alqurannPernahkan anda mendengar kisah tentang berubahnya tongkat menjadi ular? Atau kisah tentang kemampuan seseorang menghidupkan orang yang sudah mati, menyembuhkan orang buta, atau menciptakan burung dari tanah? Atau anda mungkin juga mendengar cerita tentang seorang yang tidak terbakar api? Ada pula cerita tentang keluarnya unta dari sebuah batu? Dan masih banyak kisah lainnya yang semua itu mendatangkan keheranan dan ketakjuban manusia.

Umumnya kita menyebut hal-hal diatas sebagai aneh, ajaib, hebat, dahsyat, tidak biasa, supranatural, mistik, atau luar  biasa. Namun, dalam terminologi agama, hal-hal tersebut disebut dengan mukjizat (jika dilakukan Nabi) dan keramat (jika dilakukan orang saleh selain nabi).

Mukjizat yang berasal dari kata i’jaz yang berarti melemahkan atau membuat tidak mampu. Dengan begitu, mukjizat dapat dimaknai sebagai kekuatan luar biasa dan tidak dapat ditandingi yang berasal dari para Nabi dengan izin dan kehendak Allah swt serta selaras dengan hukum sebab-akibat sebagai dalil akan kebenaran pengakuan kenabiannya.

Ditampakkanya mukjizat oleh para Nabi terkadang terjadi demi memenuhi tuntutan permintaan manusia (seperti unta Nabi Saleh as) atau terjadi tanpa permintaan mereka (seperti mukjizat Nabi Isa as) dengan tujuan untuk memperkenalkan para Nabi dan menyempurnakan hujjah Allah swt atas manusia, bukan untuk memaksa mereka agar menerima dakwah, tunduk dan taat secara terpaksa kepada para Nabi, juga bukan untuk menghibur mereka mereka dengan mempermainkan tata hukum kausalitas.

Dengan demikian, mukjizat kenabian berfungsi diantaranya untuk :

  1. Membuktikan dan mengukuhkan kebenaran kenabian, di mana setiap pengakuan kenabian mestilah disertai dengan kemampuan melakukan mukjizat, “Fir’aun menjawab, ‘Jika benar kamu membawa bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar.’ Maka Musa menjatuhkan tongkatnya lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya…” (Q.S. al-A’raf: 106-107).
  2. Melemahkan musuh-musuh nabi. Misalnya, jika ada seorang yang bukan Nabi tetapi memiliki kekuatan luar biasa yang digunakan untuk menyesatkan manusia, maka sesuai dengan rahmat dan kebijaksanaan Allah, maka Dia mesti mengutus seorang Nabi untuk melemahkan kemampuan orang tersebut, sehingga kejahatan tidak akan bertahan. Allah berfirman : “Dan Kami wahyukan kepada Musa, ‘lemparkanlah tongkatmu!’ Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan.” (Q.S. al-A’raf: 117); “Mereka berkata, ‘Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.’ Kami berfirman, ‘Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (Q.S. al-Anbiya: 68-69).
  3. Mengatasi kesulitan yang terkadang menghinggapi Nabi dan kaumnya, sehingga untuk mengatasinya Nabi mengeluarkan mukjizat sesuai kebutuhan saat itu. Allah berfirman : “Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, ‘pukullah batu itu dengan tongkatmu.’ Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air…” (Q.S. al-Baqarah: 60);

 Maka, sesuai dengan makna dan fungsinya, mukjizat yang dikeluarkan para Nabi akan mengalahkan semua kekuatan lain yang menantangnya. Namun, dari semua mukjizat  yang pernah ada di dunia ini, hanya satu mukjizat yang badai, yakni Alquran. Alquran dikatakan sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad saaw, karena Alquran tidak dapat ditandingi oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun, “Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Alquran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”. (Q.S. al-Isra : 88)

Apa saja aspek kemukjizatan Alquran tersebut. Allamah Thabathabai menjelaskan tujuh aspek kemukjizatan Alquran, yaitu :

  1. Kemukjizatan ilmu (i’jazun ilmi), yaitu Alquran mempunyai suatu ilmu pengetahuan di dalamnya. Bayangkan, semakin tinggi tingkat pengetahuan manusia, maka semakin tersingkap kebenaran Alquran.
  2. Kemukjizatan kepribadian Nabi saaw, yaitu bahwa Nabi saaw yang tidak bisa membaca dan menulis namun telah menyampaikan suatu perkara yang tinggi kandungannya yang berasal dari Allah swt.
  3. Kemukjizatan Alquran dalam memberitakan hal-hal gaib, yang tidak dapat diindera oleh manusia. Begitu pula, Alquran memnginformasikan berita-berita gaib, baik tentang peristiwa masa lalu maupun informasi tentang masa depan.
  4. Kemukjizatan Alquran dalam menentukan hukum-hukum (i’jazun tasyri’).
  5. Kemujizatan Alquran dari segala bentuk perubahan sejak diturunkannya sampai hari kiamat. Artinya Alquran lintas waktu dan ruang.
  6. Kemukjzatan Alquran dalam hal kefasihan dalam kata-kata dan maknanya (i’jazun balaghi). Pada model ini Alquran tersusun dengan kata-kata yang indah dan satra yang tinggi. Misalnya, Alquran berisi isti’atah (metafor) dan tasybihh (penyerupaan), majaz (figuratif) dan kinayah (kiasan), serta bentuk-bentuk kepfasihan yang tinggi lainnya.
  7. Kemukjizatan Alquran dalam jumlah kata-kata dan fenomena serta hukum-hukum Allah swt. Misalnya, kalimat fardhu dalam Alquran sebanyak 17 kata, sesuai dengan jumlah rakaat salat fardhu (17 rakaat). Kata thawaf disebutkan tujuh kali, sama dengan jumlah kewajiban thawaf di Mekah pada saat naik haji. Kata yaum (hari) terulang sebanyak 365 kali, sama dengan jumlah hari-hari selama setahun, dan kata  syahr (bulan) di dalam Alquran ditemukan sebanyak 12 kali, sama dengan jumlag bulan dalam setahun. Kata hayat (hidup) dan maut (mati) sama-sama terulang sebanyak 145 kali. Kata akhirat dan dunia sama-sama terulang 115 kali. Kata malaikat terulang sebanyak 88 kali, sama dengan jumlah kata setan. Kata panas terulang empat kali sama dengan kata dingin.

Demikianlah aspek-aspek kemukjizatan Alquran. Dengan mengenalnya insya Allah akan semakin mendekatkan kita kepada Alquran, sang mukjizat abadi. (hd/liputanislm.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL