“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya”

(Q.S. al-Syam: 9)

Sesungguhnya beruntunglah orang yag memersihkan diri da dia ingat nama Tuhannya, lalu dia salat” (Q.S. al-A’la: 14-15)

zakat1Beberapa hari lagi ramadhan berakhir dan umat Islam akan merayakan hari raya Idul Fitri atau yang populer dengan istilah lebaran. Tentu saja saat ini kita disibukkan dengan mencari berbagai kebutuhan untuk meyambutnya, mulai dari persiapan pakaian, makanan dan minuman, hingga mudik menuju kampung halaman. Semua itu mungkin kebaikan dan tanda gembira menyambut hari kemenangan. Namun janganlah berbagai kesibukan itu melupakan kita pada kewajiban pasca ramadhan yaitu mensucikan diri dengan membayar zakat fitrah di malam takbiran. Untuk itu, sekedar mengingatkan kembali, pada kesempatan ini, akan diulas seputar hukum zakat fitrah dari perspektif lintas mazhab. Karena kita menyadari kemajemukan masyarakat Indonesia dalam organisai keagamaan dan mazhab anutan. Semoga menambah wawasan kita semua dalam melaksanakan ajaran agama.

Kata zakat berasal dari zaka yang berarti tumbuh, subur, berkah, suci, dan penuh kebaikan. Hal ini dikarenakan, jika seseorang mengeluarkan hartanya untuk berzakat, maka sisa hartanya akan selalu bertumbuh dan bertambah sebagaimana difirmankan Allah, “Dan apa yang kalian berikan berupa zakat yang kalian maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan pahalanya” (Q.S. al-Rum: 39). Begitu  pula zakat merupakan sarana penyucian jiwa manusia sebagaimana disebutkan Alquran, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka” (Q.S. at-Taubah: 103). Jadi, zakat akan menyebabkab keberkahan dan kebaikan pada harta dan jiwa yang mana diharapkan dapat menyuburkan sifat kebaikan yang bersemayam dalam hati nurani seseorang, sehingga membuatnya dapat merasakan penderitaan orang lain, dan karenanya ia terdorong untuk membantu mereka dengan penuh keikhlasan hati.

Adapun secara terminologis, menurut syariat Islam yang dimaksud dengan zakat adalah sejumlah harta yang wajib dikeluarkan dengan syarat-syarat tertentu untuk diberikan kepada orang yang berhak menerimanya. Di dalam Alquran zakat disebutkan sekitar tiga puluh dua kali dan sering digandengkan dengan kewajiban salat, “…dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (Q.S. al-Baqarah: 43); “Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Rasul, agar kamu diberi rahmat” (Q.S. an-Nur : 56).

Zakat ini merupakan salah satu dari rukun Islam yang merupakan kewajiban pokok dalam Islam yang jika mengingkarinya dapat menjatuhkan diri pada kekafiran. Allah mengancam orang-orang yang enggan membayar zakat dengan siksa yang pedih, “Orang-orang yang menimbun emas dan perak, dan tidak menafkahkan (sebagian)-nya di jalan Allah, maka ‘gembirakanlah’ mereka degan siksa yang amat pedih; pada hari ketika emas dan perak itu dipanaskan di neraka jahanam, lalu dibakar dengannya dahi, lambung, dan punggung mereka. Inilah apa yang kamu timbun untuk dirimu sendiri; rasakanlah sekarang akibat timbunan kamu itu” (Q.S. at-Taubah : 34-35)

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang Allah karuniakan kepadanya harta, lalu ia tidak menunaikan zakatnya, maka kelak pada hati kiamat, hartanya itu akan dirupakan baginya sebagai seekor ular besar yang penuh dengan racun mematikan; di atas matanya ada dua titik hitam yang mengerikan. Lalu ular itu akan melilit tubuh orang itu dengan kuatnya, mencengkeram kedua rahangnya da menegakkan kepalanya di hadapan wajahnya seraya berkata, ‘Akulah harta yang kausimpan! Akulah harta yang kau timbun!…” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dalam hukum Islam, zakat terdiri dari dua jenis. Pertama, zakat harta (zakat mal) yaitu harta jenis tertentu seperti emas, perak, hewan ternak, hasil pertanian, yang dikeluarkan jika telah mencapai jumlah (nishab) dan waktu (haul) tertentu. Kedua, zakat badan (zakat fitrah) yaitu harta yang dikeluarkan setelah melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Dan pada kesempatan ini, kita hanya akan mengulas tentang zakat fitrah.

Suatu hal yang menarik, mirip dengan puasa, zakat juga ternyata pada dasarnya adalah kewajiban yang bukan hanya diperintahkan kepada umat Islam, tetapi juga kepada umat-umat sebelum Islam. Hal ini diinformasikan Alquran saat mengisahkan tetang Nabi Isa as dengan mengatakan, “Dan memerintahkan kepadaku mendirikan salat dan menunaikan zakat selama aku hidup” (Q.S. Maryam: 31).  (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL