alquranAlquran berasal dari bahasa Arab dari kata qira’ah, qara’a yang artinya bacaan. Jadi Alquran berarti ‘bacaan sempurna’. Adapun secara terminologis, Alquran adalah kalam Allah (perkataan Allah) yang memiliki nilai mukjizat yang diturunkan melalui wahyu kepada Rasulullah saw, yang ditulis dalam mushaf yang diturunkan secara mutawatir dan bagi siapa saja yang membacanya akan bernilai ibadah.

Alquran juga memiliki nama-nama yang indah sesuai dengan kedudukan dan fungsinya. Para ulama banyak menyebutkan nama-nama lain Alquran sesuai dengan petunjuk ayat-ayat Alquran itu sendiri. At-Thabarsi dalam kitab Majma’ al-Bayan menyebutkan tiga nama lain Alquran yaitu al-Furqan, al-Kitab, dan adz-Dzikr. Selain itu, JamaluddinAbul Futuh Razi, menyebutkan 43 nama lain Alquran yang memenuhi kualifikasi; Qadhi Azizi menuliskan 55 nama-nama Alquran, sedangkan Badruddin Zarkasyi menuliskan nama-nama Alquran mencapai sembilan puluh nama-nama yang mulia. Diantara nama-nama lain Alquran yang disebutkan oleh Alquran itu sendiri adalah : al-Kitab (Q.S. al-Baqarah : 2); al-Furqan (Q.S. al-Furqan : 1); az-Zikr (Q.S. Ali Imran : 58); al-Majid (Q.S. Qaf : 1); al-Aziz (Q.S. Fushilat : 41); al-Azhim (Q.S. al-Hijr : 87); al-Karim (Q.S. al-Waqiah : 77); al-Munir (Q.S. al-Ahzab : 46); Ruh (as-Syura : 52); al-Kalam (at-Taubah : 6)

Adapun tentang nuzul al-Quran (turunnya Alquran), para ulama menyebutkan bahwa Alquran diturunkan dalam dua tahap.

Pertama, marhalah ihkam, yaitu diturunkan secara keseluruhan di bulan ramadhan tepatnya pada malam lailatul qadar. Penurunan sekaligus ini disebut para ulama dengan istilah inzal. Maksud diturunkannya wahyu secara global adalah turunnya ilmu-ilmu Allah swt, termasuk Alquran dan rahasia-rahasia besar yang terkandung di dalamnya ke dalam hati Rasulullah saaw agar hatinya dipenuhi dengan cahaya pengetahuan Alquran. Karena itu Rasulullah saw adalah orang pertama yang mengetahui makna dan tafsir Alquran. Diturunkannya Alquran secara sekaligus dalam satu waktu hanya terjadi sekali saja, karena diturunkannya secara sekaligus tersebut adalah sebagai juru penerang dan persiapan dari Allah swt bagi Nabi saaw dalam mengemban risalah yang telah dipersiapkan sebelumnya. Turunnya Alquran secara sekaligus pada bulan ramadhan di malam qadr ini disebutkan oleh Alquran sendiri, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (Q.S. al-Baqarah : 185); “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada lailatul qadar ” (Q.S. al-Qadr : 1)

Kedua, marhalah tafshil, yaitu diturunkan secara berangsur-angsur hingga habis keseluruhannya selama masa kenabian yakni sekitar 23 tahun. Proses ini disebut tanzil. Hal ini disebutkan oleh Alquran, diantaranya, “Dan Alquran itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian.” (Q.S. al-Isra : 106); “Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Alquran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).” (Q.S. al-Furqan : 32)

Maksud dari diturunkannya Alquran dengan cara bertahap adalah turunnya lafazh-lafazh Alquran tertentu dan beberapa ayat secara berkelanjutan, yang semuanya itu terkadang dibarengi dengan kejadian-kejadian yang terjadi pada masa itu. Kejadian-kejadian yang meliputi dan menjadi sebab turunnya wahyu dikenal dengan istilah asbab an-nuzul. Asbab an-nuzul ini sangat penting untuk dijadikan sarana memahami dan menafsirkan Alquran. Tanpa mengetahui asbab an-nuzul, bisa terjadi kekeliruan yang fatal dalam menjelaskan makna-makna Alquran dan sasarannya.Misalnya, ada ayat menyatakan “Dia bermuka masam dan berpaling” (Q.S. Abasa: 1). Maka muncul pertanyaan siapa yang dimaksud bermuka masam dan berpaling dalam ayat tersebut? Kalau kita buka kitab-kitab tafsir, sebagian menyatakan Nabi saaw yang bermuka masam dan sebagian lagi menyatakan bukan Nabi saaw yang bermuka masam, tetapi sahabatnya. Kenapa berbeda pendapat? karenaberbedanya asbab an-nuzul yang diterima oleh masing-masing penafsir. Meskipun penting asbab an-nzul, tetapi tidak semua ayat Alquran memiliki asbab an-nuzul.

Tujuan diturunkannya Alquran secara bertahap adalah sebagai pendidikan dan juru penerang bagi umat Muhammad saw dalam menerima risalah yang baru itu. Selain hal itu, sebagaimana dijelaskan Q.S. al-Furqan : 32 di atas, dimaksudkan untuk membantu Rasulullah saw agar mereka diberikan kemantapan hati dalam menjalankan risalah yang baru tersebut. Hal tersebut mustahil dapat dicapai tanpa proses yang bertahap.

Proses penurunan Alquran secara bertahap ini dilakukan dari sisi Allah swt yang dibawa oleh Malaikat Jibril dan sampai kepada Rasulullah saw dengan menggunakan bahasa Arab, sebagaimana disebutkan Alquran, “Dan Sesungguhnya Alquran Ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta Alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril). Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas.” (Q.S. as-Syu’ara : 192-195); “Demikianlah kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya…” (Q.S. as-Syura : 7)

Begitu pula, Alquran merupakan kitab yang terjaga sejak turunnya hingga akhir dunia. Semua umat Islam sepakat, apapun mazhabnya bahwa Alquran tidak boleh dan tidak bisa ditambah atau dikurangi sampai kapanpun dan dimanapun. Alquran boleh diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, tetapi bahasa aslinya yang tertulis dalam bahasa Arab tetap harus dijaga. Sebagai proses penjagaan Alquran para ulama telah mensistematisasikan Alquran sesuai petunjuk Nabi saw. Artinya, Alquran disusun seperti sekarang ini tidak lain merupakan petunjuk langsung dari Allah swt melalui Rasulullah saw bahkan penyusunannya langsung di bawah pengawasan Rasulullah saw. Karena itu Alquran tidak mungkin di tahrif, diubah, ditukargantikan sampai kapanpun. Hal ini sesuai dengan firman Allah, “Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu” (Q.S. al-Qiyamah : 17-18).

(hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL