Foto: dkmhigashifuji.wordpress.com

Foto: dkmhigashifuji.wordpress.com

LiputanIslam.com — Seorang penulis yang namanya sering wara-wiri mengisi berbagai rubrik di media massa baik cetak maupun elektronik, AS Laksana, mengungkapkan keresahan hatinya atas maraknya berbagai kampanye hitam yang menyebar di mayarakat, termasuk yang mempengaruhi ayahnya sendiri. Kampanye hitam itu seperti menggunakan isu-isu SARA, yang lantas ditelan begitu saja tanpa mengecek kebenarannya terlebih dahulu.

Serangkaian fitnah menggelinding bak bola salju yang semakin lama semakin membesar. Tak ketinggalan, pihak asing pun turut “menggoreng” berbagai isu sensitif yang rentan menebar perpecahan. Belakangan ini, seorang jurnalis senior Amerika Serikat menulis berbagai hal yang cenderung memojokkan salah satu capres, dan menjadi topik hangat di media sosial. Sementara kebenaran berita itu sendiri belum diverifikasi.

Bagaimanakah Islam memandang fenomena ini? Dari Redaksi NU Online, dipublikasikan tentang haramnya ghibah dan bhutan, yang marak terjadi akhir-akhir ini menjelang Pilpres. Seperti apa? Berikut kutipannya:

Masa-masa menjelang pemilihan umum Presiden seperti sekarang ini adalah waktu yang sarat akan wacana politik. Intensitas politik di dalamnya jauh lebih tinggi dibandingkan hari-hari biasanya. Hampir tidak ada ruang bebas nilai lagi, karena dimanapun tempat orang selalu membicarakan politik, memilih no 1 atau 2? Tidak hanya di dunia nyata tetapi juga dunia maya.  Semua orang hiruk pikuk membahas soal politik di media sosial.

Sayangnya pembahasan tentang calon presiden ini seringkali tidak terkontrol. Pembahasan tidak sebatas pada visi dan misi saja ataupun realita objektif semata, tetapi juga segala hal yang berhubungan dengan kehidupan para capres. Bahkan terasa ada keinginan untuk saling menjatuhkan dengan cara menjelek-jelekkan salah satu capres, entah melalui kampanye hitam atau sosialisasi palsu.

Hal ini tentunya merusak kesehatan sosial bangsa ini, apalagi jika yang melakukan tindak politisasi itu adalah stasiun-stasiun televisi dan awak media. Sungguh korban pertama yang berjatuhan adalah bangsa kita sendiri karena mereka dijejali dengan informasi basi, cara berpikir picik, mempertajam perbedaan bahkan membangun permusuhan.

Klik untuk memperbesar

Klik untuk memperbesar

Tindakan yang kontra produktif ini dalam agama Islam disebut dengan ghibah, yaitu menceritakan keburukan orang lain yang memang sesuai dengan kenyataannya. Dan disebut dengan buhtan apabila keburukan itu tidak berdasar pada kenyataan. Dan buhtan ini jauh lebih jahat.

Mengenai hukum larangan ghibah dan buhtan surat Al-Hujarat ayat 12 menerangkan:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُــلَ لَحْمَ أَخِيــهِ مَيْتــاً فَكَرِهْتُمُوهُ  وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَــوَّابٌ رَّحِيـمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang

Beberapa fragmen dalam hadits Rasulullah saw menunjukkan apakah ghibah itu, dan bagaimanakah praktik ghibah itu berlangsung. Pertama hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.

قيل يارسول الله مالغيبة؟ قال صلى الله عليه وسلم ذكرك اخاك بما يكره قيل افرأيت ان كان فى اخى مااقول؟ قال صلى الله عليه وسلم ان كان فيه ماتقول فقد اغتبته وان لم يكن فيه ما تقول فقد بهته (رواه أبو داود)

Suatu ketika Rasulullah saw pernah ditanya tentang ghibah, Ya Rasulullah apakah ghibah itu? beliau menjawab “engkau menceritakan saudaramu tentang sesuatu yang tidak disenanginya (dibencinya)”. Kemudian orang itu kembali bertanya kepada Rasulullah saw “bagaimana jika memang kenyataanya demikian?” Rasulullah saw menjawab “jika memang demikian adanya maka engkau telah me-ghibahkan dia dan jika tidak demikian adanya, maka engkau telah melakukan dusta besar atasnya.”

Bahkan ghibah tidak hanya sebatas pembicaraan, tetapi bisa juga sekedar isyarat. Sebagaimana yang tergambar pada hadits riwayat Hasan bin Al-Mukhariq bahwa:

ان امراة ادخلت على عائشة رضى الله عنها فلما قامت لتخرج اشارت عائشة رضى الله عنها بيدها الى النبى صلى الله عليه وسلم اى انها قصيرة فقال النبى النبى صلى الله عليه وسلم اغتبتها (رواه ابن جرير)

Ada seorang perempuan yang masuk kepada Aisyah ra, maka tatakala perempuan itu berdiri Aisyah berisyarat dengan tangannya ke arah Rasulullah saw yang artinya bahwa perempuan itu pendek. Maka sabda Rasulullah saw “Engkau sudah ghibahkan dia”.

Jika isyarat tangan Aisyah ra dikategorikan sebagai ghibah oleh Rasulullah saw maka sesungguhnya berbagai gambar, tulisan melalui Twitter, Facebook, dan media sosial lain tentang pasangan calon presiden tentunya lebih dari sekedar ghibah.

Dalam kitabnya Mukasyafatul Qulub, al-Ghazali memberikan penjelasan dan alasan tentang keharaman dan keburukan ghibah yang diambilnya dai hadits Rasulullah saw.

وقال صلى الله عليه وسلم اياكم والغيبة فان الغيبة اشد من الزنا ان الرجل قد يزنى ويتوب فيتوب الله عليه وان صاحب الغيبة لايغفرله حتى يعفوله صاحبه

Bersabda Raslullah saw jauhkanlah dirimu dari ghibah. Karena sesungguhnya ghibah itu lebih berat dari pada berzina. Terkadang seorang berzina dan bertaubat, maka Allah terima taubatnya. Sedang orang yang me-ghibah itu tidaklah ia diampuni Allah swt. sehingga ia diberi maaf oleh orang yang bersangkutan.

Dengan kata lain Al-Ghazali ingin menyampaikan bahwa ghibah itu lebih kejam dari sekedar zina. Karena banyak orang yang berzina kemudian bertaubat, tetapi jarang sekali orang yang bertaubat karene melakukan ghibah. Malahan jarang sekali mereka yang berghibah merasa dirinya bersalah. Karena apa yang dikatakan itu terasa sekedar informasi belaka. Bukankah demikian kasus yang diaalami oleh Sayyidah Aisyah?

Oleh karena itu, hindarilah ghibah disamping menumpuk dosa yang berpengaruh kepada pribadi-pribadi individu juga merusak tatanan sosial, sebagaimana virus yang merusak pola pikir bangsa, terutama di hari-hari menjelang pemilu sepeti sekarang ini. (ba)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL