggungjawabnya ketika masuk malam hari raya, tidak ada perbedaan apakah mereka dalam kewajiban tanggungan nafkahnya atau tidak, anak-anak atau dewasa, bahkan bayi yang lahir diakhir ramadhan sebelum maghrib, baik keluarga dekat atau jauh, bahkan tamu yang datang ke rumahnya sebelum masuk waktu maghrib sehingga malam itu menjadi anggota keluarganya, maka semuanya wajib ditanggung zakat fitrahnya oleh tuan rumah. Tetapi jika kehadirannya setelah maghrib, maka gugurlah kewajiban tuan rumah. Karena itu, maka setiap orang yang kewajiban mengeluarkan zakat fitrahnya menjadi tanggungan orang lain, maka gugur pula kewajibannya mengeluarkan zakat fitrah bagi dirinya, meskipun dia orang kaya. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL