makanan (1)Suatu hari dilakukan eksperimen psikologi. Sekelompok cacing yang mula-mula tidak takut pada sinar, setelah diberikan bubur yang dibuat dari lumatan cacing-cacing lain yang takut pada sinar, kini cacing-cacing inipun menjadi takut pada sinar. Rupa-rupanya memori yang berupa rasa takut pada sinar itu yang kini dicurigai tersimpan dalam RNA, telah terpindah alihkan melalui makanan. Dari penelitian ini disimpulkan adanya pengaruh makanan terhadap kondisi kejiwaan.

Makan dan minum adalah kebutuhan primer manusia. Umumnya kita makan dan minum hanya mempertimbangkan gizinya yang diperlukan untuk kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan jasad dan melupakan efeknya pada perkembangan ruhani. Islam mengajarkan bahwa makanan tidak hanya penting untuk perkembangan jasad, tetapi juga penting untuk perkembangan ruh, bahkan dalam skala prioritas, perkembangan ruh lebih dipentingkan dari perkembangan jasad. Fazlur Rahman (1992: 352-353) mengatakan bahwa tubuh manusia dipandang menjadi tempat tinggalnya ruh, oleh karenanya sangat berkaitan dengan jiwa ataupun roh itu, sehingga mencerminkan dua aspek. Pertama, sebagai simbol tentang keberadaannya sesuai ungkapan terkenal yaitu “manusia adalah pencerminan dari keberadaannya”. Ini berarti bahwa jiwa dan ruh saling berkaitan secara erat dan bergantung pada tubuh manusia, karena jiwa dan ruh itu tidak akan terwujud di dunia ini tanpa tubuh manusia. Kedua, manusia harus memelihara wujud lahiriahnya dalam kondisi yang baik dan sehat. Dengan demikian, keberadaan dari aspek batiniah (jiwa dan ruh) secara mutlak menjadi bergantung pada jasmani. Oleh karena itu kesehatan dan pemeliharaan jasmani merupakan hal yang amat penting menurut ilmu kedokteran dan agama; yaitu menjaga kondisi kesehatan lahiriah dan batiniah manusia.

Karena itulah, kenapa Islam mengajarkan dua syarat utama untuk makanan dan minuman yaitu halalan thayyiban, yang halal lagi baik. Maksudnya, selain makanan itu baik dari sisi gizi, vitamin, tekstur, dan lainnya, makanan itu juga harus dari jenis yang halal dan juga diperoleh dengan cara yang halal. Makanan yang baik tetapi bukan jenis yang halal, tidak boleh dimakan. Begitu pula, makanan yang baik dan halal dari sisi jenisnya, tetapi menjadi tidak boleh dimakan jika diperoleh dengan cara yang tidak halal. Misalnya, diperoleh dengan cara mencuri. Allah berfirman, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (Q.S. al-Baqarah: 168).

Suau hal yang menarik, dalam ayat di atas Allah swt menghubungkan penggunaan bahan makanan yang tidak halal sebagai perbuatan setan, karena itu diharuskan untuk meninggalkannya. Artinya, makanan yang tidak halal, baik secara zatnya maupun cara memperolehnya, akan memberi pengaruh kuat setan terhadap diri kita, sebagaimana dimisalkan dalam hadis yang menyatakan “Sesungguhnya setan berjalan dalam tubuh Bani Adam melalui aliran darah, dan jalannya setan akan melemah dengan rasa lapar”. Jadi ada pengaruh yang erat antara makanan dengan pengaruh setan terhadap jiwa manusia, sehingga dirinya akan mudah mengarah pada keburukan dan kemaksiatan.

Al-Masudi, dalam kitabnya Muruz az-Zhahab mengisahkan bahwa di masa Khalifah Mahdi bin Manshur al-Abbasi, hiduplah seorang ulama ahli fikih bernama Syarik bin Abdullah an-Nakha’iy yang terkenal kedalaman ilmu dan ketakwaanya. Khalifah Mahdi bin Manshur menginginkan agar an-Nakha’i memegang jabatan Hakim Kepala di dalam pemerintahannya. Karena mengetahui bahwa bahayanya terlibat dalam kerajaan dan pemerintahan yang zalim, an-Nakha’i pun menolak tawaran tersebut. Kemudian, Khalifah meminta an-Nakha’i agar mengajar ilmu-ilmu hadis secara privat kepada anak-anaknya. Tetapi beliau tetap menolak dan merasa cukup hidup dengan seadanya.

Tidak kehabisan akal. Khalifah al-Mahdi suatu saat mengundang an-Nakha’i ke istana dan berkata, “Saat ini, engkau harus menerima salah satu dari tiga tawaranku, yakni : Engkau menjadi Hakim Kepala, atau menjadi guru bagi putraku, atau engkau makan siang bersama kami saat ini.”

Mendengar permintaan yang disertai paksaan tersebut, tak ada celah untuk menolaknya. An-Nakha’i berpikir, di antara tiga tawaran yang ada, maka pilihan ketigalah yang paling ringan menurutnya. Khalifah pun memerintahkan untuk dihidangkan berbagai makanan yang lezat, seperti daging, campuran otak, tulang, sayuran, dan madu. An-Nakha’i yang tidak pernah merasakan makanan selezat itu, begitu lahapnya menikmati hidangan tersebut. Melihat hal itu, seseorang berkata kepada Khalifah Mahdi, “Demi Allah, orang ini tidak akan berada di jalan lurus lagi”. Ternyata benar, selang beberapa waktu kemudian, an-Nakha’i menjadi guru putra-putra khalifah, sekaligus menjabat menjadi hakim kepala, dan menerima gaji dari baitul mal.

Suatu hari an-Nakha’i bertengkar dengan petugas bendahara kerajaan. Petugas itu berkata, “Anda tidak menjual sebiji gandum pun kepada kami, lalu seenaknya saja ngotot kepada kami.” An-Nakha’i menjawab, “Aku memang tidak menjual gandum pada kalian, tetapi aku telah menjual sesuatu yang lebih bernilai dari gandum, aku telah menjual agamaku.”

Karena itu, berhati-hatilah memberi makan keluarga kita. Berusahalah tetap memberikan makanan yang halal dan baik serta bersyukur kepada Allah swt atas segala nikmatnya, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah” (Q.S. al-Baqarah : 172). Semoga kita dan semua keluarga kita terjaga dari pengaruh makanan yang haram. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL