isis-2

Belakangan ini, muncul kembali gerakan-gerakan secara sporadis menggaungkan pentingnya implementasi daulah islamiyah (Negara Islam) atau khilafah ‘ala minhajin nubuwah  (pemerintahan dengan metode kenabian) dalam kehidupan nyata dewasa ini. Apapun motivasinya, hal ini paling tidak menunjukkan bahwa kaum muslimin masih memiliki keinginan untuk mengaktualisasikan Islam sebagai agama yang tak pernah ketinggalan zaman. Atau, mungkin pula, kegerahan terhadap realitas politik yang terjadi saat ini membuat sekelompok pecinta Islam ini ingin bernostalgia dalam alam imajinal akan kedamaian Khilafah yang menjanjikan kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Di antara kelompok yang gencar membawa isu daulah islamiyah dan khilafah ini adalah Hizbut Tahrir (HT) yang membagikan banyak selebaran dan demonstrasi bahkan kongres-kongres khilafah islamiyah.

Namun, selain HT, sekarang populer juga adalah kelompok radikal-teroris yang bernama ISIS/DIIS (Islamic State of Iraq and al-Sham; Daulah Islamiyah fi Iraq wa Syam; Negara Islam di Irak dan Suriah) yang bercita-cita mendirikan Negara Islam dengan merampas tanah Irak dan Suriah. Tetapi, bukan hanya di Timur Tengah, ternyata ada juga kelompok-kelompok di Indonesia yang ikut-ikutan bergabung dan berbai’at kepada Khalifah ISIS Syaikh Abu Bakar al-Baghdadi. Hal ini misalnya dibuktikan dengan diadakannya beberapa waktu lalu di Bundaran HI suatu : Tabligh Akbar  “Menyongsong Kehadiran Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah; Support & solidarity for ISIS. (lihat http://liputanislam.com/liputan/deklarasi-baiat-organisasi-teroris-transnasional/).

Dalam salah satu orasi pada Tabligh Akbar tersebut seorang orator yang dipanggil Ustadz Fachri menyebutkan :

Daulah di Indonesia ini merupakan bagian dari Daulah Islamiah yang berpusat di Syam dan Irak, dengan Syekh Abu Bakar Al-Baghdadi Al-Quraisy sebagai khalifah yang harus dibaiat”.

Kemudian dalam deklarasi pembai’atan berisi kalimat-kalimat berikut ini :

“Sesungguhnya fajar kemenangan telah menyingsing di hadapan umat Islam dan tanda-tanda yang dijanjikan telah mulai nampak jelas terlihat di dalam lapangan realita, di mana para mujahidin yang jujur dengan bimbingan Allah telah mendirikan Daulah Islam di negeri aliran dua sungai…Dan inilah daulah yang melebarkan wilayahnya di bumi Syam…seraya berharap dari Allah ta’ala semoga Daulah ini menjadi Khilafah ‘Alaa Minhajin Nubuwwah…”

“Kami menganjurkan kepada seluruh kaum muslimin untuk membela daulah ini yang memikul tanggung jawab umat, yang mengangkat panji tauhid, menghancurkan syirik dan penyekutuan serta mengembalikan kejayaan kepada umat islam”.

“Dan ini kami para Muwahhidin di Indonesia di kawasan timur dunia Islam mendukung sepenuhnya Daulah Islamiyyah ini…Bahkan seandainya Amirul Mu’minin Abu Bakar Al-Baghdadi al-Quraisyi meminta dari kami untuk berbaiat kepadanya, tentu kami tidak akan ragu-ragu di dalam hal itu dan tentu kami tergolong orang-orang yang bersegera menyambut ajakannya.”

Ini suatu yang menggelikan, bagaimana Negara Indonesia yang berdaulat, dengan wilayah negara dan bangsa yang jelas, dikatakan bagian dari daulah islamiyah versi ISIS yang tak jelas posisinya. Bukankah suatu hal yang naif, masyarakat Indonesia yang memiliki pemimpin Negara yang diangkat secara demokratis, berbaiat kepada seseorang yang diangkat mejadi “Khalifahntah oleh siapa dan tak punya teritorial negara sama sekali. Bahkan, baik dalam studi siyasah Islam maupun studi politik modern, ISIS sama sekali tak memenuhi syarat untuk menjadi daulah islamiyah. Yang bisa dikatakan, ISIS tak lebih sebagai kelompok teroris perusuh keamanan yang membawa-bawa nama agama dan berharap menguasai negara. Namun, sayang Ustadz Fachri dan kelompoknya mungkin tak sempat berpikir jernih, karena terlalu dihantui oleh semangat fanatismenya.

Begitu pula, isi baiat mereka seolah-olah menunjukkan bahwa daulah islamiyah versi ISIS telah berdiri, walaupun tentunya itu masih sebatas mimpi, sebab faktanya saat ini ISIS lagi porak poranda di hantam pasukan Suriah pendukung setia Presiden Assad. Arab Saudi saja yang menyatakan dirinya sebagai Negara Islam dan memiliki wilayah serta rakyat, tak diakui sebagai daulah islamiyah atau khilafah islamiyah ‘ala minhajin nubuwah baik oleh HTI maupun oleh ISIS. Bahkan situs eramuslim.com, yang mengasuh rubrik tanya jawab, saat ditanya apakah ada sekarang ini daulah Islam, maka setelah menjelaskan syarat-syarat daulah Islam dengan tegas menjawab tidak ada saat ini daulah islam (lihat http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/daulah-islamiyah.htm#.UzLNjuOSyfQ). Berikut petikannya :

Tanya :

Asslamualaikum….pak ustad apkah daulah islamiyah di zaman sekarang sudah ada…kalau sudah dimana. syukron Usman

Jawab :

 Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Mohammad Usman yang dimuliakan Allah swt. Daulah Islamiyah ditegakkan diatas tiga rukun : 1). Daar (tempat / negeri); 2. Ro’iyah (rakyat); 3. Siyadah (kekuasaan)….”

“…Demikian sekilas tentang daulah islamiyah sehingga bisa dikatakan bahwa untuk saat ini tidak ada Daulah Islamiyah”.

DaulahSelain itu, jika kita kontraskan antara dua pendukung daulah islamiyah yakni Hizbut Tahrir Indoensia (HTI) dan ISIS Indonesia, apakah mereka mau saling mengakui dan berbai’at kepada kekhalifahannya? Apakah HTI mau mengakui dan berbai’at kepada khalifah ISIS? Dan sebaliknya apakah ISIS mau mengakui dan berbai’at kepada khilafahnya HTI? Kita meragukan keduanya akan akur dalam persoalan itu. Bahkan dalam metodepun penegakan daulah islamiyah saat ini saja, antara HT dan ISIS memiliki perbedaan siginifikan. Jika ISIS melakukan tindakan kekerasan dan perjuangan senjata model teroris untuk mencapai tujuannya, maka HT cenderung soft dengan penyebaran pemikiran dan penggalangan umat serta menjauhi tindakan kekerasan fisik. Berikut situs resmi HTI menjelaskan penolakan tatacara kekerasan untuk menegakkan daulah islamiyah :

“…Berdasarkan analisis di atas dapatlah disimpulkan bahwa jalan kekerasan bukanlah pilihan yang realistis di tengah kondisi umat Islam yang masih mempercayai sistem kufur dan penguasanya dan ketika belum ada dukungan militer yang sangat kuat terhadap gerakan Islam. Ini dilihat dari sisi analisis ilmiah. Adapun dilihat dari tinjauan syariah, sesungguhnya kaum Muslim haram menggunakan cara-cara kekerasan untuk menegakkan kembali Daulah Islamiyah” (lihat http://hizbut-tahrir.or.id/2010/10/28/menyoal-perjuangan-bersenjata-untuk-menegakkan-daulah-islamiyah/)

Dengan fenomena ini, kita melihat dengan jelas sulitnya bahwa setiap kelompok Islam ternyata punya versinya masing-masing dalam merumuskan daulah islamiyah. Dan setiap versi itu memiliki pendukung dan penolaknya masing-masing.

Namun, sebagai sikap ilmiah, fenomena ini tidak dapat dipahami hanya dengan bahasa dukungan atau penolakan, melainkan mengkritisinya dengan cermat dan argumentatif. Untuk itulah, maka membicarakan daulah Islam tempaknya tidak bisa lepas dari dua pendekatan, yaitu pendekatan normative dan pendekatan empiris-historis, selain dari kajian pemikiran para ulama dan cendekiawan Islam. (cr/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL