Oleh : Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

cak nunnBegitulah, manusia memang lemah, gampang terpeleset, gampang terjebak, gampang kebujuk oleh dirinya sendiri. Nanti kalau akhirnya tahu ia bersalah dan menderita karena itu, lantas meminta pengampunan Tuhan. Tetapi kalau dia tahu betapa Tuhan Maha Pengampun, dia juga lantas nggampangna, lha wong Tuhan Maha Pengampun saja kok…lo

Allah itu memberikan perintah, misalnya puasa. “Perintah” itu kan kasusnya kekuasaan dan konteksnya hukum. Jadi naluri manusia memahami puasa dalam konteks kekuasaan dan hukum Tuhan. Padahal perintah Tuhan itu lebih bermakna sebagai petunjuk. Petunjuk atau hidayah ialah informasi mengenai sesuatu hal dari Allah yang dimaksudkan agar manusia mengetahui cara untuk selamat di hadapan-Nya.

Selamat di hadapan Allah itu berbeda dengan selamat di hadapan polisi, presiden, bos di kantor, dan lain sebagainya. Lantas harus anda pahami dalam Islam kehidupan di dunia ini bukan tujuan, bukan substansi nilai, bukan inti makna hidup. Kehidupan di dunia ini hanya jalan, hanya cara, hanya metode, untuk mencapai kehidupan abadi yang baik dan benar, yang kita sebut akhirat. Nah, puasa adalah juga jalan cara dan metode untuk kepentingan akhirat itu.

Tapi manusia terpeleset. Kehidupan manusia, terutama dengan kebudayaan modernnya yang penuh kemewahan dan basa-basi, menganggap hidup di dunia ini segala-galanya. Tujuan hidup adalah kejayaan, kesejahteraan, dan kemewahan eksistensi di dunia. Jadi, kebudayaan sehari-hari mereka adalah tradisi-tradisi yang diutamakan. Di dalam kebudayaan yang diutamakan dan dijadikan tujuan itu : Tuhan, puasa, haji, dan seterusnya dijadikan faktor pendukung kebudayaan. Itulah yang sering saya katakan, Tuhan tidak dinomorsatukan (wong gitu kok ngaku bertauhid, ya?).

Maka terjadilah apa yang digelisahkan. Puasa yang merupakan peribadatan khusushan dan berlaku sebagai perjanjian langsung dengan Tuhan (karena, bisa saja mengaku puasa, diam-diam tidak puasa di belakang punggung orang lain, tetapi kan tidak bisa di depan Tuhan?), di integrasikan ke dalam kebiasaan-kebiasaan budaya.

Kelompok-kelompok manusia, baik yang berkumpul berdasarkan komitmen jamaah keislaman, maupun yang berkumpul berdasarkan deal bisnis, perkumpulan olah raga, jaringan politik, dan lain sebagainya, memanfaatkan puasa untuk maksud-maksud budaya, misalnya lobi, diplomasi, dan seterusnya. Buka puasa bersama diadakan di kantor-kantor, di hotel, rumah gubernur, dan lain-lain.

Saya sering diundang buka puasa bersama yang 90 % hadirinnya tidak berpuasa, atau bahkan mayoritas mereka tidak beragama Islam. ya itu tadi, puasa tidak berposisi primer, melainkan sekunder. Puasa hanya alat kepentingan dagang, lobi politik, atau untuk media tender.

Kita dilarang ber-su’uzhan terhadap semua itu. Siapa tahu cara Allah memberikan hidayah memang demikian? Bagaimanapun, alhamdulillah ada banyak orang yang memperhatikan puasa. Di mana-mana ada spanduk: “Hormatilah Bulan Puasa”, atau, “Hormatilah Orang Berpuasa.” Sambil lewat dan membacanya kita nyeletuk, “memangnya orang yang berpuasa gila hormat?! Atau, “Bulan puasanya saja yang dihormati, bukan hakikat ibadahnya.” Memang banyak orang menyangka kaum yang beribadah memerlukan penghormatan dari sesama manusia, padahal penghormatan atau karomah yang sejati dan bermanfaat dunia-akhirat itu hanya berasal dari Allah swt belaka.

Dan lagi, Anda tidak usah memimpikan untuk memberantas semua itu. Yang namanya kebudayaan manusia memang hanya pergeseran dari mode ke mode. Soal rambut, celana, rok, mobil, rumah, dan apa saja. Juga akhirnya agama diaktualisasikan melalui simbol-simbol budaya. Akhirnya simbol budaya itu lebih dianggap penting dibanding agamanya sendiri. Bukankah umat islam memang gampang dibujuki oleh simbol-simbol? Sorban, peci, sarung, gelar haji, kefasihan mulut, dan lain sebagainya.

Secara keseluruhan, kita juga Tahu agama memang tidak nomor satu bagi sikap hidup kebudayaan modern yang semakin sekuler ini. Jangankan agama, lha wong Tuhan saja tidak dijadikan pertimbangan utama perilaku seseorang. Dalam sistem-sisem nilai sosial, agama juga hanya instrumen, bukan substansi. Jadi, Anda tidak usah sedih untuk mereka, wong mereka semua wis gedhe-gedhe, sudah bisa bertanggung jawab sendiri atas hidupnya. (hd/liputanislam.com)

*Emha Ainun Nadjib yang akrab dipanggil Cak Nun adalah seorang budayawan kawakan Indonesia. Tulisan ini disadur dari buku Bermain Politik di Bulan Ramadhan, Pustaka Adiba : Surabaya, 1998.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL