lailatul qadarPertanyaan ini adalah pertanyaan kita semua. Para ulama berbeda pendapat, tetapi umumya menyebutkan agar mencarinya disepuluh malam terakhir ramadhan. Tentu saja, dirahasiakannya lailatul qadar ini memiliki hikmah agar orang beriman tetap menjaga ibadahnya dengan tulus di setiap malamnya. Akan tetapi, dibalik selubung misterinya, ternyata Rasulullah saw dan keluarga dekatnya memberikan informasi seputar rahasia terjadinya lailatul qadar.

Jalaluddin as-Syuyuthi di dalam kitab tafsirnya ad-Dur al-Mantsur jilid 8, saat menafsirkan Q.S. al-Qadr, meriwayatkan banyak hadis tentang waktu terjadinya peristiwa lailatul qadar. Diriwayatkan dari Aisyah ra, “Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir ramadhan.” Ibnu Abi Sayibah, Ibnu Jarir, Muhammad bin Nashr, dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan, “Carilah lailatul qadar di sepuluh terakhir.” Faltan bin Ashim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Di sepuluh terakhir, pada malam-malam ganjil, terdapat lailatul qadar.” Begitu pula diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Ubadah bin Shamit, dan Abu Dzar.

Abu Said al-Khudri meriwayatkab bahwa Rasulullah saw ditanya tentang lailatul qadar, maka beliau menjawab, “Sepuluh hari terakhir, setelah lewat 22 hari dan tersisa tujuh hari, maka carilah lailatul qadar di tujuh hari terakhir tersebut.” Abdullah bin Unais, “Lailatul qadar terjadi pada malam ke-23”. Ibnu Mas’ud, “sebelas malam yang tersisa dari akhir ramadhan (malam ke-19), pada malam ke-21 atau ke-23.” Riwayat-riwayat lainnya menjelaskan bahwa lailatul qadar terjadi pada malam ke-21, ke-23, ke-25 dan ke-27.

As-Syuyuthi juga tentang perdebatan yang terjadi di kalangan sahabat tentang lailatul qadar. Diriwayatkan dengan beberapa redaksi dari Abdurrazaq, Ibnu Rahawaih, Muhammad bin Nashr, at-Thabrani, al-Baihaqi, dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Khalifah Umar bin Khattab ra, dimasa memerintah mengumpulkan para sahabat untuk membahas tentang terjadinya lailatul qadar. Para sahabat menyebutkan lailatul qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir. Adapun Ibnu Abbas berkata bahwa lailatul qadar terjadi pada tujuh malam terakhir. Maka Umar berkata, “Darimana engkau mengetahui hal itu?”. Ibnu Abbas menjawab, “Allah menciptakan tujuh lapis langit, tujuh lapis bumi, menjadikan tujuh hari dalam seminggu, menciptakan manusia dalam tujuh tahapan, dan memberi makan dari tujuh jenis tumbuhan, menjadikan tujuh anggota sujud, thawaf tujuh kali di Baitullah, dan melempar jumrah tujuh kali.” Lalu Umar bertanya kepada Ibnu Abbas tentang tujuh jenis nikmat makanan. Maka Ibnu Abbas menjawab, “Allah memberikan nikmat melalui tujuh jenis tumbuhan sebagaiman disebutkan Alquran, “Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran,zaitun dan pohon kurma,kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, sebagai nikmat bagimu untuk dinikmati dan untuk binatang-binatang ternakmu” (Q.S. Abasa: 27-32)

Dalam riwayat lainnya Ibnu Abbas ra ditanya oleh Khalifah Umar ra tentang lailatul qadar, maka beliau menjawab:  “Hanya Allah yang Maha Tahu, Alahu a’lam”. Umar berkata, “Kami tahu bahwa hanya Allah yang Maha Tahu, tetapi aku bertanya tentang pengetahuanmu.”Maka Ibnu Abbas pun berkata, “Sesungguhnya Allah ganjil dan mencintai yang ganjil. Ia menciptakan tujuh lapis langit, menjadikan tujuh hari dalam seminggu, menetapkan thawaf sebanyak tujuh kali, sa’i antara Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali, melempar jumrah tujuh kali, begitu pula menciptakan manusia dalam tujuh tahapan, dan memberikan rezeki dari tujuh jenis tumbuhan.

Khalifah Umar heran dan berkata, “Bagaimana Allah menciptakan manusia melalui tujuh tahap dan menjadikan rezekinya dari tujuh macam? Engkau memahami apa yang aku belum memahaminya.”

Ibnu Abbas ra menjelaskan, “Allah meyebutkan tujuh tahap penciptaan manusia dalam firman-Nya : “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan dia air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci-lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.”(Q.S. al-Mukminun : 12-14)

Sedangkan Allah memberikan rezeki melalui tujuh jenis tumbuhan sebagaiman disebutkan Alquran, “Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran,zaitun dan pohon kurma,kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, sebagai nikmat bagimu untuk dinikmati dan untuk binatang-binatang ternakmu” (Q.S. Abasa: 27-32)

Setelah menjelaskan hal itu, Ibnu Abbas kemudian berkata, “Aku berpendapat terjadinya lailatul qadar adalah malam ke-23, karena bulan tersisa tujuh hari lagi, wallahu a’lam.”

Terlepas dari beragam pendapat yang ada, tugas kita tiada lain adalah terus menghidupkan malam-malam ramadhan, terutama sepuluh malam terakhir ini sebagaimana diriwayatkan bahwa Rasulullah saw lebih giat beribadah bahkan beri’tikaf di Masjid pada malam-malam terkahir ramdhan. Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk menggapai  ailatul qadar.  (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL