Lailatul-Qadarr

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada lailatul qadar. Dan tahukah kamu apakah lailatul qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (Q.S. al-Qadr: 1-5)

Rasulullah saw bersabda, “Musa as berdoa, ‘Tuhanku, aku ingin kedekatan dengan-Mu’. Allah berfirman, ‘Kedekatan dengan-Ku bagi orang yang bangun pada malam lailatul qadar’. Musa berkata lagi, ‘Tuhan-Ku, aku ingin rahmat-Mu’. Allah berfirman, ‘Rahmat-Ku bagi orang yang menyantuni orang miskin pada malam lailatul qadar”. Musa berkata lagi, ‘Tuhan-Ku, aku ingin kemudahan melewati jembatan shirat’. Allah berfirman, ‘Itu akan diberikan kepada orang yang bersedekah pada malam lailatul qadar’. Musa berkata, ‘Tuhan-Ku, aku ingin pepohonan dan buah-buahan surga’. Allah berfirman, ‘Itu akan diberikan kepada orang-orang yang bertasbih pada malam lailatul qadar’. Musa berkata, ‘Tuhan-Ku, aku ingin terbebas dari neraka’. Allah berfirman, ‘Itu akan diberikan bagi orang yang meminta pengampunan pada malam lailatul qadar’. Musa berkata lagi, ‘Tuhan-Ku, aku ingin ridha-Mu’. Allah berfirman, ‘Ridha-Ku diberikan kepada orang yang salat dua rakaat pada malam lailatul qadar.’ (Ibnu Thawus, Iqbal al-A’mal jil 1, hal. 345)

Syaikh Maliki at-Tabrizi menjelaskan bahwa berdasarkan banyak riwayat, di malam lailatul qadar rezeki dan usia manusia serta baik dan buruknya urusan mereka ditetapkan oleh Allah swt. Alquran suci diturunkan, begitu pula para malaikat semuanya diturunkan ke bumi. Ketika melewati majelis kaum mukmin, para malaikat menyampaikan salawat dan pujian kepada kaum mukmin tersebut sambil terus memperhatikan salat dan doa mereka sampai terbit fajar. Selama malam tersebut, doa-doa diterima kecuali empat kelompok berikut : (1). Anak yang durhaka; (2) Orang yang memutuskan silaturrahmi; (3) Orang yang memiliki kebencian dan dendam kepada seorang mukmin di dalam hatinya; dan (4) Orang yang meminum minuman keras. (Tabrizi, 2005: 151)

Dari penjelasan tersebut jelaslah bahwa ibadah utama pada malam lailatul qadar dapat dikategorikan pada dua jenis yaitu : ibadah individual dan ibadah sosial. Ibadah individual adalah ibadahnya penduduk langit yang merupakan hubungan Allah dengan hamba-Nya seperti salat, berzikir dan bertasbih.  Sedangkan ibadah sosial merupakan ibadahnya penduduk bumi yang menghubungkan antara sesama manusia, seperti menyantuni fakir miskin, bersedekah, menyambung silaturrahmi, saling memaafkan, memuliakan orang tua, mohon ampun atas dosanya, dosa orang tuanya, dan dosa kaum mukminin lainnya. Orang yang mengamalkan kedua jenis ibadah tersebutlah yang akan mendapatkan kemuliaan malam lailatul qadar.

Al-Fakhr al-Razi dalam tafsirnya saat menjelaskan Q.S. al-Qadr di atas, meriwayatkan berbagai macam ibadah yang dianjurkan untuk dilakukan pada malam-malam lailatul qadar. Satu hal yang menarik, diriwayatkan bahwa para malaikat meminta izin kepada Allah untuk turun ke bumi untuk menyaksikan amal perbuatan manusia. Setelah turun ke bumi mereka menyaksikan amalan-amalan yang sama dengan apa yang mereka kerjakan di langit, seperti berzikir, bertasbih, thawaf, dan lainnya. Namun ada dua amalan yang tidak pernah mereka lakukan dan hanya dilakukan oleh manusia, yaitu : orang-orang kaya yang memberi makan orang miskin dan tangisan para pendosa untuk meminta ampun kepada Allah swt. Maka malaikat pun mengemukakannya kepada Allah swt, dan Allah pun berfirman, “Rintihan tangisan para pendosa itu lebih Aku sukai daripada gemuruhnya suara tasbih”. Dua amalan tersebut adalah amalan khusus para manusia yang malaikat cembur karenanya.

Untuk itu, mari kita gapai lailatul qadar dengan salat dan sedekah; dengan doa dan zikir disertai menyantuni kaum fakir; mohon ampun dengan tangisan sembari menyenangkan hati kaum miskin dengan bingkisan. Angkat tangan kita dalam berdoa, tapi jangan lupa mengangkat tangan membantu kaum dhu’afa. Basahi wajah kita dengan air mata atas segala dosa, tapi jangan lupa menangis iba untuk anak-anak terlantar di jalan raya. Bertasbihlah mensucikan Allah Rabbal Alamin, tapi jangan lupa mensucikan harta kita dari hak-haknya kaum miskin. Sambungkanlah diri kita dengan tali Allah swt, tapi jangan lupa menyambung ukhuwah dengan sesama manusia. Inilah yang membuat kita menggapai kemuliaan malam qadar yang penuh berkah. (hd/liputanislam.com)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL