i'tikafSalah satu amalan khusus di bulan ramadhan adalah i’tikaf, yaitu tinggal atau berdiam di satu tempat tertentu dalam hal ini masjid dengan syarat-syarat tertentu. I’tikaf ini merupakan anjuran agama sebagaimana dipesankan Alquran dan sunnah Rasulullah saw. Allah berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Kami menjadikan rumah (Ka’bah) itu tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku (ini) untuk orang-orang yang melakukan tawaf, yang beriktikaf, yang rukuk, dan yang sujud.” (Q.S. al-Baqarah: 125). Sedangkan sunnah Rasulullah saw sebagaimana Anas bin Malik meriwayatkan, “Jika tiba bulan Ramadhan dan berada di Madinah, maka Rasulullah saw beriktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan jika beliau sedang bepergian (musafir), maka beliau akan melakukan i’tikaf pada tahun berikutnya selama dua puluh hari” (Kanz al-Ummal, no. 18091)

Jika kita membaca Sirah Nabawiyah, pada dasarnya i’tikaf merupakan bentuk lain dari tahannuts yang selalu dilakukan Nabi saw di Gua Hira sebelum beliau diangkat menjadi Nabi saw. Imam Bukhari meriwayatkan Siti Aisyah ra berkata, “Permulaan wahyu kepada Rasulullah adalah dengan mimpi yang benar. Beliau tidak bermimpi kecuali sesuatu muncul kepadanya seperti terangnya fajar. Kemudian beliau suka berkhalwat di gua Hira. Di sana beliau beribadah beberapa malam, dan kembali mengambil bekal secara berulang-ulang. Sampai akhirnya, wahyu datang kepada beliau ketika sedang di Gua Hira” (H.R. Bukhari). Di kalangan para sufi ajaran ini dikenal dengan uzlah dan khalwat yang mendapat porsi tersendiri.

Para pensayarah Shahih al-Bukhari, seperti Al-Qasthallani dalam Irsyad as-Sari ketika menjelaskan riwayat di atas mengatakan bahwa hadis tersebut menjelaskan keutamaan uzlah yang  berfungsi mengistirahatkan hati dari berbagai aktivitas duniawi dan berpikir tentang Allah semata, sehingga terpancar berbagai hikmah darinya. Dari jiwa dan memancar pegetahuan-pengetahuan gaib. Adapun Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadis tersebut menunjukkan rahasia khalwat yang berarti mengkonsentrasikan diri kepada Allah swt yang dilakukan selama satu bulan, dan bulan tersebut adalah bulan ramadhan. Adapun Al-Kasymiri penulis Faidh al-Bari ala Shahih al-Bukhari menegaskan bahwa menurutnya ada titik kesamanaan antara i’tikaf yang populer di kalangan fukaha dengan khalwat yang dilakukan oleh sufi. Jadi, kesimpulannya terdapat kesamaan antara i’tikaf, uzlah, dan khalwat yang dilakukan Nabi saw pra dan pasca kenabian.

Di antara syarat-syarat untuk melakukan i’tikaf itu adalah Islam, berakal, berniat karena Allah, sedang melaksanakan puasa, dilakukan di masjid dan terus menerus di dalamnya sampai selesai í’tikaf-nya. Ia tidak boleh keluar dari masjid untuk urusan-urusan duniawinya. Seperti dikisahkan  as-Syuyuthi, dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul bahwa Ibnu Jarir meriwayatkan dari Qatadah bahwa di masa Rasulullah saw ada seorang laki-laki sedang i’tikaf di masjid, tapi ia sering keluar dari masjid pulang ke rumahnya dan mencampuri isterinya padahal masih i’tikaf. Maka turunlah ayat, janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu sedang melakukan iktikaf dalam mesjid” (Q.S. al-Baqarah : 187). Dia tidak mengetahui bahwa hal tersebut akan membuat i’tikaf-nya menjadi batal. Karena itu Allah mengingatkan meskipun kamu telah dibolehkan bersetubuh di malam bulan ramadhan, tetapi jika kamu ber-i’tikaf, maka kamu tidak boleh melakukannya.

Jadi, i’tikaf mengharuskan kita konsentrasi total kepada Allah swt dengan memutuskan hubungan dengan manusia. Sebab i’tikaf yang memang diniatkan secara khusus untuk mendekatkan diri kepada Allah di rumah-Nya, sehingga Rasulullah saw selalu melaksanakannya. Niat suci tersebut tentu saja tidak layak dikotori dengan urusan-urusan dunia dan kepentingan pribadi. I’tikaf mengajarkan kepada kita untuk menyendiri, merenung, beribadah, dan fokus untuk mendahulukan keinginan Allah di atas keinginan pribadi. Hal ini tentu penting dilakukan secara konsisten dalam rentang waktu tertentu minimalnya tiga hari dalam setahun.  Namun, adakalanya kemuliaan i’tikaf yang cenderung ibadah invidual secara lahiriah layak ditinggalkan atau dibatalkan jika berhadapan dengan kemuliaan ibadah sosial, seperti membantu saudara-saudara mukmin yang sedang kesulitan. Sebab meringankan beban seorang mukmin memiliki keutamaan yang luar biasa di sisi Allah swt. Hal inilah yang dicontohkan oleh Imam Hasan ra, cucu kesayangan Rasulullah saw.

Diriwayatkan oleh Syaikh Shaduq dalam al-Faqih, dari Maimun bin Mihran yang berkata, “Aku duduk bersama Imam Hasan. Tiba-tiba ada seseorang datang mengadu kepada beliau, “Wahai putra Rasulullah! Aku mempunyai hutang pada si Fulan dan dia akan memenjarakanku.” Beliau berkata, “Demi Allah! Aku tidak memiliki apapun untuk bisa digunakan melunasi hutangmu itu”. “Kalau begitu, berbicaralah kepadanya”, pinta laki-laki tersebut. Imam Hasan pun mengenakan terompahnya. Aku bertanya kepadanya, “Apakah yang mulia lupa bahwa kita sedang ber-i’tikaf? “Tidak,” jawab Imam Hasan, “Namun aku mendengar dari ayahku, bahwa kakekku, Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh saudaranya, maka dia seperti beribadah kepada Allah selama sembilan ribu tahun, yang dilalui dengan berpuasa pada siang harinya dan beribadah di malam harinya.” (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL