syaikh shduqAbu Hasan Ali bin Husain bin Musa Babawaih al-Qummi adalah seorang fakih di kota Qum. Ia pernah datang ke Irak untuk menanyakan beberapa masalah hukum kepada Husein bin Ruh An-Naubakhti, salah seorang wakil Imam Mahdi afs. Setelah kembali dari Irak, beliau masih sering berhubungan melalui surat kepada wakil Imam mahdi tersebut yang disampaikan oleh Ali bin Ja’far bin Aswad. Suatu hari, beliau menulis surat yang isinya mengharapkan agar Imam Mahdi afs berdoa kepada Allah swt agar menganugerahkan anak kepadanya, karena setelah lama menikah beliau belum dikaruniai anak. Imam Mahdi afs menjawab surat Ali bin Babawaih dengan mengatakan, “Kami telah berdoa kepada Allah swt agar menganugerahkan anak kepadamu, dan ketahuilah sebentar lagi engkau akan dikaruniai dua anak lelaki”.

Tidak lama setelah surat jawaban Imam Mahdi afs sampai, isteri dari Syaikh Ali bin Babawaih mengandung, dan lahirlah anak laki-laki yang diberi nama Muhammad yang dipanggil dengan Abu Ja’far dan tidak lama kemudian lahir lagi anak kedua yang dikenal dengan panggilan Abu Abdillah. Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain Babawaih al-Qummi inilah yang kemudian dikenal sebagai Syaikh Shaduq, yang sebelumnya gelar itu juga disematkan kepada ayahnya. Karena itu, kedua ayah dan anak ini, disebut Saduqain. Gelar ini diberikan karena luasnya pengetahuan dan prestasinya dalam menegakkan kebenaran. Syaikh Shaduq hidup pada abad ke-4 H yang kelahirannya diperkirakan tahun 306 H, tapi ada juga yang menyebutkan tahun 311 H.

Guru pertama Syaikh Shaduq adalah ayahnya sendiri Ali bin Husain Babawaih al-Qummi. Kemudian beliau juga belajar kepada para ulama besar Kota Qum di zamannya seperti Muhammad bin Hasan bin Walid, Ahmad bin Ali bin Ibrahim Al-Qummi, Husein bin Idris Al-Qummi, dan juga Ja’far bin Muhammad bin Qaulawaih Al-Qummi. Dari mereka beliau belajar menguasai ilmu-ilmu mukadimah yang diperlukan, seperti bahasa, sastra, ilmu hadis dan fiqih. Tetapi, semangat keilmuan yang membara,  membuat beliau tidak mencukupkan diri hanya belajar di kota Qum. Beliau mengembara ke berbagai kota untuk menggali ilmu pengetahuan dan terutama mempelajari hadis-hadis ahlul bait. Diperkirakan tidak kurang dari 200 ulama yang menjadi gurunya.

Misalnya, di Rey, ia belajar ilmu hadis dari Abul Hasan Muhammad bin Ahmad bin Ali Al-Asadi. Kemudian ia berangkat ke Naisyabur, dan belajar kepada Abu Ali Husein bin Ahmad Al-Baihaqi dan Abdurrahman Muhammad bin Abdus. Setelah itu, ia berangkat ke kota Marv dan belajar diantaranya kepada Abul Hasan Muhammad bin Ali bin Faqih dan Abu Yusuf Rafi’ bin Abdillah. Selain itu beliau juga menimba ilmu dari Ali bin Muhammad Al-Qazwini, Ja’far bin Muhammad bin Syadzan,  Abul Hasan Al-Khayuthi, Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Aswad, Abu Ja’far Muhammad bin Ya’kub Al-Kulaini, Ahmad bin Ziyad bin Ja’far Al-Hamadani, Ali bin Ahmad bin Abdillah Al-Qaraqi, Muhammad bin Ibrahim Al-Laitsi, Ibrahim bin Ishak Ath-Thaliqani, Muhammad bin Qasim Al-Jurjani, dan Husein bin Ibrahim Al-Maktabi.

Mengetahui kebesaran dan keagungan Syaikh Shaduq, pemimpin kota Rey yakni Ruknud Dawlah Ad-Dailami meminta Syaikh Shaduq untuk menetap di Rey dan menjadi pemimpin para pengikut syiah. Maka ia pun tinggal di rey hingga wafatnya pada tahun 381 H. Syeikh Shaduq hidup ketika masyarakat Syi’ah secara umum memiliki kebebasan yang relatif luas sehingga ia dapat mengadakan kunjungan ke berbagai daerah dengan leluasa dalam rangka menyebarkan ajaran-ajaran Ahlul Bait as dan meluruskan segala isu miring tentang syiah yang berkembang di tengah-tengah masyarakat saat itu. Untuk itu, Syaikh Shaduq menulis sebuah sebuah buku yang diberi judul al-I’tiqadat. Kitab ini menjelaskan degan jernih tentang keyakinan-keyakinan syiah. Misalnya tuduhan tentang tahrif Alquran, Syaikh Shaduq dalam kitabnya al-I’tiqadat hal. 83-84 membantah dengan tegas hal ini dan menjelaskan :

“Keyakinan kami tentang Alquran, adalah Kalam Allah, wahyu-Nya, firman dan kitab suci-Nya. Ia tidak didatangi kebatilan dari depan maupun belakang. Ia diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijak dan Maha Mengetahui. Ia mengandung kisah-kisah yang benar, ucapan pemutus, dan bukan senda gurau…Sungguh, Keyakinan kami bahwa Alquran yang diturunkan Allah kepada nabi-Nya, Muhammad saaw adalah apa yang termuat di antara dua sampul (mushaf) yang sekarang beredar di tengah-tengah manusia. Tidak lebih dari itu. Jumlah surahnya adalah 114 surah…Dan barangsiapa menisbahkan kepada kami bahwa kami meyakini Alquran lebih dari itu maka ia adalah pendusta.   

Pendapat Syaikh Shaduq ini merupakan pedapat muktabar syiah hingga saat ini. Hal itu dijelaskan lebih jauh oleh murid-murid beliau kelak. Sebagai orang yang memiliki kualitas keilmuan dan akhlak yang mulia, maka banyaklah orang-orang yang menimba ilmu darinya. Diantara murid-murid Syaikh Shaduq kemudian menjadi ulama-ulama papan atas dalam mazhab ahlul bait adalah Syeikh Mufid, Muhammad bin Muhammad bin Nu’man, Husein bin Abdillah, Harun bin Musa At-Tal’akburi, Husein bin Ali bin Babawaeh Al-Qummi, Hasan bin Husein bin Babawaih Al-Qummi, Hasan bin Muhammad Al-Qummi (pengarang kitab Tarikh-e Qom, sejarah kota Qom), Ali bin Ahmad bin Abbas An-Najasyi yang merupakan ayah penulis kitab Rijal an-Najasyi, dan Sayid Murtadha Alamul Huda yang merupakan penulis banyak buku dan ulama besar syiah di zamannya.

Selain menulis buku yang menjelaskan tentang keyakinan-keyakinan syiah, Syaikh Shaduq juga terlibat dalam diskusi-diskusi ilmiyah dengan para ulama alussunnah. Salah satu kisah terkenal, diceritakan oleh  Syeikh Ja’far Ar-Razi, yaitu ketika Syaikh Shaduq berada di Majelisnya Ruknud Daulah di Rey dan saat itu juga hadir ulama ahlussunnah. Ketika itu terjadilah perdebatan antara Syaikh Shaduq dengan ulama Ahlussunnah tersebut tentang berbagai hal sampai masalah imamah. Ruknud Daulah bertanya, “Wahai Syeikh, dari mana mazhab syiah yakin bahwa para imam pengganti Rasulullah saaw berjumlah 12 orang?”

Syaikh Shaduq menjawab, “Wahai yang mulia, imamah merupakan kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Setiap kewajiban tentu saja memiliki jumlah yang sudah ditentukan. Contohnya, kita diwajibkan salat sehari dan semalam lima kali yang berjumlah 17 rakaat, diwajibkan zakat untuk sebagian harta, diwajibkan puasa Ramadhan sekali dalam setahun, dan diwajibkan haji sekali dalam seumur. Karena itu, Allah swt juga menetapkan dan membatasi jumlah imam hanyalah 12 orang. Kita tidak layak bertanya mengapa jumlah shalat wajib harian hanya 17 rakaat tidak lebih? Sebab itu, tidak layak juga kita bertanya mengapa jumlah imam hanya 12 orang? Memang, jumlah para imam tidak ditentukan di dalam Alquran. Alquran hanya menegaskan kewajiban menaati ulil amri, dan tugas Rasulullah saaw yang menerangkan (jumlah) mereka”.

Karya-Karya Syaikh Shaduq

Selama hidupnya, Syaikh Shaduq termasuk penulis syiah yang produktif. Menurut an-Najasyi terdapat 193 buku hasil karya Syaikh Shaduq. Sedangkan menurut Syeikh Thusi, Syaikh Shaduq menulis lebih dari 300 jilid buku dan Syaikh Thusi sendiri memiliki 43 jilid bukunya. Ini berarti sebagian besar karyanya hilang dan sebagian yang ditemukan masih dalam bentuk manuskrip dan sebagiannya lagi telah dipulikasikan. Karya-karya Syaikh Shaduq ini umumnya dalam kajian hadis, karena memang beliau banyak membaktikan dirinya untuk melakukan kompilasi hadis ahlul bait, karena itulah beliau juga digelar ra`isul muhadditsin (pemimpin para ahli hadis).

Salah satu karya hadisnya yang sangat terkenal adalah Man La Yahdhuruhul Faqih. Kitab ini merupakan salah satu dari empat kitab induk hadis (kutub al-Arbaah) yang terkenal di dalam syiah. Buku ini berisi kumpulan hadis-hadis hukum. Tiga kitab lainnya adalah al-Kafi karya Syaikh al-Kualini, Tahdzib al-Ahkam dan al-Istibshar yang keduanya merupakan karya Syaikh Thusi.

Syeikh Shaduq menjelaskan bahwa penyusunan kitab Man La Yahdhuruhul Faqih ini dikarenakan pertemuannya dengan seorang keturunan Rasulullah saaw yang bernama Syarifuddin Abu Abdillah Muhammad bin al-Husain bin al-Husain bin Ishaq bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib di kota Ilaq dekat Balkh. Setelah berdiskusi, Syarifuddin terkesan dengan keilmuan dan akhlak dari Syaikh Shaduq. Syarifuddin menceritakan bahwa ia memiliki sebuah buku karya Muhammad bin Zakaria al-Razi tentang ilmu kedokteran yang berjudul Man La Yahdhuruh at-Thabib (ketika tidak ditemukan dokter). Buku tersebut berisi tentang ilmu pengobatan yang bisa dilakukan setiap orang, seandainyapun tidak ada dokter. Karena itu, kemudian Syarafuddin meminta Syaikh Shaduq untuk menyusun sebuah buku tentang fiqih yang menjelaskan halal dan haram serta hukum-hukum syariat yang dapat dijadikan rujukan oleh setiap orang. Maka Syaikh Shaduq pun memenuhi permintaan itu dan menyusun buku yang kemudian diberi judul Man La Yahdhuruhul Faqih (Ketika Tidak ditemukan Seorang Faqih).

Selain kitab Man La Yahdhuruhul Faqih kitab-kitab Syaikh Shaduq yang terkenal dan dijadikan rujukan diantaranya adalah : Al-I’tiqadat, Kamaluddin wa Tamamun Ni’mah, Al-Amali, Shifatusy Syi’ah, ‘Uyun Akhbar al-Ridha, Mushadafatul Ikhwan, Al-Khishal, ‘Ilal asy-Syara`i’, At-Tauhid, Itsbat Wilayah Ali as, Al-Ma’rifah, Madinatul ‘Ilm, Al-Muqni’, Ma’anil Akhbar, Masyikhat al-Faqih, dan Tsawab al-A’mal. (CR/liputanislam.com)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL