syukur3

“Atha menceritakan bahwa suatu hari ia bersama Ubaid bin Umair bertamu ke rumah Siti Aisyah ra. Ia bertanya kepada Siti Aisyah ra, “Beritahukan kepada kami suatu hal yang menakjubkan dari Rasulullah saaw yang pernah engkau saksikan.” Aisyah ra menangis lalu berkata, “Keadaan Rasul yang mana yang tidak menakjubkan? Pada suatu malam beliau berada di rumahku. Beliau masuk ke tempat tidur bersamaku sehingga kulitku bersentuhan. Beliau mengatakan, “Wahai puteri Abu Bakar, tinggalkanlah diriku, aku ingin beribadah kepada Tuhanku.” “Saya ingin lebih dekat denganmu, “ pintaku.

Aisyah ra kemudian mengambilkan gerabah air, dan Rasulullah saaw berwudhu dengannya. Setelah itu, Rasulullah saaw berdiri melaksanakan salat, dan menangis hingga air matanya bercucuran sampai ke dadanya. Beliau rukuk, sujud, dan mengangkat kepalanya dalam keadaan manangis. Begitulah, sampai Bilal mengumandangkan azan untuk salat subuh. “Ya Rasulullah saaw, apa yang membuatmu menangis begitu rupa, padahal seluruh dosamu, yang lalu maupun yang akan datang telah diampuni oleh Allah swt.” tanya Aisyah ra. Rasulullah saaw berkata, “Apakah aku tidak pantas menjadi hamba yang senantiasa bersyukur.” (H.R. Ibnu Hibban)

Syukur umumnya diartikan sebagai ungkapan terima kasih, yang biasanya diungkapkan dengan bacaan alhamdulillahi rabbil ‘alamin, yang berarti “segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” Prof. Quraish Shihab (dalam Nafis, 1996: 162-163) menjelaskan kata hamd seringkali diterjemahkan pujian dan dianggap mempunyai kemiripan dengan syukur bahkan mungkin disamakan artinya. Namun pada hakikatnya dari segi bahasa, keduanya berbeda. Hamd (pujian) disampaikan kepada yang dipuji, walaupun yang bersangkutan tidak memberi apapun. Ia dipuji karena ada sifat atau sikapnya yang indah/baik. Kalau anda memuji dan mensyukuri Allah, atas segala perbuatan dan sifat-Nya, maka pada hakikatnya anda mengakui bahwa segala perbuatan dan sifat Allah adalah indah dan baik. Kalaupun pada lahirnya ada perbuatan/ketetapan Tuhan yang mungkin oleh kaca-mata manusia dinilai “kurang baik” maka harus disadari bahwa penilaian tersebut adalah akibat keterbatasan manusia dalam arti pasti ada sesuatu yang luput dari jangkauan pandanganya sehingga penilaian menjadi demikian. Walhasil, alhamdulillah berarti “segala puji bagi Allah.

Adapun syukur, lanjut Quraish, pada dasarnya digunakan untuk mengakui dengan tulus penuh penghormatan atas nikmat yang dianugerahkan, baik dengan ucapan atau dengan perbuatan. Dalam Bahasa Arab, kata kerja syukur (syakara) lebih diartikan sebagai “membuka/menampakkan.” Karena itu, Alquran juga memperhadapkan kata itu dengan kufr/kafara “yang berarti menutup atau kikir,” seperti dalam firman-Nya : la in syakar tum la azidanna kum wa la in kafar tum inna adzabi la syadid, ”Kalau kamu bersyukur, pasti bertambah nikmat-Ku untukmu, dan kalau kamu kufur, sesungguhnya azabku sangat pedih”  (Q.S. Ibrahim : 7); atau wa asykur-u li wa la takfurun, “Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlan kufur” (Q.S. al-Baqarah : 152).

Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya Madarij as-Salikin mendefenisikan syukur sebagai kondisi hati untuk cinta pada wujud Allah yang telah memberikan nikmat-Nya, dilanjutkan dengan pembuktian anggota badannya yang diarahkan untuk senantiasa mentaati-Nya, disertai pengakuan lisan melalui pujian kepada-Nya. Dengan defenisi ini, para ulama umumnya membagi syukur pada tiga tingkatan : syukur hati; syukur lisan; dan syukur perbuatan. Ketiga tahapan syukur itu harus berkesinambungan dan terjalin erat. Kita diberikan oleh Allah mata, maka syukurnya kita adalah dengan menggunakan mata itu untuk hal-hal kebaikan. Kita diberikan telinga, maka gunakanlah untuk mendengar kebaikan. Kita diberikan lisan, maka ucapkanlah kata-kata yang mengajak pada keimanan. Kita diberi uang, harta, jabatan, yakinlah itu rahmat Allah, ucapkanlah alhamdulillah, dan yang terpenting pergunakanlah semuanya untuk jalan yang diridhai Tuhan, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau mengabarkannya” (Q.S. ad-Dhuha : 11). Karenanya, kita belum dinilai bersyukur, jika hanya meyakini memperoleh nikmat dari Allah, lalu mengucapkan alhamdulilah, tetapi menggunakan nikmat itu pada jalan maksiat.

Lantas, bagaimana agar syukur kita selaras antara hati, lisan dan tindakan? Prof. Quraish Shihab  menjawab bahwa untuk mensyukuri suatu nikmat secara sempurna, seseorang harus mengetahui untuk apa nikmat tersebut diciptakan/dianugerahkan Allah. Jika telah ditemukan jawabnya, maka gunakanlah nikmat itu sesuai dengan tujuan dimaksud. Karena itu, defenisi syukur adalah menggunakan segala apa yang dianugerahkan Allah sesuai dengan tujuan penciptaan anugerah itu. Kesadaran yang bermula dari lubuk hati yang terdalam itu, mengantar seseorang untuk menyampaikan pujian kepada-Nya dalam bentuk lisan, disusul dengan menggunakan semua anugerah/nikmat yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahan-Nya. Melalui syukur peringkat ketiga ini, terpenuhi janji Allah yang mengatakan : “Kalau kamu bersyukur, pasti bertambah nikmat-Ku untukmu” (Q.S. Ibrahim : 7).

Jika kita cermati, Q.S. Ibrahim : 7 di atas, menunjukkan juga dimensi syukur dua arah, yakni dari hamba dan dari Tuhan, dari makhluk dan dari Khaliq. Manusia beryukur kepada Allah swt, dan Allah juga “bersyukur” kepada manusia. Menurut al-Qusyairi dalam risalah-nya (2007: 244), syukurnya hamba kepada Allah swt, adalah dengan memuji kepada-Nya dan dengan mengingatkan kebaikan-Nya; sedangkan syukurnya Allah swt kepada hamba bermakna Allah memuji kepadanya dan mengingat kebaikannya. Perbuatan baik hamba adalah taat kepada Allah swt, sedangkan perbuatan baik Allah swt adalah dengan memberikan tambahan kenikmatan dan pertolongan. Karena itulah, pada hakikatnya kita tak mampu mensyukuri seluruh nikmat Allah,seperti diungkapkan Alquran, “Kalau kamu mencoba-coba menghitung nikmat Allah , niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya”, dan juga karena setiap syukur kita membutuhkan syukur lagi, dan kesadaran mensyukuri nikmat Allah juga merupakan bagian dari kenikmatan itu sendiri.

syukur4

Dikisahkan, Nabi Daud as pernah menyatakan, “Ya Tuhan, bagaimana aku mampu bersyukur kepada-Mu, sedangkan setiap syukurku kepada-Mu merupakan juga nikmat dari-Mu?” Mendengar itu, Allah swt menurunkan wahyu kepada Nabi Daud as, “Sekarang, engkau telah benar bersykur kepada-Ku.”

Imam Ali Zainal Abidin dalam salah satu doanya tentang ketidaksanggupan dirinya untuk bersyukur dan mentaati Allah (dalam Shahifah Sajjadiyah, doa no. 37) mengungkapkan :

“Ya Allah! Tidaklah mungkin seseorang mampu mensyukuri-Mu, 
kecuali datanglah kepadanya kebaikan-Mu, 
yang mengharuskannya lagi untuk mensyukuri-Mu.
Tidaklah, meskipun sudah mencobanya, seseorang mencapai tingkat mentaati-Mu,
tanpa merasakan kekurangan dalam memenuhi hak-Mu
semua itu karena anugerah-Mu.
Hamba-Mu yang paling bersykur, tidak mampu dalam mensyukuri-Mu
Hamba-Mu yang paling berbakti, tidak sanggup mentaati-Mu”

———–

Dalam doanya yang lain Doa Para Pensyukur Nikmat”, cucu Rasulullah saaw ini megungkapkan : 

“Tuhanku, runtunan karunia-Mu telah melengahkan aku
untuk bernar-benar bersyukur pada-Mu
Limpahan anugerah-Mu telah melemahkan aku
untuk menghitung pujian atas-Mu
Iringan ganjaran-Mu, telah menyibukkan aku
untuk memperbanyak pujaan pada-Mu
 
Inilah tempat orang yang mengakui limpahan nikmat
tetapi membalasnya tanpa terima kasih
yang menyaksikan kelalaian dan kealpaan dirinya
Padahal Engkau Maha Kasih dan Maha Sayang, Maha Baik, Maha Pemurah
yang tak kan mengecewakan pencari-Nya
yang tak kan menolakkan dari sisi-Nya pendamba-Nya
 
Di halaman-Mu singgah kafilah pengharap
Di serambi-Mu berhenti dambaan para pencari karunia
Janganlah membalas harapan kami dengan kekecewaan dan keputusasaan
Janganlah menutup kami dengan jubah keprihatinan dan keraguan
 
Tuhanku, besarnya nikmat-Mu mengecilkan rasa syukurku
Memudar—disamping limpahan anugerah-Mu—puji dan sanjungku
Karunia-Mu yang berupa cahaya iman menutupku dengan pakaian kebesaran
Curahan anugerah-Mu membungkusku dengan busana kemuliaan
Pemberian-Mu merangkaikan padaku kalung nan tak terpecahkan
dan melingkari leherku dengan untaian yang tak teruraikan
Anugerah-Mu tak terhingga sehingga kelu lidahku menyebutkannya
Karunia-Mu tak berbilang, sehingga lumpuh akalku memahaminya
apalagi menentukan luasnya
 
Bagaimana mungkin aku berhasil mensyukuri-Mu
Karena rasa syukurku pada-Mu memerlukan syukur lagi
Setiap kali aku dapat mengucapkan : “Bagi-Mu pujian”
Saat itu juga aku terdorong mengucapkan lagi : “Bagi-Mu pujian”
 
Tuhanku, sebagaimana Engkau makmurkan kami dengan karunia-Mu
dan memelihara kami dengan pemberian-Mu
Sempurnakan bagi kami limpahan nikmat-Mu
Tolakkan dari kami kejelekan azab-Mu
Berikan bagi kami—di dunia dan akhirat
yang paling tinggi dan paling mulia lambat atau segera
Bagi-Mu pujian –atas keindahan ujian-Mu dan limpahan kenikmatan-Mu
(Bagi-Mu) pujian yang selaras dengan ridha-Mu
yang sepadan dengan kebesaran kebajikan-Mu
Wahai Yang Maha Agung— Wahai Yang Maha Pemurah dengan rahmat-Mu
Wahai Yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi
Ya arhamar rahimin.
(ImamAli Zainal Abidin, Shahifah Sajjadiyah : Gita Suci Keluarga Nabi, doa no. 74, hal. 229-231)

Demikianlah untaian doa yang sangat indah dari lisan mulia Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad. Semoga kita senantiasa mampu bersyukur kepada Allah swt atas segala nikmat, ujian, dan cobaan-Nya. (cr/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL