Oleh; Sofia Abdullah*

Bapak Roshidin dan istri, penduduk asli kampung Pulo, narasumber tulisan ini. Mereka memiliki silsilah yang bersambung hingga ke Mbah Dalem Arief  Muhammad.

Bapak Roshidin dan istri, penduduk asli kampung Pulo.

Peninggalan-peninggalan Eyang Mbah Dalem Arief Muhammad

Mbah Dalem Arif Muhammad dan generasi setelah beliau meninggalkan kitab-kitab kuno warisan yang dibuat dengan kertas yang berasal dari kulit kayu saeh. Menurut petugas museum, kitab ini diperkirakan berasal dari abad ke-17.

Pertanyaannya adalah bila memang benar kitab-kitab kuno ini berasal dari abad ke-17 mengapa harus menggunakan kertas yang terbuat dari bahan kulit kayu saeh? Pada abad ke-17 penggunaan kertas seperti yang kita kenal sekarang sudah dilakukan. Untuk seorang putra sultan seperti Arif Muhammad tentunya akan mudah mendapatkan kertas sebanyak apapun yang beliau butuhkan. Akan lebih logis bila kitab-kitab kuno ini berasal dari abad ke-9, yaitu masa hidup Arief Muhammad. Pada masa ini penggunaan kertas hanya dikenal pada kalangan masyarakat tertentu, dan sarana penyalurannya pun akan memperoleh banyak hambatan karena pada saat itu hutan yang dibuka untuk pemukiman belum cukup banyak.

Dengan pertimbangan pertimbangan inilah kami percaya bahwa kitab-kitab kuno ini berasal dari abad ke-9, bukan abad ke-17.  Perkiraan abad ke-17 ini diambil dari salah satu kisah dugaan yang mengatakan bahwa Arief Muhammad adalah prajurit Mataram yang melarikan diri dari kejaran tentara kolonial VOC setelah menyerang Batavia tahun 1645, versi sejarah ini dapat dilihat di berbagai website yang memberitakan tentang sejarah Candi Cangkuang.

 

cangkuang-27

Kitab ini berisi pelajaran fiqih tentang ilmu tauhid yang ditulis tangan dengan huruf Arab, dengan tebal 75 halaman.

cangkuang-28cangkuang-29

Foto-foto di atas adalah kitab kuno berisi pelajaran tauhid dengan menggunakan huruf dan bahasa Arab. Yang menarik adalah keterangan dalam kitab-kitab kuno ini menggunakan bahasa Jawi. Bahasa Jawi adalah bahasa Indonesia yang kita gunakan saat ini dengan tulisan berhuruf Arab dengan penambahan beberapa huruf tertentu. Bahasa Jawi terjadi karena adanya asimilasi antara bahasa Sanskrta dengan bahasa Arab.

cangkuang-30

Foto di atas adalah contoh kitab yang ditulis dengan bahasa dan huruf dan bahasa Arab yang diberi keterangan dengan bahasa Jawi atau Arab Pegon, yaitu bahasa Jawa (Sunda atau Jawa tengah) ataupun bahasa Melayu dengan tulisan Arab. Adanya temuan Arab Pegon atau Jawi Script ini mempunyai arti penting bahwa selama hidupnya Mbah Dalem Arief Muhammad memimpin satu wilayah yang berpenduduk mayoritas muslim yang telah menetap di wilayah ini selama beberapa generasi sebelumnya. Penggunaan Arab pegon atau tulisan Arab berbahasa Sunda atau Jawa dan bukannya menggunakan huruf dan bahasa Sunda kuno menandakan telah terjadinya asimilasi budaya yang terjalin selama ratusan tahun sebelumnya antara penduduk yang menggunakan bahasa dan tulisan Arab dengan penduduk Nusantara.

Selain kitab kuno, Arief Muhammad juga meninggalkan tradisi bagi penduduk Kampung Pulo yaitu susunan rumah tradisional Sunda yang berjumlah 6 rumah, 3 baris rumah disebelah kanan, dan 3 baris rumah disebelah kiri pada penghujung dua baris rumah ini terdapat rumah yang juga berfungsi sebagai mushola, posisinya persis ditengah dari dua baris rumah ini.

cangkuang-31

denah rumah adat Kampung Pulo (dari Museum Cangkuang, foto: Sofia)

Adanya aturan semacam ini karena pada masa Mbah Dalem Arief Muhammad hidup, ia memiliki 6 orang putri dan 1 orang putra. Ada dua versi kisah dari putra Arief Muhammad, versi pertama menyebutkan bahwa putranya meninggal pada usia balita. Versi kedua menyatakan bahwa karena sang putra adalah laki-laki, ia harus berguru ke berbagai daerah dan negara untuk kemudian meneruskan tugas ayahnya untuk syi’ar dan untuk menjadi pemimpin dan pendidik masyarakat. Sementara itu, yang menjaga kompleks pemakaman Cangkuang atau kuncen dari pemakaman ini adalah dari keturunan Arief Muhammad yang perempuan, baik itu suami atau suami putri-putri mereka.

cangkuang-32

Salah satu dari 6 rumah adat Kampung Pulo yang berbaris dan Mesjid Kampung Pulo.

Selama ratusan tahun tradisi ini tetap terjaga hingga saat ini, yang menjadi pewaris tetap rumah adat ini adalah keturunan Arief Muhammad yang wanita.  Keturunan Arief Muhammad yang pria harus meninggalkan rumah adat setelah menikah. Mereka harus meninggalkan rumah paling lambat 2 minggu setelah menikah dan membangun rumah bagi keluarga barunya. Walaupun banyak di antara mereka yang meninggalkan kampung Pulo namun tradisi ziarah dan membersihkan makam tiap hari Rabu tetap dilakukan, apalagi bagi warga yang masih tinggal di kampung Pulo. Tradisi yang telah berusia ratusan tahun inilah yang menyebabkan rumah adat Kampung Pulo masih terjaga hingga saat ini.[1]

Situs-situs pemakaman kuno yang dirusak dengan dalih pemugaran di Nusantara jumlahnya sangat banyak, baik yang dilakukan pada masa kolonial ataupun pasca kemerdekaan. Pemugaran yang telah merusak situs-situs pemakaman bersejarah di Nusantara pasca kemerdekaan banyak dilakukan setelah pemerintahan Orde Baru berkuasa. Situs pemakaman kuno yang pada umumnya berasal dari abad ke-8 dan generasi sebelum dan setelahnya ini banyak mengalami perusakan akibat penguasa yang ingin melanggengkan kekuasaannya dengan berbagai cara. Tujuan yang sama pun dilakukan oleh pemerintah kolonial. Pengaburan sejarah, terutama sejarah Islam yang dilakukan pemerintah kolonial ini hasilnya dapat kita rasakan hingga saat ini. Misalnya, dalam bidang sosial budaya umat Islam dibuat malu dengan adanya kisah-kisah yang menyatakan sebagai tokoh Islam namun tidak mencerminkan ajaran Islam. Selain itu, muncul kesimpangsiuran mengenai agama yang dianut oleh leluhur Nusantara. Akibatnya penduduk negeri ini mudah sekali diadu domba untuk masalah-masalah sepele yang tidak ada kaitannya dengan kesejahteraan penduduk negeri ini. Ketika rakyat disibukkan oleh masalah-masalah sepele itu, kekayaan alam Nusantara yang melimpah ruah diambil oleh perusahaan-perusahaan asing dengan keuntungan hanya bergulir bagi golongan-golongan tertentu.

Kesimpulan

Situs Cangkuang adalah salah satu warisan sejarah Islam Nusantara yang sangat penting, yang merekam sejarah Islam di Nusantara melalui warisan silsilah, tradisi, kitab kuno, dan pemakaman. Namun sayangya situs sepenting Cangkuang mengalami kerusakan dengan alasan pemugaran. Pembangunan Candi Cangkuang hanya berdasarkan perkiraan karena temuan arca cacat yang sama sekali tidak dapat mewakili arca gambaran dewa atau dewi yang diakui dalam kitab Hindu. Pembangunan Candi pun tidak mengikuti kaidah yang ada, karena membangun candi tanpa ada sisa dari bangunan sebelumnya hanya mengikuti pola Candi yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur tanpa ada pembanding dan melihat lingkungan sekitar yang faktanya adalah pemakaman muslim kuno.

Kami temukan 3 poin penting selama penelusuran sederhana kami mengenai situs Cangkuang dan kami yakin dengan penelitian lebih lanjut tentang siapa dan apa tokoh-tokoh yang dimakamkan di pemakaman kuno ini akan memberikan poin-poin penting lain yang akan membuka tabir kejanggalan sejarah Islam Nusantara. Ketiga poin penting hasil penelusuran kami tersebut antara lain:

  1. Adanya pemakaman muslim yang sangat luas menunjukkan di wilayah Cangkuang dan sekitarnya pada masa lalu telah ada pemukiman yang mayoritas adalah muslim.
  2. Berdasarkan penelusuran silsilah Mbah Dalem Arief Muhammad, pemukiman ini telah ada atau dibuka setidaknya pada masa Mbah Dalem Arief Muhammad hidup, sekitar tahun 800-an Masehi
  3. Dari kitab bertuliskan bahasa Arab dan penjelasannya dengan bahasa Sunda dan Melayu yang ditulis dengan huruf Arab (Arab Pegon atau Jawi Script) dapat diketahui bahwa sejak 1200 tahun yang lalu telah terjadi asimilasi atau perpaduan budaya antara kaum pendatang dari Arab dan sekitarnya dengan penduduk wilayah Cangkuang yang besar kemungkinan wilayahnya mencakup seluruh kecamatan Cangkuang saat ini. (LiputanIslam.com)

TAMAT

Baca bagian ke enam.

*Sofia Abdullah adalah peneliti independen. Tulisan ini disusun berdasarkan penelitian langsung ke lokasi situs Candi Cangkuang, wawancara dengan penduduk asli, dan penelusuran literatur dari para peneliti independen lainnya dari berbagai disiplin ilmu.

[1] Sumber: penduduk sekitar Kampung Pulo, antara lain Pak Roshidin dan istrinya, yang memiliki silsilah yang bersambung hingga ke Mbah Dalem Arief Muhammad.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL