alquranAda yang selalu menarik dan begitu uni dalam memperbincangkan Alquran. Hal ini bukan saja terkait dengan pengalaman-pengalaman ruhaniah yang diperoleh orang-orang yang serius membacanya, tetapi juga seringkali berhubungan dengan inspirasi yang menyentak bagi individu-indivdu tertentu sehingga bisa memainkan peran penting dalam sejarah kemanusiaan. Terjadi semacam kontak intelektual dan spiritual ketika orang menyelami Alquran, sehingga memberikan visi dan elan vital untuk mengaktualisasikannya dalam realitas sosial-kemanusiaan.

Itu semua terjadi karena Alquran dibaca secara sungguh-sungguh. Bukan sekedar membaca—dalam arti hanya mengeja huruf atau merangkai kata dengan alunan suara yang merdu, tetapi menggali pemaknaan dan pemahaman yang selalu bersinggungan atau berinteraksi dengan lingkungan sosial. Karena sebagai bacaan, sebagaimana arti harfiah Alquran itu sendiri, akan kehilangan fungsi dan kegunaannya bila Alquran tidak dibaca dengan sungguh-sungguh berikut dengan konsekuensi logisnya.

Dengan kata lain, yang mendesak dilakukan itu adalah sebuah pembacaan yang produktif atau qiraat al-muntijah, meminjam istilah Mohammed Arkoun, dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk umat manusia. Jadi, membaca tidak sekedar untuk dinikmati sendiri atau menjadi bagian seni suara saja yang biasa dilombakan.

Alquran dan Respon Umat

Posisi Alquran menjadi begitu penting  dan bermakna, karena ia tidak mungkin dipisahkan dari keberagamaan umat Islam dan keyakinannya kepada Allah swt. Secara menggugah, Dawam rahardjo—dengan mengutip pendapat Khurshid Ahmad—mengemukakan sebuah tesis yang argumentatif. “Keunikan Islam itu terletak pada kenyataan, bahwa agama ini mendasarkan diri pada sebuah Kitab, yaitu Alquran. Demikian pula dengan umatnya.” Jika Islam, sebagai agama yang bersumber pada Alquran, dan kehidupan umatnya juga bersumber pada Alquran, maka kita melihat hubungan segitiga: Alquran—Agama—Umat. Itu berarti : identitas, personalitas historis, kebudayaan dan peradaban kaum Muslim itu, berasal dan dibentuk oleh Alquran.

Argumentasi tadi semakin mempertegas bahwa Alquran itu untuk manusia, dan manusia juga dibebani tugas atau kewajiban untuk memanifestasikan perintah-perintah Tuhan. Suatu hubungan yang luar biasa dan memberikan pengaruh hebat bagi kehidupan manusia. Namun dalam kenyataannya, tidak semua umat Islam menyadari hubungan segitiga ini berikut dengan konsekuensi-konsekuensinya. Walhasil, kondisi seperti ini pula yang ikut mempengaruhi perbedaan resposn umat islam terhadap Alquran.

Secara garis besar, paling tidak, ada tiga bentuk respons umat Islam terhadap posisi Alquran yang demikian rupa itu. Pertama, mengimani dan meyakini kebenaran Alquran beserta fungsinya itu secara pasif. Keimanan atau keyakinan yang pasif ini ditandai dengan keadaan umat yang tidak akrab dengan Alquran. Masing-masing memiliki Kitab Suci ini, tetapi tidak pernah atau jarang sering dibukanya untuk dibaca, ditelaah, dan dieksploitasi kandungannya. Dengan kata lain, Alquran ditelantarkan oleh umat Islam.

Kedua, memuliakan dan mengagungkan Alquran secara tidak proporsional. Akibatnya, Alquran begitu sangat dihormati, dipuja-puji, dipusti-pusti, dan diletakkan di tempat yang sangat istimewa, sehingga tidak boleh dijamah oleh umat. Pendek kata, Alquran diperlakukan seperti benda keramat atau senjata pusaka. Sehingga, hampir mirip dengan tipe yang pertama, Alquran menjadi tidak tersentuh dan tidak difungsikan sebagaimana mestinya.

Ketiga, menggunakan Alquran secara tidak wajar dan tidak terhormat. Tipe umat ini biasanya suka memanipulasi ayat-ayat Alquran untuk kepentingan-kepentingan yang menyalahi prinsip-prinsip ajaran Alquran. Di tangan umat seperti ini, Alquran tidak ubahnya seperti buku mantera atau kitab sihir. Ayat-ayat Alquran kemudian dijadikan sebagai aji-aji, jampi-jampi, atau mantra-mantra yang berkekuatan gaib-mistik. Sebagai contoh, lihat saja di film-film atau sinetron, ayat suci Alquran hanya berfungsi untuk mengusir hantu atau melawan memedi.

Membumikan Alquran

Bagi umat Islam, seperti telah disinggung tadi, pada dasarnya Alquran tidak bisa dipisahkan dari aktivitas hidupnya sehari-hari. Bisa dikatakan, Alquran itu menjadi bagian intrinsik dari keberagamaannya yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Namun, yang menjadi persoalannya adalah umat jangan sampai terus menerus  terjebak dalam memperlakukan atau memfungsikan Alquran secara tidak wajar dan tidak sebagaimana mestinya. Bila tetap seperti itu, tentu saja, kondisi tersebut sangat memprihatinkan. Karena, bagaimana bisa sebuah kitab suci diperlakukan secara manipulatif dan “diperkosa” untuk kepentingan sesat manusia.

Harus ada suatu gerakan yang bisa membebaskan  Alquran dari perbudakan manusia yang semena-mena seperti tadi, dan sekaligus memerdekakan manusia dari kekeliruan asumsi dan praktek keagamaan dalam memfungsikannya secara tidak wajar itu. Hal ini menjadi agenda yang urgen dan penting untuk segera direalisasikan, karena terkait dengan fungsi Alquran itu sendiri sebagai petunjuk (hudan) dan kriterium pembeda (furqan) bagi umat manusia. Untuk mewujudkan fungsi-fungsi Alquran itu, maka proses pendidikan dan pendewasaan kesadaran umat tidak bisa lagi diabaikan.

Satu hal yang perlu digariskan adalah Alquran diturunkan ke bumi pada bulan ramadhan adalah untuk kepentingan umat manusia, bukan untuk kepentingan Tuhan. Karena itu, logika dari “ketika Alquran turun ke bumi” adalah agar Alquran itu harus terus membumi dan dapat di manifestasikan untuk kemaslahatan dan kesejahteraan hidup umat manusia. Alquran yang suci jangan lagi dibuat melangit dan mengawang-awang—karena oleh Allah swt sendiri sudah diturunkan ke bumi—sehingga umat mengalami kesulitan untuk memahaminya dan apalagi dalam mengejewantahkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Upaya untuk membumikan Alquran ini memang bukan pekerjaan yang mudah, tetapi juga tidak mustahil untuk dilakukan. Para ulama, kaum cendekiawan, dan orang-orang yang berkompeten atau punya otoritas di bidang tafsir harus berada di garda depan. Karena terkait dengan pendidikan dan pematangan kesadaran beragama, umat jangan sampai tidak dilibatkan. Dalam konsep dan prakteknya, metode partisipatoris dan emansipatoris menjadi penting untuk diterapkan dalam mengapresiasi Kitab Suci umat Islam ini.

Mengakrabkan umat dengan Alquran dan membumikan Alquran ke tataran kehidupan manusia itu bukan saja berdimensi spiritual dan intelektual, tetapi juga memberikan visi sosial kemanusiaan untuk kemaslahatan hidup bersama. Dengan demikian motivasi dan orientasi umat dalam membaca Alquran itu bukan sekedar untuk mencari pahala saja, tetapi yang tidak kalah pentingny lagi adalah bagaimana piwulang Alquran bisa diwujudkan dalam realitas kehidupan.

Apresiasi seperti itulah yang akan menjadi bagian untuk memperteguh relasi segitiga antara Alquran—agama—ummat. Dalam naungan dan hidayah Allah swt, umat terus berupaya untuk membaca memaknai, dan mewujudkan Alquran bagi kemaslahatan hidup seluruh manusia. Dengan demikian, keabsahan beragama umat Islam semakin dapat dipertanggungjawabkan. Wallahu a’lam (hd/liputanislam.com)

*Sumber : Asep Purnam Bahtiar, The Power of Religion, Pondok Edukasi: Bantul, 2005.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL