Image(42)

“Aku perintahkan Anda untuk tidak berlaku tirani dan menindas rakyat, jangan memperlakukan mereka dengan buruk, jangan memfitnah dan menuduh mereka, karena mereka adalah saudara-saudara Anda, dan merekalah yang membantu Anda mengumpulkan pajak dan mencarikan sarana serta jalan untuk membantu fakir miskin.

 Sesungguhnya aku telah memberikan Anda bagian Anda, dan kini Anda harus memberikan kepada mereka bagian mereka. Kalau tidak, maka akan banyak orang yang demontrasi guna mengadukan dan memprotes Anda kelak pada Hari Pengadilan (yang mana pada hari itu, mereka menjadi musuh Anda dan mereka tidak lagi di bawah kekuasaan Anda). Celakalah orang yang didemontrasi untuk diadukan kepada Allah oleh kaum miskin, kaum fakir, para pengemis, dan mereka yang terampas hak-haknya.

Ketahuilah bahwa orang yang menyalahgunakan dana publik, yang mengisi perutnya dengan dana publik, yang merusak agama dan hati nuraninya dengan perbuatan seperti itu, maka dia akan mendapatkan hukuman serta aib di dunia maupun di akhirat. Seburuk-buruk ketidakjujuran adalah melanggar amanat dana publik (korupsi), dan contoh paling keji pemerintahan adalah bila bentuk-bentuk pengkhianatan seperti itu ditolerir oleh pemimpinnya.” (Nahjul Balaghah, Surat ke-26)

Pesan di atas adalah amanah ilahiah yang disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib as kepada para pemimpin pemerintahan. Amanah ilahiah ini memberikan garis-garis besar sikap pemimpin terhadap rakyatnya. Bagi Imam Ali, kesalehan individual pemimpin tidaklah berharga tanpa kesalehan sosial, di mana seorang pemimpin membuktikan dirinya sebagai pengemban amanah yang bertanggung jawab. Sebab, kesalehan individual, hanyalah hubungan vertikal kepada Tuhan, sedangkan kesalehan sosial berdimensi ganda, yakni pertanggungjawaban secara horizontal kepada masyarakat, dan tanggung jawab vertikal di hadapan Allah swt. Sebab itu, kita harus menyadari, bahwa kepemimpinan bukanlah hak melainkan tugas yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya.

Dalam dunia politis yang agamis, manusia merupakan makhluk terbaik hasil kreasi Tuhan, dijadikan sebagai pengemban amanah untuk memakmurkan jagat raya. Kemakmuran hanya didapatkan dengan sistem pemerintahan amanah bukan kekuasaan. Amanah ini didasarkan pada kepercayaan dan tanggung jawab, sedangkan kekuasaan diazaskan dengan kepemilikan dan kebebasan. Karenanya, pengelolaan negara dengan amanah akan menghasilkan pemeliharaan yang sesuai dengan karakteristik negara dan kepentingan rakyat, sedangkan pengelolaan berdasarkan kekuasaan dan kepemilikan hanya akan memberlakukan rakyat sesuai dengan keinginan dan kesenangan.

Imam Ali berpesan agar para pemimpin tidak berwajah ganda, di mana ia berpura-pura saleh dan empati terhadap penderitaan rakyat, tetapi jika kembali kepada komunitasnya, ia berlaku hidup mewah di rumahnya sendiri. Begitu juga, pemimpin janganlah menganggap rakyat sebagai pelayan yang dikuasai, melainkan haruslah menganggap rakyat sebagai saudara mereka. Pemimpin harus menyadari bahwa rakyat membutuhkan keadilannya, sebagaimana ia juga membutuhkan rakyat untuk mendukung pemerintahannya.

Jadi, pemimpin haruslah mengayomi rakyat dan bukan menjadi tiran yang menindas rakyat. Sebab, ketertindasan merupakan pangkal kebencian dan permusuhan, yang mengakibatkan pemberontakan serta keruntuhan pemerintahan. Rakyat yang merasa tertindas, akan berdemontrasi di dunia dan juga di akhirat. Jika mereka berdemonstrasi di dunia, mungkin pemimpin masih dapat berlindung di istana megahnya dengan pengawalan ketat para aparat bersenjata, tetapi jika rakyat berdemontrasi di akhirat, maka pemimpin hanya bisa pasrah tanpa perlindungan apapun. Sebab, pada hari itu, hanya Allah yang menjadi Penguasanya, “Celakalah orang yang didemontrasi untuk diadukan kepada Allah oleh kaum miskin, kaum fakir, para pengemis, dan mereka yang terampas hak-haknya”, begitu ucapan Imam Ali. Karenanya, kepada para penguasa, hati-hatilah terhadap demonstrasi di akhirat, karena Anda tidak dapat sembunyi lagi di sana. Adapun kepada para aktivis, jika merasa tidak puas dan tidak mendapat tanggapan saat berdemontrasi di dunia, kamu masih bisa melanjutkan demontrasi di akhirat kelak. Pasti, demonstrasi itu akan mendapat tanggapan serius dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Di akhir suratnya, Imam Ali mengingatkan kita, “Seburuk-buruk pengkhianatan adalah melanggar amanat dana publik (korupsi), dan contoh paling keji pemerintahan adalah bila bentuk-bentuk pengkhianatan seperti itu ditolerir oleh pemimpinnya.” Salah satu contoh pemerintahan zalim yang dipenuhi pengkhianatan adalah pemerintahan Fir’aun, sebagaimana disebutkan al-Quran, “(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya maka kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya dan kami tenggelamkan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya; dan kesemuanya adalah orang-orang yang zalim.” (Q.S. al-Anfaal : 53-54)

Firaun adalah penguasa yang zalim, tidak berlaku adil dan menggunakan kekuasaannya untuk menindas orang-orang lemah, memeras orang-orang miskin, dan merampas hak orang-orang yang tidak berdaya. Sebagai pendukungnya adalah para pengusaha kaya yang dikenal dengan nama Qorun, yang rakus mengumpulkan proyek-proyek tanpa memperdulikan halal dan haram. Demi duit, Qarun tidak ragu-ragu menghantam, menyakiti, bahkan membunuh sesama saudaranya. Qarun telah menimbun barang kebutuhan rakyat dan mengumpulkan harta kekayaan yang kemudian dibenamkan oleh Allah ke dasar bumi. Tidak hanya pengusaha, Firaun juga mencari dukungan cendekiawan, ilmuan dan ahli yang bernama Haman, yang menjadikannya kecerdasannya untuk mengabdi pada tiran. Kecerdikannya digunakan untuk meliciki orang banyak. Terakhir, untuk memuluskan kerjanya, Fira’un yang merasa Tuhan menggunakan jasa ulama atau rohaniawan materialis yang bernama Bal’am bin Baura, yang fasih membacakan ayat-yat Tuhan demi melancarkan program kerjanya Firaun. Ia mengemas ambisi duniawinya dengan fatwa-fatwa dan ritus-ritus agama serta berpura-pura hidup saleh.

Jika Fira’un sebagai penguasa, Qarun sebagai pengusaha, Hamman sebagai intelektual, dan Bal’am sebagai ulama, menjadi ‘suri tauladan’ bagi pemerintahan tirani masa kini , dimana mereka berlaku zalim kepada para rakyatnya, maka keruntuhan sebuah negara telah diambang mata. Allah menjadikan Firaun dan kroni-kroninya sebagai contoh bagi para penguasa dengan suatu sunnatullah (hukum sebab-akibat), yaitu “jika suatu negara telah meniru dan menjadikan sistem pemerintahannya mirip dengan pemerintahan Firaun, maka Allah akan menghukum dan menimpakan bencana kepada mereka.”  Apa yang harus kita perbuat? Untuk saat ini perbanyaklah membaca dua jenis doa ini :

“Ya Allah ampuni dosa kami yang meruntuhkan penjagaan kami

Ampuni dosa kami yang menyebabkan turunnya marabahaya

Ampuni dosa kami yang menyebabkan berubahnya nikmat-nikmat

Ampuni dosa kami yang menghalangi terkabulnya doa

Ampuni dosa kami yang membuat turunnya bencana-bencana”

 

“Ya Allah, karuniakan kepada ulama kami kezuhudan dan nasihat

Kepada orang-orang kaya kami kerendahan diri dan kelapangan (memberi rezeki)

Kepada para pemimpin kami bertindak adil dan kasih sayang

Dan kepada rakyat kejujuran dan kebaikan akhlak”

(CR/liputanislam.com).

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*