takbir“Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Laa ilaaha Illallahu wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd”. Setiap masjid, mushalla, langgar, surau, bahkan di jalan-jalan, gema takbir terus menerus dikumandangkan membahana di angkasa menandakan masuknya lebaran. Kumandang takbir diakhir ramadhan ini merupakan salah satu anjuran agama sebagaimana difirmankan Alquran, “…Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangan (hari yang ditentukan) dan hendaklah kalian bertakbir kepada Allah atas petunjuknya kepada kalian, agar kalian bersyukur “ (Q.S. al-Baqarah : 185). Takbiran menandakan, setelah sebulan berpuasa ramadhan, maka saatnya hari ini memetik kemenangan ditandai dengan kembali pada fitrah insan dengan penuh kesucian dan dosa-dosa terhapuskan “Barangsiapa yang berpuasa dengan penuh keimanan maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” begitu sabda Nabi saw.

Takbiran berarti membesarkan Allah semata-mata, karena hanya Dia yang Maha Besar. Dengan bertakbir, Allahu Akbar, kita mengecilkan diri kita dengan penuh kesadaran. Kecantikan, kekayaan, jabatan, dan segala hal yang kita punya tak layak menjadikan diri kita bersikap sombong, angkuh dan berbangga. Karena itu dengan bertakbir, kita buang keangkuhan, kesombongan, dan kebanggaan atas seluruh hal yang kita punya itu, dan kita hanya memuji Allah dan berusaha menjadi hamba sejati yang mengabdi total kepada-Nya. Dengan takbir, kita kuburkan takabbur.

Sombong (takabbur) adalah salah satu sifat yang sangat tercela bahkan disebutkan sebagai karakter Iblis dan bentuk kekafiran , “Lalu para malaikat itu bersujud semuanya kecuali Iblis; dia menyombongkan diri dan dia termasuk golongan yang kafir” (Q.S. Shad : 73-74), dan karena kesombongannya itu, seluruh amal ibadahnya menjadi gugur.

Begitu pula Allah swt menegaskan orang yang pada dirinya terdapat kesombongan tidak layak berada di surga-Nya, “(Allah) berfirman, ‘Maka turunlah kamu darinya (surga) karea kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamya. Keluarlah! Sesungguhnya, kamu termasuk makhluk yag hina” (Q.S. al-A’raf : 13). Rasulullah saw, waktu berwasiat kepada Abu Dzar ra, beliau bersada, “Wahai Abu Dzar! Barang siapa yang meninggal sementara dalam hatinya terdapat sebesar debu kesombongan, maka dia tidak akan mencium bau surga hingga ia bertaubat sebelumnya”

Sebagai peringatan untuk kita semua, berikut ini kita kutipkan khutbah Imam Ali as di dalam Nahjul Balagah yang terkenal dengan Khutbah al-Qasi’ah (Khutbah Kritik). Dalam khutbah ini, Imam Ali ra mengkritik kesombongan Iblis yang tidak mau sujud kepada Nabi Adam as dan merasa dirinya lebih baik. Imam Ali berkata :

“Segala puji bagi Allah yang mengenakan busana Kebesaran dan Keagungan, dan yang telah memilih kebesaran dan keagungan untuk diri-Nya sendiri, bukan untuk makhluk-Nya. Dia telah menjadikan Kebesaran dan Keagungan tak dapat dijangkau dan haram bagi makhluk. Dia telah memilih Kebesaran dan Keagungan untuk diri agung-Nya sendiri, dan mengutuk orang yang menggugat atau menentang Kebesaran dan Keagungan-Nya.

Kemudian Dia menguji para malaikat-Nya dengan sifat-sifat tersebut, untuk membedakan mana yang rendah hati dan mana yang sombong. Karena itu, Allah, yang mengetahui apapun yang tersembunyi di hati dan apa pun yang tersembunyi, Dia berfirman, “…’Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya, dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku. Maka hendaklah kamu menyungkur sujud kepada-Nya. Lalu para malaikat itu bersujud semuanya kecuali Iblis; dia menyombongkan diri dan dia termasuk golongan yang kafir” (Q.S. Shad: 71-74).

Keangkuhan Iblis menjadi penghalang bagi dirinya. Iblis membanggakan penciptaan dan asal-usul dirinya yang dianggapnya lebih mulia daripada Adam. Karena itu, musuh Allah ini menjadi pemimpin dan nenek moyang bagi mereka yang menyombongkan diri. Iblislah yang menjadi peletak dasar permusuhan. Iblislah yang berani memakai pakaian keangkuhan dan melepaskan pakaian kerendahan hati. Apakah kalian tidak memperhatikan betapa Allah menghinakan Iblis karena kesombongannya dan merasa lebih baik? Allah swt mencampakkan Iblis ke dunia, dan menyiapkan baginya neraka di akhirat.

Jika Allah mau menciptakan Adam dari cahaya yang meyilaukan mata, yang keindahannya menakjubkan akal, dan yang aromanya membuat nafas tertahan, tentu Dia dapat melakukannya. Jika itu dilakukan-Nya, pasti semua makhluk akan sujud kepada Adam dengan penuh kerendahan, dan ujian melalui Adam ini tentu akan mudah bagi malaikat. Namun Allah Maha Besar menguji hamba-Nya melalui berbagai karakter yang ketat, ditambah dengan beragam ibadah yang berat, dan menguji mereka dengan beragam hal yang tidak disukainya, agar kesombongan dan bangga diri lenyap dari hati mereka, dan agar mereka memiliki kerendahan hati sehingga terbukalah pintu-pintu karunia-Nya.

Ambillah pelajaran dari tindakan Allah swt terhadap Iblis, yang mana Allah menggugurkan semua amal baik dan usahanya sepanjang enam ribu tahun menyembah Allah, dikarenakan sesaat saja ia bersikap sombong. Kini, siapa yang merasa dapat selamat dari azab Allah dengan kemaksiatannya yang seperti Iblis? Tidak ada. Allah swt tidak akan memasukkan manusia ke surga, kalau dia melakukan perbuatan yang membuat Allah membuang Iblis dari surga…

Karena itu, padamkan api kesombongan dan prasangka yang terpendam di hatimu. Keangkuhan bisa muncul pada diri seorang Muslim karena intrik, arogansi, kejahatan dan bisikan keji setan. Bulatkan tekad untuk menundukkan kepala, menginjak-injak kebanggaan diri, dan untuk mencampakkan kesombongan dari leher kalian. Jadikanlah kerendahan hati sebagai senjata antara kalian dan musuhmu, yaitu setan dan pasukannya…”

Selanjutnya Imam Ali menjelaskan obat bagi penyakit kesombongan dan keangkuhan dengan amalan-amalan yang diajarkan Islam seperti salat, zakat, puasa,  dan mencintai fakir miskin, berikut ini :

“Perangkap dan tipu daya setan ini tak pernah berhenti mencari korban dan tak pernah gagal memangsanya—baik itu orang berilmu  karena ilmunya, maupun orang fakir karena kefakiranya. Dari hal inilah Allah telah melindungi  makhluk-makhluk-Nya yang beriman melalui salat, zakat, dan puasa untuk memberikan ketentraman aggota-anggota tubuh mereka, untuk menghilangkan ketakutan yang ada di mata mereka, untuk membuat jiwa mereka rendah hati, dan untuk menghapus kesombongan dari hati mereka. Semua ini dicapai dengan jalan melumuri pipi lembut mereka dengan debu dan bersujud di atas di tanah dengan kerendahan hati, dan juga dengan jalan melaparkan perut-perut mereka karena berpuasa dengan rendah hati (kepada Allah), di samping dengan jalan memperbanyak sedekah kepada fakir-miskin.” (Nahjul Balaghah, khutbah ke-192)

Resapi dan cermatilah pernyataan-pernyataan Imam Ali di atas, agar kita jangan sampai terperdaya dengan Iblis dan terkena virus sombong, angkuh dan bangga diri. Jadikanlah momen lebaran ini, di tengah pekikan takbiran di hari fitri, untuk kita membesarkan Allah swt dan megecilkan diri kita, memuji Allah dan merendahkan diri kita. Allahu akbar wa lillahil hamd. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL