Oleh: Sofia Abdullah*

Sejak diangkatnya Kartini menjadi pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden Sukarno no 108 tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, namanya semakin mengundang kontroversi dari masa kemasa. Bagaimana tidak karena pada masa yang kurang lebih sama dengan masa Kartini hidup, bertebaran pahlawan wanita di berbagai propinsi di Indonesia saat itu dengan berbagai keahliannya.

Pertanyaan kemudian timbul, lalu kenapa hanya Kartini yang seolah-olah satu-satunya pahlawan wanita yang paling berjasa di nusantara? Hingga ada hari khusus dan lagu untuk mengenang beliau, Siapakah sebenarnya Kartini? Benarkah sosok Kartini terkait dengan Politik Etis? Benarkah Kartini Dibunuh?

Tulisan yang akan saya share menjadi 3 bagian ini, adalah ringkasan biografi Kartini untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang beredar seputar sosok beliau, yang juga jadi pertanyaan saya selama ini sebagai pemerhati sejarah nusantara. Sosoknya yang mengundang pro-kontra membuat saya semakin penasaran untuk menelusuri kehidupan Kartini yang singkat namun meninggalkan banyak pertanyaan seputar sosoknya.

Sumber utama tulisan ini adalah buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang disusun ulang oleh Armijn Pane hingga menjadi bab-bab yang kita kenal sekarang. Buku ini adalah kumpulan surat R.A Kartini yang dibukukan oleh salah seorang sahabat penanya J.H Abendanon, dengan judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya Dari Kegelapan Menuju Cahaya, kemudian diterjemahkan oleh 4 orang sarjana Leiden dari Hindia (Indonesia) dan disusun kembali oleh Armijn Pane. Namun sayangnya sejak awal buku ini terbit baik dalam bahasa Belanda-nya apalagi terjemahan bahasa melayu-nya mengalami banyak sekali pengguntingan atau di edit, dan terjemahan bahasa Indonesia yang ada sekarang hanya tinggal 40% dari edisi Bahasa Belanda-nya.

Buku-buku lainnya yang menjadi sumber tulisan ini antara lain; Satu Abad Kartini (1979) yang merupakan kumpulan tulisan para ahli yang telah membaca dan meneliti kehidupan Kartini, buku biografi Kartini karya Pramoedya Ananta Toer (alm) yang berjudul ‘Panggil Aku Kartini Saja’ dan buku penelitian Tempo; ‘Gelap Terang Hidup Kartini’, dan beberapa penelitian lain yang saya ambil dari beberapa website.

Setelah membaca dan mempelajari lebih dalam, barulah dapat di fahami siapa itu Kartini, berdasarkan surat-suratnya, dan Kartini berdasarkan penelitian para ahli sejarah dari masa ke masa. Dari surat-suratnya kepada para sahabatnya kita bisa melihat pandangan-pandangan Kartini ketika ia berusia kanak-kanak, remaja hingga dewasa dan apa yang mendasari ia bersikap demikian.

Dari beberapa buku yang menjadi pegangan saya untuk menulis artikel ini, saya pelajari ada dua sisi dalam kehidupan Kartini yang terungkap dalam surat-suratnya, sisi pertama adalah sosok Kartini yang masih sangat muda dengan emosi yang bergolak, yaitu usia 12-17 tahun, dan sosok Kartini yang telah mulai dewasa pada usia 17-25 tahun, yang telah mengerti tentang segala hal di lingkungannya dengan lebih mendalam. Namun sayangnya sosok Kartini dan pandangan-pandangan yang telah dewasa dan melihat kondisi di sekitarnya dengan lebih mendalam justru kurang diperhatikan.

Sisi pertama kehidupan Kartini telah banyak kita ketahui melalui forum diskusi, laman-laman di Website ataupun media sosial, karenanya dalam tulisan ini penulis akan lebih menyorot sisi kehidupan Kartini saat ia berusia 17-25, dan kejanggalan-kejanggalan seputar Kartini. Namun satu hal yang tidak pernah berubah dari seorang Kartini adalah keinginannya untuk memajukan bangsanya terutama kaum wanita lewat pendidikan, tujuannya jelas, bukan untuk menjadi pegawai pemerintah, atau bekerja di luar rumah, namun tujuan pendidikan bagi kaum wanita menurut Kartini terkait dengan tugas utama wanita sebagai pendidik anak-anaknya, seperti yang tertulis dalam suratnya :

“dan bagaimanakah seorang Ibu dapat mendidik anak-nya kalau ia sendiri tidak berpendidikan?”

Kedua sisi dalam kehidupan Kartini dapat terbaca dalam surat-suratnya yang ia tulis ketika berusia 17-19 tahun, sebagai seorang remaja yang megisahkan kehidupannya, suka dukanya dan pandangannya pada masa kanak-kanak dan remaja. Dan sebagaimana remaja pada umumnya yang memiliki emosi yang bergolak, Kartini pun demikian, ia banyak meluapkan emosinya tentang lingkungan sekitarnya, agama, tradisi dan adat yang berlaku saat itu.

Dan sebagaimana layaknya remaja, dan tinggal di dalam pingitan, tentunya memiliki pengetahuan yang sangat kurang tentang kondisi Hindia Belanda (Indonesia) sebagai negeri jajahan, dan tidak mengetahui dengan jelas penyebab terpuruknya kondisi lingkungan sekitar kediamannya serta kebijakan-kebijakan yang diambil kaum bangsawan ketika itu.

Sebagai seorang remaja, ketidak tahuan Kartini tersebut adalah hal yang sangat wajar mengingat usianya yang masih sangat belia, yaitu 12,5 tahun ketika mulai dipingit. Sebagai anak yang pandai dan memiliki rasa ingin tahu yang besar ia ingin sekali meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, namun tidak di perbolehkan karena alasan tradisi dan adat. Dari sinilah Kartini muda mulai protes, terhadap lingkungan sekitarnya.

Walaupun demikian Kartini termasuk gadis yang cukup beruntung pada masanya, karena selain terlahir dari keluarga bangsawan, ayah, kakeknya dan garis keturunannya keatas adalah juga kaum intelektual dengan pemahaman Islam yang bagus, karena itu rasa ingin tahu Kartini yang besar pun terfasilitasi.

Hal ini terlihat karena dalam masa pingitan pun ayahnya, R. M. A Sosroningrat, tetap memberikan pendidikan yang terbaik bagi putri-putrinya. Dalam hal pendidikan agama pun sebenarnya Kartini cukup mendapatkannya dari ayahnya ataupun ibunya, Ngasirah, sebagai anak seorang guru agama yang disegani, ia mendidik Kartini cukup keras dalam membaca dan menghafal Al Qur’an.

Namun sayang ajaran Islam yang diterima Kartini hanya bersifat ritual tanpa penjelasan, penjelasan yang ia dapatkan hanya bersifat petuah atau nasehat turun temurun dari keluarganya, dan beberapa diantaranya sudah berbaur dengan tradisi dan adat.

Hal ini terjadi karena pemerintah kolonial mengatur pendidikan agama Islam bagi para pejabat dengan demikian ketat hingga walaupun membaca Al Qur’an masih diperbolehkan namun penerjemahannya serta tafsirnya dilarang, karena belanda takut bila kaum muslim mengetahui ajaran Islam, akan terus melakukan perlawanana terhadap pemerintah kolonial, namun karena masih belia Kartini tidak mengetahui politik kolonial ini.

Pergaulannya yang luas dengan kalangan Eropa, berpengaruh banyak terhadap pola pikir gadis Jawa ini, ditambah lagi tradisi feodal di kalangan bangsawan Jawa, yang dimata Kartini sangat merendahkan wanita, berbanding terbalik dengan apa yang Kartini kecil lihat terhadap perlakuan wanita Eropa, hingga menambah deretan kekaguman Kartini kecil kepada bangsa Eropa.

Namun berjalannya usia, bertambahnya ilmu membuat Kartini semakin faham bahwa apa yang selama ini ia anggap benar ternyata tidak selamanya benar, demikian pula sebaliknya sesuatu yang ia anggap salah belum tentu salah. Inilah periode terbalik dalam kehidupan Kartini, ketika ia berumur 18 hingga wafatnya pada usia 25 tahun.

Titik balik kehidupan Kartini dimulai ketika ia bertemu beberapa orang guru yang mengajarkan agama Islam padanya, dari guru-guru nya inilah ia mulai berkenalan dengan Islam sejati melaui terjemah dan tafsir Al Qur’an, tentang gurunya ini Kartini mengatakan dalam suratnya :

“Ada disini seorang tua tempat aku meminta ‘bunga yang berkembang di dalam hati’ (maksudnya Ilmu agama yang selama ini di rindukan Kartini). Sudah banyaklah yang diberikannya dan sangatlah banyaknya ‘bunga’ simpanannya, dan aku hendak lagi, senantiasa lagi, dan dia pun suka menambahnya lagi dan lagi tapi tiada boleh aku peroleh dengan percuma saja, bunganya itu harus kubeli…dengan apa? Apakah pembayarannya? Lalu dengan sungguh-sungguh terdengarlah suaranya mengatakan, “berpuasalah sehari semalam, berjagalah pula waktu (malam) itu, bersepikan diri (perbanyaklah tafakkur/merenungi nikmat yang telah Allah SWT berikan).

Habis malam datanglah siang

Habis topan datanglah reda

Habis perang datanglah menang

Habis duka datanglah suka.

(Hal. 149, Pane)

Islam yang selama ini ia ketahui hanya dari ritualnya saja, dan hafalan-hafalan ayatnya saja, kini telah membukan cakrawala ilmu bagi seorang Kartini, hingga periode ini ia mengatakan dalam suratnya kepada ny Van Kol ;

Wahai sangat benar gembira hati para orang tua karena kami yang tersesat telah balik kepada jalan yang benar, sangatlah mengharukan hati kami. Seorang tua disini karena girangnya, menyerahkan kepada kami semua kitab-kitabnya naskah bahasa Jawa, yang ditulis dengan huruf Arab, kami pelajarilah kembali membaca dan menulisnya (maksudnya naskah bahasa Jawa dengan huruf Arab atau arab pegon_penulis) (lih. Hal.151, Pane)

Setelah periode ini, sering kali dalam suratnya kepada teman-temannya ia mengatakan “dari kegelapan menuju cahaya” yang dipetik dari Al Qur’an surat al Baqarah : 257, untuk mengatakan perubahan dirinya dari Kartini yang lama menjadi Kartini yang baru, dari yang tidak mengerti apa-apa tentang agama, menjadi mengetahui ajaran-ajaran agamanya, sehingga ia merasa mendapatkan cahaya setelah berjalan di kegelapan.

Dari kata-katanya ini-lah diambil judul kumpulan suratnya yang dalam bahasa Belanda memiliki arti yang sama “Door Duisternis tot Licht” yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “Habis gelap terbitlah terang” agar terdengar lebih puitis.

Dalam buku penelusurannya tentang RA Kartini, yang kemudian ia beri judul ‘Panggil Aku Kartini Saja’ Pramoedya Ananta Toer menyatakan dengan gamblang bahwa pemerintah Belanda dengan politik etisnya membesarkan nama Kartini karena Kartini dianggap sebagai contoh terbaik ‘didikan’ Belanda yang bisa diberikan kepada pribumi jajahannya. (hal. 12). Benarkah demikian?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, baiknya kita mengetahui dulu siapa itu Kartini melalui alur waktu kehidupan Kartini. (LiputanIslam.com)

Bersambung ke bagian 2

*Sofia Abdullah adalah peneliti sejarah independen, tinggal di Bandung, blognya: sofiaabdullah.wordpress.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL