mudik-euy1Sebentar lagi Indonesia akan ditimpa gelombang arus mudik manusia ke berbagai belahan daerah di Indonesia. Kendaraan darat, laut dan udara akan dipenuhi penumpang agar bisa sampai ke kampung halaman untuk bertemu sanak keluarga di hari lebaran. Selain itu, sebagian kita mungkin juga berkunjung ke berbagai daerah untuk menikmati masa liburan. Jadi, bepergian merupakan hal yang lumrah dilakukan manusia dan dengan beragam kepentingan. Ada yang bepergian dengan maksud positif seperti karena ingin menuntut ilmu, mencari nafkah, menyambung silaturrahmi, dan sebagainya. Tetapi ada juga yang bepergian dengan maksud negatif seperti mencuri atau melakukan maksiat lainnya.

Dalam Islam, bepergian dianjurkan jika hal itu memiliki motif-motif positif. Imam Ja’far Shadiq berkata, “Dalam hikmah keluarga Daud as tertulis bahwa seseorang tidak diperkenankan melakukan perjalanan (safar) melainkan dalam tiga perkara : menyediakan bekal untuk akhirat, memenuhi kebutuhan nafkah hidup, dan mencari kenikmatan yang halal.” Bepergian juga memberikan manfaat yang sangat banyak bagi manusia, diantaranya :

  1. Menenangkan jiwa yang gundah (refreshing)
  2. Memperoleh nafkah dan rezeki.
  3. Memperoleh ilmu.
  4. Mengenali etika dan budaya.
  5. Bersahabat dengan orang besar (mulia).

Selain itu dalam melakukan perjalanan (safar), umat Islam harus memperhatikan adab-adab atau hukum-hukum yang mengatur tentang perjalanan. Beberapa hal penting mengenai adab dan hukum di saat perjalanan adalah sebagai berikut :

  1. Sebelum melakukan perjalanan, sebaiknya menyiapkan perbekalan dan kebutuhan selama perjalanan. Dan mewasiatkan beberapa hal penting, sebagai persiapan jika kita mengalami musibah dalam perjalanan.
  2. Lakukanlah perjalanan bukan untuk hal-hal yang dimurkai oleh Allah swt. Dan sebelum melakukan perjalanan sebaiknya bersedekah terlebih dahulu, karena sedekah dapat menghindarkan kita dari bencana. Nabi saaw bersabda, “Sedekah itu dapat menolak bala bencana”; dan juga sabdanya : “Sedekah itu menutup tujuh puluh pintu kejahatan.”
  3. Memberitahukan kepergian kepada keluarga agar tidak kehilangan, dan meminta doa mereka agar kita selamat dalam perjalanan.
  4. Orang yang bepergian sebaiknya tidak sendirian, tetapi berusahalah mencari teman untuk melakukan perjalanan. Hal ini di samping dapat mempererat persahabatan, juga dapat meringankan perjalanan. Dan jika melakukan perjalanan secara berkelompok, hendaklah dipilih satu orang sebagai pemimpin.
  5. Mulailah keberangkatan dengan membaca doa kepada Allah untuk keselamatan dalam perjalanan.
  6. Jika sampai tujuan hendaklah bersyukur dan berdoa.
  7. Jika pada bulan puasa, maka sebaiknya tidak berpuasa di dalam perjalanan, dan menggantinya ketika telah kembali ke rumah sepulang dari perjalanan.
  8. Saat melaksanakan salat dalam perjalanan sebaiknya dilakukan dengan jama’ yaitu menggabungkan salat yang sama waktunya yaitu zuhur dengan ashar, maghrib dengan isya; dan juga qashar, yaitumemendekkan salat yang jumlahnya empat rakaat (zuhur, ashar, isya) menjadi dua rakaat.
  9. Hendaknya memperbanyak berzikir dan berdoa selama dalam perjalanan.
  10. Jadikanlah perjalanan sebagai sarana untuk menambah ilmu pengetahuan dan keimanan dengan memperhatikan barbagai ciptaan Allah swt yang menunjukkan pada kekuasaannya, “Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, Maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, Kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Al-Ankabut : 20)

Dengan adab-adab di atas, maka perjalanan kita akan memiliki dampak kebikan di dunia maupun di akhirat. Sebab, perjalanan yang memperhatikan aturan-aturan hukum Islam, akan mendapatkan rahmat dan ridha Allah swt. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL