keadilan 7Alquran, yang menjadi mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw, dalam berbagai defenisinya yang dirumuskan para ulama senantiasa mengandung orientasi makna bagi kepentingan hidup umat manusia. Sebagai Kitab terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, Alquran sesungguhnya telah menjadi petunjuk dan kriterium pembeda untuk memandu kehidupan manusia.

Dengan berbagai nama, seperti al-kitab, al-furqan, az-zikr, at-tanzl, dan beragam sifatnya seperti nur, hudan, mubarak, mubin, busyra, aziz, Majid, Basyir yang diberikan Allah sendiri, Alquran mempunyai fungsi dan cita0cita yang merangkum keniscayaan hidup yang sesuai dengan aturan dan petunjuk-Nya. Secara ringkas, kata Syed Hossein Nasr (1983), Alquran adalah suatu hukum yang mengatur kehidupan manusia sehari-hari dan sumber pengetahuan bagi kehidupan intelektual manusia. Alquran adalah dunia yang menjadi pola jalinan kehidupan alamiah dan sosial manusia.

Alquran memiliki cita-citanya tersendiri mengenai kehidupan manusia. Cita-cita Alquran ini bertumpu pada semangat dasarnya yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Seamngat dasar Alquran, tegas Fazlur Rahman (1984), adalah semangat moral, dari mana ia menekankan monoteisme dan keadilan sosial. Jadi, tak pelak lagi, bahwa cita-cita Alquran itu adalah untuk menegakkan orde sosial yang berkeadilan, berprikemanusiaan (humanis), dan berketuhanan yang Esa (Religius-monoteis).

Cita-cita sosial kemanusiaan Alquran yang religius-monoteis tersebut, pada awalnya juga menjadi misi kerisalahan para Nabi dan Rasul yang terdahulu, dengan intensitas yang berbeda-beda. Namun yang jelas prinsipnya sama : mengajarkan tauhid (monoteisme) dan menegakkan keadilan (‘adalah; juztice) dalam kehidupan umat manusia. Derivasi dari kedua prinsip ini menunjukkan bahwa pada dasarnya umat manusia itu bersaudara; dan orde kehidupan dalam berbagai aspeknya (sosial, ekonomi, politik, budaya, dan sebagainya) harus dibangun bagi kemaslahatan dan keraharjaan bersama.

Cita-cita Alquran tadi jelas tidak akan dapat menolerir adanya tirani kekuasaan, eksploitasi kekayaan, monopoli perekonomian, rasialisasi susku bangsa, diskriminasi hukum, dan praktik-praktik kehidupan lainnya (dalam bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan beragama) yang timpang dan hanya menguntungkan segelintir orang. Semangat dasar dan cita-cita Alquran tersebut tampaknya berlaku abadi. Karena, sejak dahulu kala hingga sekarang, praktik dan sistem kehidupan yang menentang cita-cita Alquran itu selalu ada dalam berbagai skala dan dalam wujud yang bermetamorfose.

Sejarah perjuangan para Nabi dan Rasul Allah yang dikisahkan Alquran, garis besarnya adalah untuk menegakkan kedua prinsip tadi serta untuk menghancurkan keyakinan terhadap thagut dan kezaliman. Nabi Ibrahim as misalnya, menentang kecongkakan dan kebiadaban Namrudz beserta pengikutnya. Nabi Musa as berjuang untuk menghancurkan kekuasaan Firaun yang tiranik dan zalim. Begitu pula dengan Nabi Muhammad saw sendiri selama karir kenabiannya berjuang untuk menghapus kepercayaan syirk (politeis) dan sistem kehidupan sosial yang jahili.

Apa yang dikemukakan Alquran tentang kisah-kisah perjuangan para Nabi dan Rasul beserta umatnya yang taat waktu dulu, di zaman sekarang pun memiliki tipe-tipe yang serupa dan sejenis yang menjadi sasaran bidik Alquran. Karena Alquran sendiri menjelaskan bahwa dalam kisah-kisah itu terdapat ibrah (pelajaran moral), maka menjadi kewajiban bagi kaum Muslimin di sepanjang zaman untuk memperjuangkan cita-cita sosial kemanusiaan Alquran, demi tegaknya orde kehidupan yang egaliter, berkeadilan, berprikemanusiaan, dan berketuhanan.

Semangat dasar dan cita-cita sosial kemanusiaan Alquran tadi, adalah naif jika masih terkurung dalam teks-teks sucinya. Dalam pergumulan cita-cita dengan tantangan zamanya, Alquran tidak akan cukup memadai kalau masih dalam kerangka bacaan saja. Dengan kata lain, semangat membaca Alquran pada tataran normaif an sich tidak akan cukup adekuat untuk merealisasikan cita-cita sosial kemanusiaan yang terkandung di dalamnya. Begitu pula, tantangan zaman yang semakin kompleks dan keadaan kaum Muslimin yang terbelakang dalam banyak hal di berbagai belahan Dunia, menjadi kendala tersendiri yang semakin membebani.

Di tengah berbagai tantangan dan beban tersebut, maka upaya untuk mencari modus realisasi cita-cita Alquran saat ini sudah semakin urgen, dan membutuhkan dukungan kekuatan moral-spiritual dan kapasitas intelektual yang memadai dari kaum Muslimin. Untuk melakukan “kerja intelektual” yang berdimensi spiritual ini, secara khusus, menjadi kewajiban orang-orang tertentu yang mumpuni dan mendalam ilmunya, ar-rasihuna fi al-ilm.

Penafsiran Alquran, dengan berbagai manhaj dan alirannya, yang telah dilakukan oleh ulama Muslim klasik maupun generasi selanjutnya, harus diakui sebagai salah satu upaya memahami firman-firman Allah dalam Alquran dan menangkap pesan-pesan-Nya. Namun, sayangnya model-model penafsiran tersebut sekarang belum berhasil menjadi modus untuk merealisasikan cita-cita Alquran. Kelemahannya tersebut adalah karena gagalnya merumuskan normativitas Alquran ke dalam teori-teori pengetahuan sosial untuk membangun paradigma Alquran.

Untk itu, lima program reinterpretasi yang ditawarkan oleh Kuntowijoya perlu diperhatikan. Pertama, penafsiran sosial-struktural perlu dikembangkan daripada penafsiran individual ketika memahami ketentuan-ketentuan tertentu di dalam Alquran. Kedua, mengubah cara berpikir subjektif ke cara berpikir objektif. Ketiga, menafsirkan ayat-ayat Alquran yang normatif untuk dkembangkan menjadi kerangka-kerangka teori ilmu. Keempat, mengubah pemahaman yang ahistoris menjadi historis. Kelima, merumuskan formulasi-formulasi wahyu yang bersifat umum (general) menjadi formulasi yang spesifik dan empiris.

Di samping kelima program interpretasi tadi, gagasan dan metode penafsiran Alquran secara tematik (maudhui) tampaknya layak untuk dikaji. Secara metodologis, tafsir tematik berupaya untuk mengelaborasi tema-tema kajian—baik yang berasal dari Alquran sendiri maupun bukan—dengan cara menghimpun ayat-ayat Alquran yang berkaitan dengan tema-tema kajian, dibantu dengan keterangan-keterangan hadis, asbab an-nuzul, dan telaahan disiplin ilmu pengetahuan lainnya, guna menghasilkan suatu kesimpulan atau pandangan qurani yang memadai. Secara historis maupun praksis, metode tematik ini memiliki banyak akses untuk memproyeksikan konsep-konsep Alquran dalam realitas kehidupan; dan sekaligus dapat mengembalikan problem-problem sosial kehidupan manusia kepada naungan petunjuk Alquran.

Kelima program interpretasi Alquran maupun metode tafsir tematik tersebut, dapat kita jadikan sebagai ikhtiar dan modus realisasi bagi terwujudnya cita-cita sosial kemanusiaan Alquran, agar menjadi salamah bagi sesama dan rahmah bagi semesta. Wallahu a’lam. (hd/liputanislam.com)

*Sumber : diolah dari karya Asep Purnam Bahtiar, The Power of Religion, Pondok Edukasi: Bantul, 2005.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL