Oleh: Sofia Abdullah

Dengan mengunjungi langsung situs Cangkuang di Leles, Garut kami menemukan ratusan makam kuno yang berserak sebagian makam ada yang masih terawat dan sebagian lain sudah tidak diketahui lagi penghuni makamnya. Adanya ratusan makam di situs Cangkuang adalah bukti dan fakta yang tidak terbantahkan bahwa pada suatu masa di masa lalu situs ini bukanlah situs percandian agama Hindu namun situs pemakaman muslim kuno yang kemudian pada tahun 1974 atas perintah pemerintahan Orde Baru, dibangunlah candi hanya dengan modal dugaan seadaanya, candi ini diresmikan pada tahun 1976.

Sejak candi ini diresmikan lambat laun sosok Dalem Arief Muhammad seolah dihilangkan dari peta sejarah Islam Nusantara, namun karena tradisi penduduk setempat tetap berjalan dapatlah kita ketahui bahwa situs Cangkuang memiliki peranan besar dalam mengungkap sejarah Islam Nusantara yang abu-abu dan penuh dengan ketidakjelasan. Siapakah sebenarnya sosok Arief Muhammad? Dan apa kaitan beliau dengan sejarah Islam Nusantara khususnya Pulau Jawa? Benarkah sejarah beliau sengaja disembunyikan oleh pihak-pihak tertentu yang tidak menginginkan terungkapnya sejarah Islam di negeri ini? Untuk mengetahui lebih detail tentang sejarah situs Cangkuang, kami akan berbagi pengalaman kami ketika berkunjung ke situs ini dan hasil penelusuran kami tentang tokoh dan sekilas sejarah yang terkait dengan (Dalem)Arif Muhammad, berdasarkan fakta dan informasi yang kami temukan dari lokasi situs.

Sejarah Penemuan Candi; Bangunan Candi atau Makam?

Penelitian arkeologi di lokasi Situ Cangkuang ini diawali dengan di temukannya sebuah catatan perjalanan seorang Belanda bernama Vorderman, yang melakukan perjalanan ke wilayah Cangkuang ini pada tahun 1893, mungkin karena dianggap tidak terlalu penting, Vorderman hanya menulis catatan kecil mengenai wilayah Cangkuang ini, dalam jurnalnya yang berjudul; Minutes Bataviaasch Genootschap ia menulis sebuah catatan kecil tentang adanya pemakaman kuno dan patung Siwa yang rusak. Dengan berbekal catatan inilah pada tanggal 9 Desember 1966, Drs. Uka Candrasasmita melakukan penggalian arkeologis, tidak ada penemuan penting dari hasil penggalian ini, yang dapat ditemukan hanyalah batu-batu andesit yang berserakan di sekitar makam yang di perkirakan sebagai bekas-bekas reruntuhan candi [1], patung Siwa yang rusak dan lubang di bawah tanah berukuran 4,5×4,5 m yang diduga sebagai fondasi candi.

cangkuang-3

Candi Cangkuang awal ditemukan1966. Foto diatas menunjukkan keadaan Bukit Kampung Pulo pada saat awal penelitian. Kampung Pulo adalah sebuah pulau di tengah danau. Menurut cerita penduduk setempat dan banyaknya bukti makam kuno yang tersebar di berbagai wilayah kampung ini, sangat besar kemungkinan wilayah pulau di tengah danau ini dahulunya adalah wilayah yang dikhususkan untuk pemakaman muslim, semacam tanah wakaf. Adanya pemakaman muslim kuno di wilayah ini adalah fakta yang dapat mematahkan teori yang mengatakan bahwa situs ini pada mulanya adalah situs bekas kerajaan Hindu di wilayah Jawa Barat. Teori ini pertama kali diutarakan oleh Drs. Uka Candrasasmita, hanya dengan bukti berupa batu andesit yang berserakan di sekitar makam yang diperkirakan sebagai batu candi dan patung Siwa yang rusak. 

cangkuang-4

Lubang yang lebih menyerupai sumur yang ‘diduga’ sebagai pondasi candi pada awal di temukan tahun 1966, lebih menyerupai sumur dari pada fondasi candi, atau dapat berupa bangunan apapun yang fungsinya tidak jauh berbeda dengan lingkungan sekitarnya, yaitu pemakaman muslim. Dan yang terpenting adalah darimana dapat diketahui bentuk candi cangkuang bila awal ditemukannya hanyalah sepetak lubang yang diduga sebagai fondasi candi? Ketika di konfirmasi dengan penduduk sekitar yang sudah turun temurun di daerah Cangkuang, mereka juga tidak pernah mendengar atau diceritakan adanya candi di dearah kampung pulo. (Sumber foto: Museum Cangkuang)

Temuan Arca Sebagai Penentu Berdirinya Candi Cangkuang

Arca Dewa-Dewi atau reinkarnasi dan perwujudan mereka dalam ajaran Hindu, Budha atau Hindu Dharma di Bali mempunyai tatacara pembuatan yang khusus yang dilakukan oleh para pandita dan memiliki ritual khusus yang memerlukan kesabaran dan ketelitian yang menghasilkan suatu karya seni keagamaan yang sesuai dengan tatacara yang terdapat dalam kitab rujukan dalam agama mereka.

Namun sayangnya arca-arca cacat ini banyak ditemukan pada arca-arca di Nusantara, baik yang terdapat di area percandian atau hanya tergeletak ditempat-tempat yang dikeramatkan warga dan diyakini warga setempat sebagai makam leluhur. Kasus seperti ini banyak terjadi di Indonesia terutama di pulau Jawa, termasuk diantaranya arca Siwa yang terdapat di Cangkuang ini.

Keberadaan arca-arca cacat ini dapat dikenali dengan bentuk arca yang tidak simetris atau tidak proporsional, hal ini seharusnya tidak akan pernah terjadi bila arca-arca ini dibuat oleh penganut agamanya masing-masing. Arca-arca ini adalah lambang dan wujud dari dewa-dewa yang disucikan, mustahil dibuat secara asal seperti yang terdapat pada arca-arca di beberapa situs di Nusantara.

cangkuang-5

Foto di atas adalah arca cacat yang dikatakan sebagai arca Siwa yang sedang mengendarai Nandi (sapi sebagai wahana Siwa, karena itu sapi bagi agama Hindu India adalah hewan yang disucikan). Namun faktanya arca ini bukan rusak karena terkikis oleh waktu, tapi arca yang cacat sejak awal pembuatannya. Dengan melihat arca ini secara langsung dan membandingkannya dengan arca yang rusak karena waktu, jelas sekali perbedaannya. Belum lagi bila kita membandingkannya dengan melihat dari simbol dan posisi Siwa serta Nandhi. Menurut pendapat kami dengan adanya pengakuan bahwa arca ini adalah arca Siwa yang sedang mengendarai Nandi sama halnya dengan merendahkan kedudukan dewa Siwa yang disucikan dalam agama Hindu. (LiputanIslam.com)

Bersambung ke bagian 3.

Baca bagian 1

————

[1] Selain batu bata, Batu Andesit atau Batu Candi sering kali juga di gunakan untuk membangun bangunan makam kuno, terutama sebelum dan pada masa awal Islam tersebar di Nusantara, sekitar abad ke-7 dan 8. Berdasarkan penelitian kami mengenai Candi sebagai Bangunan Makam, bahan dasar bangunan makam yang ada di Indonesia tergantung pada jenis bebatuan dan tanah tempat lokasi bangunan makam berada. Pada umumnya bangunan makam ini terbuat dari batu bata dan batu andesit, dengan ciri bangunan yang serupa dengan candi hanya saja tanpa arca dan masih dikenali hingga saat ini sebagai bangunan makam, salah satu contoh bangunan makam yang terkenal adalah pemakaman kuno di Sendang Dhuwur, yang merupakan makam dari Sunan Sendang Dhuwur, kompleks pemakaman kuno Sunan Giri, Sunan Gunung Jati, Sunan Prapen, dsb.

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL