imam_ali_by_muazzin-d4ozaasKita mungkin sudah familiar dengan buku Nahjul Balagah karya Syarif Radhi yang mengumpulkan khutbah, surat, dan ucapan-ucapan pintu ilmu Nabi, Imam Ali bin Abi Thalib. Buku yang mengandung bukan saja keindahan sastranya, tetapi juga kekayaan informasinya. Mengikuti pola penulisan Nahjul Balagah, seorang ulama besar Syaikh Musa al-Zanjani, terinspirasi mengumpulkan pula khutbah-khutbha, surat, surat dan ucapan-ucapan dari kota ilmu, Nabi Muhammad saw, dan menamai kitabnya dengan judul Madinah al-Balaghah.

Salah satu riwayat dalam Madinah al-Balaghah adalah khutbah Nabi saw di akhir bulan sya’ban ketika menyambut datangnya bulan ramadhan, yang diantara isinya Nabi berpesan :

“Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibuka di bulan ini, maka mintalah kepada Tuhan kalian supaya tidak pernah menutupnya untuk kalian. Dan pintu-pintu neraka ditutup, maka mintalah kepada Tuhan kalian supaya tidak pernah membukanya untuk kalian. Setan-setan juga dibelenggu, maka mintalah kepada Tuhan kalian suoaya tidak lagi pernah menguasai kalian.”

Kemudian berdirilah Ali bin Abi Thalib dan berkata, “Wahai Rasulullah, amal apa yang paling utama di bulan ini?” Rasulullah saw menjawab, “Wahai Abal Hasan, Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah.”

Mendadak Rasulullah saw menangis. Lalu Ali bertanya, “Wahai Rasulullah, apa gerangan yang membuatmu menangis?” Rasulullah saw menjawab, “Wahai Ali, aku menangis karena mereka menghalalkan darahmu di bulan ini. Tampak terlihat olehku engkau sedang salat menghadap Tuhanmu. Lalu datang manusia yang paling durjana, saudara kandung penyembelih unta Tsamud, dia menyabetkan pedangnya ke kepalamu hingga janggutmu berlumuran darah.”

Ali bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu disertai dengan selamatnya agamaku?” Rasulullah saw menjawab, “Tentu, disertai dengan selamatnya agamamu”. Kemudian Rasul saw melanjutkan sabdanya, “Wahai Ali, siapa yang membunuhmu berarti dia telah membunuhku, siapa yang membencimu berarti dia telah membenciku, dan siapa yang mencacimu berarti dia telah mencaciku. Karena sesungguhnya dirimu di sisiku seperti diriku, jiwamu berasal dari jiwaku dan tanahmu dari tanahku.”

Khutbah Nabi di atas berisi beberapa informasi penting, di antaranya keutamaan bulan ramadhan yakni dibukanya pintu surga, ditutupnya pintu neraka, dan dibelenggunya para setan. Serta pesan agar menjauhi segala yang diharamkan. Menjaga indera, dan seluruh anggota badan sekaligus menjaga pikiran, hati, nafsu-syahwat, dari berbagai keinginan yang diharamkan. Inilah yang sering diingatkan. Namun, ada hal yang sering dilupakan, yaitu informasi gaib yang disampaikan Nabi saw tentang syahadahnya Imam Ali di bulan ramadhan. Bayangkan kondisi Imam Ali as setiap memasuki ramadhan pasca khutbah tersebut, yakni senantiasa siap menjemput kematian, dan hal itu terjadi sekitar 30 tahun kemudian.

Rasulullah saw juga berduka serta menangisinya bahkan sebelum hal itu terjadi. Mirip dengan duka dan tangisan Nabi saw kepada cucunya dan merupakan anaknya Ali yakni Husain ra yang akan syahid di Karbala. Dengan demikian, orang pertama yang mentradisikan berduka dan menangisi syahadah Imam Ali –dan juga Imam Husain—adalah Rasulullah saw. Bagaimana dengan kita, apakah di bulan ramadhan ini, seperti halnya Nabi saw, kita juga pernah menangis untuk Imam Ali, sang pintu ilmu Nabi?

Jika belum, semoga kisah berikut ini mampu menghubungkan ruh kita dengan ruh imam Ali, dan semoga mata kita mampu menangis untuknya agar hati kita yang keras tersirami tetes-tetes air mata sebagai bukti cahaya cinta. Kalau tak mampu berusahalah tetap untuk menagis sembari meresapinya kisah singkatnya.

Malam 19 Ramadahan 40 H, di Kota Kufah, seorang ayah bicara kepada anaknya bahwa ia baru saja bermimpi melihat Jibril turun dari langit ke atas gunung Qais dan dari gunung itu Jibril membawa dua bongkah batu ke Ka’bah. Beliau membenturkan kedua batu tersebut satu sama lain, sehingga hancur berserakan. Serpihannya bertebaran menghancurkan setiap rumah yang ada di Mekah bahkan hingga juga di Madinah. Tak ada rumah yang tersisa. Mendengar itu, anaknya berkata, “Apa makna dari mimpi tersebut, wahai ayah?”. “Jika mimpi tersebut benar, maka itu mengisyaratkan ayahmu ini akan terbunuh, dan setiap rumah di Mekah maupun Madinah akan diliputi duka nestapa”, jawab sang ayah dengan suara lirihnya. Sang anak tak mampu menahan tangisnya, tenggorokannya terasa tercekik, dan air mata pun menetes dengan derasnya. Inilah dialog awal di malam duka antara dua manusia mulia, Ali sang ayah dan Hasan sang putra.

Ketika menjelang subuh, sang ayah pun, keluar dari rumahnya, melangkahkan kaki dengan penuh ketakwaan menuju rumah Tuhannya. Hembusan angin dingin menembus kulit dan tulangnya karena tak mampu ditahan oleh baju buruknya. Dia tak memperdulikannya. Langkahnya tak surut, dengan tenang ia melangkah disertai gumaman doa dibibirnya, laa haula wa laa quwwata illa billah. Memasuki masjid, hatinya merasa suasana yang berbeda, merasa ada peristiwa besar yang akan terjadi di waktu fajar. Untuk menghibur hatinya, dia berucap :

“Sambut kematian dengan dadamu, karena ia pasti datang mengincarmu

Buanglah cemas dari dirimu, sekalipun kematian datang ke kamarmu

Dengan segera ia masuk ke Masjid Kufah untuk memimpin salat subuh berjamaah. Mendadak seseorang yang bernama Abdurrahman bin Muljam laknatullah alaih, menyeruak sambil mengayunkan pedang yang disandangnya, crass, terdengar benturan pedang dan kepala disertai teriakan ‘fuztu wa rabb al-ka’bah’, “Aku telah mencapai tujuanku, demi Pemilik Ka’bah”. Teriakan itu menggema ke seantero  Kufah. Hasan berlari menghampiri Masjid dan menemukan sosok ayahnya tersebut telah roboh di mihrab Masjid, wajah dan janggutnya berlumuran darah. Dengan menahan sakit yang luar biasa, ia masih ingat subuh telah menjelang tiba, ia memerintahkan untuk segera dilaksanakan salat jamaah, dan meminta anaknya Hasan mengimaminya, sedangkan ia sendiri  salat sambil duduk dengan susah payahnya. Betullah apa yang dikatakan, bahwa salat adalah hiasan matanya, kesukaannya, dan cerminan ketakwaannya.

Selesai salat, mereka membawa sang Imam ke rumahnya. Dibaringkan ia di kasur kasarnya. Anaknya bertanya dengan suara yang tercekat dikecam kesedihan mendalam, “wahai ayah, siapa yang begitu tega melakukannya?”. Sang Imam membuka matanya, yang sebagiannya masih tertutup sisa-sisa darah. Mata sendunya menatap wajah anaknya, berputar menatap sahabat-sahabat disekelilingnya. Ia meringis menahan sakit yang luar biasa. Kepala yang terbelah berusaha dibersihkan dan diikat dengan perban sekedarnya. Dengan terbata-bata beliau berkata, “Sabar wahai anakku, sebentar lagi ia akan digiring kemari dari pintu ini”. Sesaat berselang, sang penebaspun datang digiring oleh sekelompok orang. Sang Imam berkata kepadanya, “Apa salahku padamu, sehingga engkau berbuat kejam kepadaku?”. Semua orang tahu, Imam Ali tak pernah sedikitpun menyakiti Ibnu Muljam, tetapi mengapa dia berani berbuat sedemikian kejam. Dengan getir Ibnu Muljam menjawab, “Aku telah mengasah pedangku selama empat puluh hari dan berdoa kepada Tuhan agar dengan pedang ini aku dapat membunuh sejahat-jahat makhluk-Nya.” Ya Allah, betapa tajamnya pedang yang diasah selama itu. Telebih lagi, racun yang sangat mematikan juga dibubuhkan pada pedang tersebut. Bayangkan, jika goresan saja mampu membuat kita meringis sakit, bagimana jika kepala kita ditebas hingga terbelah dengan luka menganga.

Kepada anaknya Hasan, Imam menyampaikan pesan, ““Wahai anakku, perlakukan dia sebaik-baiknya. Berilah makan seperti apa yang engkau makan, dan berilah minum seperti apa yang engkau minum. Nyawa dibayar dengan nyawa; jika aku mati, bunuhlah ia sebagaimana ia telah membunuhku. Tetapi, jika aku tetap hidup, aku akan memutuskan hukumannya.”

Imam Hasan mnjawab, “Wahai ayah, manusia durjana ini telah menebas kepalamu, kami khawatir atas dirimu, tetapi engkau malah mengasihaninya. Wahai ayah, jika engkau pergi, siapa lagi yang kami miliki? Sungguh musibah ini begitu besar, seperti halnya kami kehilangan kakek kami, Rasulullah saw.” Imam Ali memeluk anak tercintanya untuk menenangkannya.

Dua hari berlalu, kondisi Imam semakin sulit, segala obat sudah tidak mujarab, karena racun yang ada dipedang sudah demikian meresap. Ia hanya bisa meminum susu murni untuk menetralisir racun yang mengendap dalam darahnya. Selaput otaknya sudah tertutup, wajahnya pun memucat kekuning-kuningan seolah tak ada lagi darah yang mengalirinya. Seorang sahabat Imam menceritakan saat mengunjunginya, “Aku melihat wajah imam, tapi tak bisa membedakan mana yang lebih kuning, wajahnya atau perban yang membalut lukanya”.

Imam Hasan dan Husain terus menerus menjaga ayah mereka yang tubuhnya menggigil akibat pengaruh racun. Sang Imam terkadang sadar dan terkadang pingsan. Setiap sadar, ia hanya menyampaikan nasehat sebagai bekal untuk anak-anaknya. Kepada Hasan dan Husain, imam berpesan, “janganlah kalian menangis, tenangkanlah hati kamu, kamu akan diberi pahala atas duka ini”.

Namun, nasehat itu berubah seketika, saat Zainab menghampirinya. Imam melihat puteri terkasihnya dengan tatapan mata seribu duka. Wanita suci pengemban duka ini tak mampu menahan dirinya. Tangisannya meledak, air matanya mengalir deras, kata-kata duka meluncur dari lisannya dengan suara lirih terbata-bata. Sang Imam pun seolah kelu lidahnya, tak mampu menasehati agar puterinya jangan menagis, malah ikut larut dalam kesedihan. Tanpa sadar, air matanya juga mengalir membayangkan duka yang akan dihadapi sang puteri tercinta, penghias ayahya. Imam Ali tahu bahwa duka Zainad melebihi duka siapapun.

Zainab tak sempat lama mengenyam kasih sayang kakeknya, dan ia berduka menyaksikannya wafatnya kakeknya ketika masih balita. Zainab juga tak sempat lama dalam belaian kasih ibunya yang lebih dulu wafat dengan luka hati yang mendalam. Ia berduka menyaksikan ibunya, Fatimah az-Zahra, wafat dengan penderitaan yang sangat berat. Kini, ia kembali berduka menyaksikan ayahnya sekarat dengan kondisi kepala terbelah. Kelak, ia akan berduka menyaksikan pula kakaknya Hasan yang akan menjemput maut karena racun yang menghancurkan hati dan jantungnya. Puncaknya, Zainab juga yang akan berduka menyaksikan saudaranya Husain syahid di Karbala dengan kepala yang terpisah dari jasadnya. Saat itu tak ada lagi yang mendampingi Zainab. Tak ada tempat Zainab berbagi duka nestapa. Imam mengetahui semua duka itu, dan tak mampu membendung lagi tangisnya.  Wahai zainab, dukamu adalah duka kami, tangisanmu adalah tangisan kami. Gabungkanlah kami dalam majelis dukamu.

Rumah imam pun dipenuhi tangisan duka keluarga suci. Langit Kufah menjadi kelam, seakan ikut berduka di malam ramadhan. Wajah imam semakin memucat kuning, pandangannya sudah mulai kabur, detik-detik perpisahan semakin terasa. Akhirnya, tepat pada malam ke-21 bulan ramadhan, manusia suci itu tersenyum gemilang, ia melihat para kekasihnya, Muhammad saw, Khadijah al-Kubra dan Fatimah az-Zahra, datang menyambut kehadirannya. Itu pertanda waktunya telah tiba untuk perpisahan antara ruh dan jasadnya. Setelah menyampaikan beberapa wasiat, ia pun menghirup syahadah di bulan mulia. Inilah akhir perjalanan hidupnya di dunia, untuk bergabung di surga bersama al-Mustafa. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Salam atasmu wahai Pemimpin orang beriman

Salam atasmu wahai kekasih Tuhan

Salam atasmu wahai manusia pilihan Tuhan

Salam atasmu wahai wali Tuhan

Salam atasmu wahai hujjah Tuhan

 

Salam atasmu wahai imamul huda, wahai manusia takwa,

pengemban wasiat mulia, yang bertakwa, bersih dan setia

Salam atasmu wahai ayah Hasan dan Husain, wahai tiang agama

pemimpin wasiat al-Mustafa, kepercayaan Tuhan alam semesta.

Assamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

(hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL