tidurSangat terkenal hadis Nabi saw yang menyabdakan, “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah”, sehingga kita akan melihat mesjid-mesjid di bulan puasa, pada siang hari selain dipenuhi oleh orang-orang yang membaca Alquran berjmaah, salat berjmaah dan ibadah lainnya, tetapi juga dipenuhi oleh orang-orang yang tidur berjamaah. Tidur berjamaah ini menjadi fenomena unik untuk dicermati. Sebagian kita memberi gelar kepada para jemaah tidur di bulan ramadhan ini dengan sebutan “Puasa Ular”. Tentu sebutan itu bukan untuk menyalahkan, tetapi lebih sebagai “lelucon” agar jangan meniru ular. Walaupun tentu saja sebutan itu kurang tepat, sebab ular biasanya tidur di saat kenyang, sedangkan orang yang berpuasa mereka tidur disaat lapar dengan komitmen mentaati Allah swt. Maka tepatlah, jika tidur mereka adalah ibadah.

Sebuah ulasan menarik dari Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun tentang tidur berjamaah ini, yang dipandangnya sebagai “Pekerjaan Besar” (lihat tulisan Cak Nun, di dalam buku Bermain Politik di Bulan Ramadhan, Pustaka Adiba : Surabaya, 1998). Menurutnya puasa dan tidur itu memiliki kesamaan, yakni sama-sama berhenti dari aktivitas biologis. Orang yang puasa, tidak makan dan minum, begitu juga dengan orang yang tidur. Dan jika puasa kita tingkatkan bukan hanya sekedar menahan makan dan minum dan bersetubuh, tetapi juga dengan menjaga panca indera dari segala yang diharamkan, maka tidur adalah salah satu caranya. Ikuti narasi indah Cak Nun berikut ini:

“Perhatikan kalimat-kalimat berikut ini. Puasa itu tidak makan dan tidak minum serta berbagai tidak lainnya dalam jangka waktu tertentu. Tidur itu tidak bangun, tidak melihat, tidak mendengar serta berbagai tidak lainnya dalam jangka waktu tertentu. Puasa itu berpahala jika dilakukan sejak subuh hingga maghrib selama bulan ramadhan. Tapi kalau maghrib telah tiba, Anda tetap berpuasa, berarti Anda melanggar anjuran Allah untuk menyegerakan berbuka puasa. Bahkan kalau Anda tetap juga berpuasa seusai ramadhan, yakni pada hari idul fitri, Anda ingkar kepada perintah Allah untuk jangan berpuasa hari itu.

Karena alasan dan dasar perhitungan tertentu maka tidur Anda berpahala ketika dilakukan pada jangka tertentu yang wajar. Tapi kalau selesai makan sahur, Anda langsung tidur seharian hingga lepas maghrib dan melewati zuhur serta asar dalam keadaan tidur, tidak seorang fakih (ahli fikih) pun menjamin bahwa itu berpahala. Jadi segala sesuatu ada proporsinya, ada batas kewajarannya, ada ruang dan waktu serta ada konteksnya sendiri-sendiri. Tidurnya orang berpuasa itu berpahala, mungkin bisa kita gali pemaknaannya begini.

Pertama, sedemikian pentingnya ibadah puasa dan sedemikian mendalamnya Allah menggagasnya, sehingga tatkala hamba-Nya tidur di siang hari, puasa dihargai oleh-Nya. Tetapi tidur di situ ada “kode etik”-nya. Anda tidak bisa masuk kantor untuk tidur di meja dan beralasan kepada direktur Anda, “Saya mencari pahala dari Allah swt!”.

Kedua, di dalam wilayah tidur, orang yang berpuasa lebih mendapatkan keamanan dan keselamatan dari bahaya dan maksiat dunia. Kurang lebih posisi ini sama dengan seorang yang buta matanya dan mensyukuri kebutaannya di hadapan Allah, “Ya Allah, terima kasih telah Engkau bebaskan aku dari berbagai tipuan dunia yang kujumpai jika mataku bisa melihatnya. Dengan buta mataku ini, aku merdeka dari keindahan dan kemewahan dunia yang semu dan sama sekali tidak sebanding dengan keindahan dan kemewahan cahaya-Mu. Jika engkau ubah mataku hingga bisa melihat, aku tahu aku akan menghabiskan sangat banyak waktu dan energi untuk menaklukkan segala sesuatu yang kulihat agar tidak menjajah jiwaku dan mempermainkan cita-cita hidupku. Ya Allah, dibanding penglihatan, kebutaanku lebih mendekatkanku kepada kesejatian-Mu.”

Anda mengatakan, orang tidur itu tidak tahu apa-apa, sedangkan untuk mendapatkan pahala seseorang harus mengerjakan sesuatu yang bersifat sosial degan niat supaya mendapatkan ridho dari Allah swt. Anda tidak salah. Tapi, pertama-tama bersyukurlah, cukup dengan engkau tidur, Allah berkenan memberimu pahala. Kedua, tidur itu tidak berarti tidak berbuat apa-apa. Tidur ialah suatu pilihan untuk menghindari perbuatan-perbuatan yang tidak bisa dijamin baik. Tidur ialah tidak berkata yang tidak-tidak dengan teman-teman. Tidur ialah tidak melihat wanita-wanita membuka separo auratnya. Tidur ialah tidak terlibat dalam kemungkinan kerakusan berdagang, keserakahan berkonsumsi, kekejaman politik, dan pergaulan. Tidur adalah sebuah “pekerjaan besar”.

Siapa yang mengemukakan kepada Anda bahwa tidur adalah perpisahan antara raga dan jiwa? Apa kata orang itu tentang yang disebut jiwa? Apa bedanya dengan nyawa? Sukma? Rasa? Hati? Kesadaran? Akal? Pikiran? Rasio? Nurani? Sanubari? Ruh? Dzat? Nafs?, dan sebagainya.

Informasi yang Anda terima itu simplikatif. Penyederhanaan persoalan. Itu sekadar untuk nggampangnya rembuk. Tetapi peta dan struktur realistik yang coba ia kemukakan sesungguhnya tidak sesimpel itu. Perlu pembicaraan dan ruang yang khusus untuk itu, dan saya menganjurkan agar Anda melupakan saja soal-soal macam begitu. Masalahnya, sementara ini Anda memiliki kecenderungan untuk merepotkan diri sendiri dengan hal-hal yang sesungguhnya sepele dan bisa Anda abaikan. Lha wong mimpi jelek saja kok Anda urusi dan Anda anggap sedemikian pentingnya. Padahal ketika bermimpi itu Anda belum tidur. Anda baru tertidur.” (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL