Oleh : Candiki Repantu

Siang itu, matahari cukup cerah, sekelompok orang berkumpul dengan serius mengelilingi seorang laki-laki paruh baya, yang menjadi guru mereka. Dengan penuh perhatian mereka mendengar dan memperhatikan serta menyimpannya di dalam dada setiap kalimat nasehat yang diucapkan guru mulia tersebut. Tuturannya yang bersahaja, akhlaknya yang mulia, kelembutannya yang tiada tara, semakin menarik hati mereka sehingga tak terasa berapa lama sudah mereka berkumpul bersamanya. Itulah halaqah mulia, Rasulullah saaw dan para murid-muridnya. Mendadak Rasulullah menghentikan nasehatnya, karena tiba-tiba malaikat Jibril as datang kepadanya, ada suatu yang penting hendak disampaikannya. “Wahai Muhammad, Allah Yang Maha Tinggi menyampaikan salam untukmu dan Dia memerintahkanmu untuk sementara memisahkan diri dari Khadijah isterimu selama 40 hari,” begitu pesan yang dibawa Jibril as dari Allah, Tuhan semesta.

Dengan sigap Nabi saaw mencerna pesan tersebut. Pasti ada suatu yang sangat penting, sehingga Allah swt memerintahkannya selama 40 hari untuk tidak pulang ke rumah. Hal ini harus disampaikan kepada Khadijah, semoga ia memakluminya. Dengan mengutus Ammar bin Yasir, Nabi saaw menyampaikan pesan kepada Khadijah agar tidak menggelisahkan hati isteri tercintanya, “Wahai Ammar, katakanlah kepada Khadijah, bahwa aku diperintahkan oleh Allah Yang Maha Mulia, untuk memisahkan diri darinya selama 40 hari. Katakan padanya, jangan gelisah dan menduga aku marah sehingga memisahkan diri darinya dan pindah. Karena, sesungguhnya Allah membanggakan dirinya di hadapan para malaikat setiap harinya. Jikalau malam telah gulita, minta kepadanya agar menutup pintu dan tidur di ranjangnya. Katakan, untuk sementara ini, aku akan berada tinggal Fatimah binti Asad.”

Pesan itu disampaikan dengan sebaik-baiknya oleh Ammar kepada Khadijah. Khadijah memahami betul pesan suaminya. Tidak ada sedikitpun keraguan dalam hatinya, karena ia sangat mengenal kejujuran suaminya. Dengan sabar, Khadijah akan melewati hari-hari tanpa ditemani kekasih hati. meskipun sedih, tetapi ia sadar suaminya adalah pengemban misi ilahi.

Di rumah Fatimah binti Asad (isteri Abu Thalib), ditemani Ali bin Abi Thalib, di siang hari, Nabi Muhammad saaw berpuasa, dan di malam hari, ia salat dan berdoa. Begitulah hari-hari dilalui Nabi saaw selama 40 hari. Dihari terakhir, malaikat Jibril kembali turun menemui Nabi saaw dan berkata, “Ya Muhammad, Allah Yang Maha Tinggi megucapkan salam untukmu dan Dia memerintahkanmu untuk bersiap menerima penghormatan dan anugerah-Nya.” Nabi bertanya, “Wahai Jibril apa penghormatan dan anugerah dari Allah, Tuhan alam semesta?” Jibril menjawab, “Aku tidak mengetahuinya.”

Kemudian turunlah malaikat Mikail dan Israfil membawa sebuah mangkuk indah, ditutupi sehelai kain sutra. Mangkuk itu berisi makanan surga. Mikail berkata, “Ya Muhammad, Allah memerintahkanmu untuk berbuka puasa dengan makanan dalam mangkuk ini.” Nabi pun segera melaksanakannya. Biasanya Nabi selalu berbagi makanan dengan Ali bin Abi Thalib. Tetapi tidak kali ini. Rasulullah saaw menyatakan kepada Ali, bahwa ia tidak berhak ikut meyantap makanan bersamanya pada saat ini, karena hidangan ini khusus untuk beliau dari Allah swt. Ali pun memakluminya. Dengan segera Nabi menyantap hidangan surga. Setelah selesai, Jibril yang menuangkan air, Mikail pun mencucikan tangannya, dan Israfil mengeringkannya dengan sehelai kain sutra.

Selesai berbuka, Nabi ingin melaksanakan salat. Tetapi Jibril melarangnya, “Untuk saat ini, Allah melarangmu salat, sebelum engkau mendatangi Khadijah. Karena pada malam ini, Allah swt menginginkan keturunan mulia tercipta dari sulbimu.”

Maka Nabi saaw pun segera kembali ke rumah Khadijah. Khadijah yang bersiap-siap istirahat mendengar suara ketukan di pintu rumahnya. “Siapa yang mengetuk pintu  yang tidak pernah diketuk kecuali oleh suamiku Muhammad?” tanya Khadijah. “Bukalah Khadijah, ini aku Muhammad, suamimu.” Terdengar jawabannya.

Dengan sejuta rasa bahagia, Khadijah membuka pintunya. Nabi menepati janjinya, dan sesuai perintah Allah swt, malam itu Nabi pun memperlakukan Khadijah dengan sebaik-baik perlakuan. Sejak malam itu, Khadijah pun mulai merasakan kehamilan, padahal usianya sudah cukup tua, 60 tahun. Ini bukan suatu yang mustahil. Hari demi hari, minggu demi mingu, bulan demi bulan, kandungannya semakin besar. Khadijah tidak merasa sedikitpun terbebani dengan kandungannya tersebut, ini suatu kehamilan yang istimewa. Dan istimewanya lagi, bayi dalam kandungan itu sudah dapat berbicara dan sering berbincang dengan ibunya.

Suatu hari, ketika Nabi saaw ingin masuk ke kamar, ia mendengar Khadijah sedang bercengkrama, tetapi tidak ada seseorang pun di kamarnya. Nabi saaw pun bertanya dengan siapa Khadijah berbicara? Khadijah menjawab, “Aku berbincang-bincang dengan anak yang masih dalam kandungan ini.” Nabi saaw kemudian  berkata, “Jibril datang kepadaku dan mengabarkan bahwa anak ini adalah perempuan. Dia suci dan diberkahi. Allah akan menjadikan keturunannya para pemimpin umatku yang Allah menjadikan mereka sebagai khalifah-khalifah-Nya setelah terputusnya wahyu.”

Sembilan bulan, usia kehamilan Khadijah, ia mulai merasakan perubahan di kandungannya. Ia sebentar lagi akan melahirkan. Ia pun meminta bantuan kepada wanita-wanita Quraisy. Tapi, karena sejak awal mereka tidak menyetujui pernikahan Khadijah dan Muhammad saaw, dan kini agama yang dibawa suaminya merongrong agama nenek moyang mereka, maka mereka enggan membantunya. Mereka menghina Khadijah, “Engkau tidak mengikuti saran kami, sehingga menikah dengan anak yatim Abu Thalib yang miskin, karenanya kami tak sudi datang kerumahmu dan tidak perduli dengan urusanmu.”

Hati Khadijah sedih, dan Allah swt mengetahui kesedihan itu. Dalam keadaan hati gundah gulana, mendadak muncullah cahaya dari langit memasuki rumah Khadijah. Cahaya-cahaya itu adalah penjelmaah wanita-wanita suci di zamannya, “Jangan sedih wahai Khadijah, aku adalah Sarah (dalam riwayat lain Hawa), ini adalah Asiyah putri Muzahim, ini adalah Kulsum saudarinya Musa, dan ini adalah Maryam putri Imran. Kami diutus oleh Allah swt untuk membantu persalinanmu.” Mereka pun duduk mengelilingi Khadijah. Tak lama kemudian lahirlah bayi wanita yang indah bercahaya, disambut para bidadari surga.

fatimah4

Inilah bayi mungil yang suci dan diberkahi, aromanya adalah aroma surga karena telah disucikan oleh air telaga surga. Bayi mungil itu juga disebut ayahnya sebagai haura al-insiyyah (bidadari dalam rupa manusia). Khadijah menggendongnya, Nabi saaw atas petunjuk ilahi memberinya nama Fatimah, pemimpin wanita surga.  Tentangnya Nabi bersabda, “Turun malaikat dari langit meminta izin Allah untuk menyampaikan salam kepadaku, yang malaikat tersebut tidak pernah turun ke bumi sebelumnya. Ia memberiku kabar gembira, bahwa Fatimah adalah wanita pemimpin ahli surga.” Pada kesempatan lain, beliau bersabda, “Setiap kali aku merindukan surga, aku mencium Fatimah.” Tentang namanya, Fatimah as, ayahnya bersabda, “Fatimah adalah manusia bidadari. Ia tidak mengalami haid dan tidak tersentuh kotoran. Allah memberinya nama Fatimah, karena Allah hendak menghindarkan dirinya dan juga para pecintanya dari siksa api neraka.” Sungguh beruntung dan mulia, semoga kita tergabung sebagai para pecintanya.

Namun, di tengah kebahagian keluarga Nabi saaw, masyarakat jahiliyah tetap mencacinya. Lagi-lagi anak perempuan yang dilahirkan isterinya. “Sesungguhnya Muhammad hanyalah penyihir dan pendusta. Dialah si Abtar yang terputus keturunannya. Sebentar lagi, dia akan menemui ajalnya, dan kenangan pahitnya pun akan ikut mati pula bersamanya. Karena dia tak punya seorang anak pun sebagai pelanjutnya,” begitulah ocehan masyarakat Mekah.

Hinaan mereka laksana ribuan tusukan sembilu ke hatinya. Tapi, sebagai Rasul yang dipuji Allah keagungan akhlaknya, beliau selalu memaafkan ummatnya. Sebagai balasannya, Allah swt menggembirakannya dengan kabar bahwa anak perempuannya adalah anugerah terbesar ilahi kepadanya. Dan sebagai jawaban kepada para penghinaya, Allah swt menurunkan ayat, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak (al-kautsar). Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus keturunanya (abtar). (Q.S. al-Kautsar : 1-3).

Inilah anugerah terbesar Allah swt, sebab dari Fatimah, lahir para pelanjut nasab dan pengawal agama ayahnya. Nantinya, setelah Khadijah meninggal, ia menjadi penjaga dan pelipur lara ayahnya, sehingga dipanggil nabi sebagai “ummu abiha” (ibu dari ayahnya), di saat para isterinya yang lain dipanggil dengan “ummul mukminin” (ibu kaum mukminin). Nabi saaw memuliakannya dengan kecintaan besar tiada tara, lihatlah tentang perlakuan Nabi saww kepada ummu abiha Fatimah, melalui penuturan ummul mukminin Aisyah, berikut ini  :

Aku tidak pernah melihat orang yang pembicaraanya sangat mirip dengan Rasulullah saaw selain dari Fatimah. Bila ia datang kepada ayahnya, beliau saaw, berdiri menyambutnya, menciumnya dan menggandeng tangannya, dan mendudukkannya di majelisnya. Sebaliknya, bila Rasulullah saaw datang kepadanya, maka Fatimah pun akan berdiri menyambut ayahandanya dan mencium tangannya.”

Bukan hanya itu, Rasulullah saaw bahkan selalu menyamakan kondisi Fatimah dengan kondisi dirinya. Dalam rentetan-rentetan sabda suci ayahnya disebutkan : “Fatimah bagian dari diriku, siapa yang mengganggunya berarti menggangguku, siapa yang menyusahkannya berarti menyusahkanku, siapa yang menyenangkannya berarti menyenangkanku, siapa yang membuatnya sedih berarti membuatku sedih, siapa yang membuatnya murka berarti membuatku murka.” Dalam riwayat lainnya, “Sesungguhnya Allah murka bila Fatimah murka, dan Allah rihda jika Fatimah ridha.” (lihat hadis-hadis di atas dalam al-Hamid al-Husaini, Keagungan Rasulullah & Keutamaan Ahlul Bait, 2001, hal.159-164).

Siapa Fatimah? Dia wanita teladan semesta raya. Dia pemimpin wanita surga. Dia bidadari dalam rupa manusia. Dia yang kotoran lahir dan batin tidak menyentuhnya, karena Allah berkehendak mensucikannya. Dia yang cahayanya berkeliauan. Dia yang Allah ridha kepadanya dan dia ridha kepada Allah. Dia yang puasanya disyukuri Tuhannya. Dia yang murkanya adalah murka Allah, dan ridhanya adalah ridha Allah. Dia…dia…dia…, tak mampu lisan dan tulisan menggambarkan kesempurnannya. Siapa Fatimah? Kita tak mampu menjawabnya, kita hanya bisa berkata, “Fatimah is Fatimah”, ungkap Ali Syariati. Tentang Fatimah ummu abiha, Muhammad Iqbal pun merangkai syairnya :

Kemuliaan muncul dari tiga arah,
di pangkuan Fatimah yang mulia
Lihatlah, siapa suami dan anaknya
 
Lihatlah, siapa yang melebihi cahaya ayahnya
Satu dari cahaya-cahaya nabi nan mulia, penuntun dalam gelap gulita
Rahmat bagi semesta, harapan bagi dunia dan sesudahnya
Semangatnya membangunkan fitrah,
seakan mati lalu dia menghidupkannya
Dia ukir sejarah baru, seperti pengantin berbulan madu
 
Lihatlah, siapa suami Fatimah,
Dialah lelaki sebenarnya
Sifat baiknya melebihi matahari waktu dhuha,
menyibak semua masalah
Istananya hanya gubuk tua,
pedang berkilau harta kekayaannya
 
Lalu lihatlah, siapa dua anak Fatimah,
Tidak ada yang terlahir sebaik mereka
Seorang menjadi pemimpin jihad,
seorang lagi pemersatu umat
 
Fatimah memang teladan bagi wanita
Setiap langkahnya memancarkan cahaya
Menyelamatkan umat dari perpecahan
Itulah kiprah anaknya yang bernama Hasan
Ia rela tinggalkan jabatan demi persatuan
Husain juga menyebarkan kebaikan-kebaikan
Sifat-sifatnya sangat harum dan membahana ke seluruh alam

fatimah (2)

Hari ini 20 jumadil akhir (bertepatan pula 20 April 2014), saya mengucapkan “Selamat atas kelahiran Sayidah Fatimah Zahra as, pemimpin wanita teladan sejagad raya”, Assalamu alaiki ya Fatimah binta Rasulullah, warahmatullah wa barakatuh”. Dan besok, 21 April, kita memperingati pula wanita teladan Indonesia, Raden Ajeng Kartini. Ini anugerah bangsa Indonesia, memperingati dua wanita teladannya, wanita yang mendunia dan wanita yang mengindonesia. Selamat kepada wanita Indonesia, jadilah teladan sepanjang masa. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL