Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, inna lillahi wa inna lillahi raji’un. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q.S. al-Baqarah: 155-157).

sabarSebagai hamba Tuhan, kita mengalami pasang surut kehidupan. Kadang kita bahagia, kadang kita menderita; kadang senang, kadang susah; kadang kaya, kadang papa; kadang tokek, kadang bokek. Kehidupan senang mungkin tidak masalah bagi kita, tetapi penderitaaan, sering menjadi hambatan hubungan manusia dengan Tuhannya.

Salah satu sikap yang utama adalah berprasangka baik kepada Allah swt. Sebab, Allah merupakan pencipta dan pemberi karunia kepada seluruh manusia. Dengan rahmat dan kasih-Nya, Allah swt memelihara kita, memberi rezeki kepada kita dan menjadikan kita sebagai makhluk yang bertugas memakmurkan bumi. Namun, tidak jarang di dalam kehidupan ini, kita mengalami kegagalan, bencana, musibah, dan penderitaan. Karena itu, sebagai sikap husnuzhan kepada Allah swt, maka seharusnya kita bersyukur saat mendapatkan kenikmatan dan bersabar jika sedang mengalami penderitaan. Dalam salah satu hadits qudsi Allah berfirman, “Aku seperti prasangka hamba-Ku kepada-Ku”.

Berdasarkan pada sifat iradah (kehendak) ilahiah, dijelaskan bahwa Kehendak Allah swt tidak berhubungan dengan perbuatan yang sia-sia, tanpa pertimbangan dan hikmah. Kehendak Allah hanya berkaitan dengan sisi kesempurnaan dan kebaikan segala sesuatu. Karena itu, apabila kita tertimpa musibah, kita harus menyadari bahwa kehidupan dunia adalah perjuangan menuju kesempurnaan. Manusia yang mau mendapatkan kesempurnaan haruslah berjuang menghadapi berbagai kesulitan dan ujian, dan jika berhasil, maka ia menjadi manusia suci yang diridhai ilahi.

Orang yang husnuzhan (berprasangka baik), akan melihat segala gangguan di alam ini sebagai pendorongnya untuk lebih giat berjuang. Untuk mempertahankan kehidupan misalnya, manusia mesti makan dan minum. Ini berarti, manusia harus berjuang membunuh tumbuhan atau hewan untuk di makan. Begitu pula, tumbuhan untuk hidup haruslah merusak tanah, sebaliknya tanah atau gunung harus meletus, gempa dan sebaginya untuk menjaga keseimbangan bumi dan perbaikan dirinya. Seperti, terkelupasnya atau hancurnya kulit kita untuk berganti dengan kulit baru yang lebih baik. Dalam biologi, ada pembahasan yang disebut dengan rantai makanan yang mengindikasikan adanya saling butuh sekaligus saling bunuh. Inilah mengapa dikatakan bahwa semua gejala-gejala dan bencana alam merupakan kelaziman dari materi, di mana benda-benda senantiasa saling berinteraksi, bergesekan dan berbeturan. Karenanya, orang yang husnuzhan, akan memandang bahwa, pada dasarnya, bencana dan keburukan yang terjadi di jagad raya ini bersifat relatif, yakni ada kebaikan dibaliknya.

Begitu pula, orang yang husnuzhan, akan menjadikan berbagai peristiwa itu sebagai motivasi dirinya untuk meneliti, mengkaji dan menghasilkan berbagai pengetahuan. Ada pula masanya, hal itu menjadi ujian atau peringatan bagi manusia untuk berbuat baik dan menjauhi kerusakan, sehingga dirinya menuju tahap kesempurnaan dan kemajuan hidup serta mencapai rahmat Allah yang abadi yang merupakan tujuan penciptaan manusia. Ali bin Abi Thalib ra berkata : “Bagi orang zalim, malapetaka (bala) adalah wahana pendidikan; sementara bagi orang mukmin adalah lahan pengujian; adapun bagi para wali Allah adalah kenaikan derajat.” Alquran juga menyebutkan hal ini :

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, inna lillahi wa inna lillahi raji’un. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q.S. al-Baqarah: 155-157).

Ketika ditimpa musibah, maka diri kita sering kehilangan kendali. Emosi bergejolak, ammarah meningkat, dan godaan setan masuk dengan mudahnya. Misalnya, dengan tergesa-gesa kita menganggap Tuhan tidak adil karena musibah yang menimpa kita. Karena itu kesabaran hanya bisa diperoleh dengan mengekang nafsu dan membelenggu setan. Puasa adalah di antara jalan penting untuk melakukannya.

Puasa juga mengajarkan kepada kita bahwa dalam hidup ini, terkadang kita harus bersabar untuk meraih sesuatu. Kita kendalikan diri kita selama seharian penuh, bersabar untuk tidak makan, minum, dan marah. Dengan puasa, kita menderita seharian untuk mendapatkan kegembiraan berbuka karena berhasil mentaati Allah. Kita kelaparan dan kehausan semata-mata ingin menarik berkah, rahmat dan ampunan Tuhan. Kita merasakan penderitaan jasmani disaat puasa, tetapi merasakan kenikmatan ruhani dalam sentuhan kasih sayang Tuhan, seperti keluhan Nabi Ayyub as kepada Allah saat dirinya ditimpa kesusahan, “Kemelaratan telah menimpa diriku, sedang Engkau lebih pengasih dari segala yang pengasih” (Q.S. al-Anbiya : 83). Karena itulah Allah memuji Ayyub, “Sungguh Kami mendapati Ayyub seorang yang sabar” (Q.S. Shad : 44). Pada kondisi ini Nabi Ayyub as, telah mendapatkan “nikmatnya” penderitaan sebagai tanda ketaatan.

Sekarang, bagaimana dengan kita ketika ditimpa musibah. Bagaimana kita menyikapi hidup, yang terkadang menyenangkan, tetapi juga terkadang menyakitkan? Apakah kita merasa Allah sering tidak adil dan menghujat-Nya, atau seperti sabarnya Nabi Ayyub as, kita memuji Allah dengan mengatakan “Engkau lebih pengasih dari segala yang pengasih”. Saat ini kita sedang berada di bulan  ramadhan, bulan training kesabaran. Semoga berhasil memetik hasilnya. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL