Habib Lutfi di salah satu pengajiannya

Habib Lutfi di salah satu pengajiannya

LiputanIslam.com — Sebagai negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, merupakan sebuah hal yang lumrah jika kita menyaksikan banyaknya tempat peribadatan (masjid, mushola) yang terdapat di sekitar kita. Mungkin kita bisa menjumpai masjid atau mushola di setiap komplek perumahan, atau dalam jarak yang tak sampai 1 km. Hanya saja, meski jumlah masjid cukup menjamur, hal ini tidak diikuti dengan jumlah jemaah yang datang untuk beribadah di dalamnya, kecuali hari-hari tertentu.

Dengan banyaknya jumlah masjid yang ada di sekitar kita, maka, apakah membangun masjid merupakan sebuah prioritas?

Dilansir dari habiblutfi.net, pada Jumat malam, 03 April 2015, seorang tamu meminta nasihat kepada Maulana Habib Luthfi bin Yahya. Tamu tersebut bermaksud mendirikan sebuah masjid di perumahan yang ia kembangkan.

Habib Lutfi menanggapi, “Apa dengan mendirikan masjid fakir-miskin bisa makan, apa mahasiswa bisa kuliah, apakah anak yatim terjamin. Kalau seandainya dana yang dibutuhkan untuk pembangunan masjid itu 3 miliar, maka lebih baik uang itu dijadikan dana abadi, digunakan untuk modal usaha yang resikonya sangat kecil. Diputar dengan manajemen yang baik, hasilnya untuk yayasan yatim-piatu, yayasan masjid, lembaga pendidikan, beasiswa santri, siswa dan mahasiswa. Itu lebih baik.”

Masjid sudah banyak sekali. Jauh hari Nabi saw bersabda, منأشراطالساعةأنيتباهىالناسبالمساجد , salah satu tanda kiamat (sudah dekat) adalah orang berbangga-banga dengan (membangun banyak) masjid.

Salah satu fungsi masjid adalah untuk salat Jumat. Persaratan sebuah masjid bisa dijadikan tempat untuk salat Jumat menurut beberapa madzhab sangat ketat, Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Syafii tidak memperbolehkan mendirikan shalat Jumat dalam satu kota. Madzhab lain juga mensyaratkan shalat Jumat hanya boleh didirikan di Masjid Jami.

Kenapa sedemikian ketat? Syeikh Abdurahman al-Jaziri dalam fiq ala madzhabib al-Arba’ah menjawab, “Hikmahnya, untuk menunjukan kekompakan umat Islam, dan haibah (wibawa) umat Islam.” Bahkan dahulu, khutbah Jumat diberbagai masjid seragam, semua menggunakan khutbah yang dibuat oleh dan dikeluarkan seorang mufti, seperti menteri agama saat ini.

“Sekarang sudah banyak masjid, kalau belum banyak masjid, saya tidak berani mengatakan ini. Kecuali kalau di suatu daerah masjid masih jarang, antara satu dan masjid lain 5-10 km, baru masjid selayaknya didirikan. Muhsola atau masjid yang masih layak guna tidak perlu diperbaiki, dananya lebih baik untuk kemaslahatan umat,” jelas Habib Lutfi. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL