Oleh Nur el-Fikri

RADEN-AJENG-KARTINIPagi ini, 21 April, teringat hari kartini, saya ingin menulis sesuatu tentangnya, saya ambil buku yang cukup lama terpendam, “Kartini, Surat-Surat Kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan Suaminya” (1992) Di saat menelusuri berbagai surat-suratnya tersebut yang banyak berkeluh kesah tentang soal perkawinan yang tak disepakatinya, terkhusus poligami dan pernikahan dini, saya punya kesan, kartini menggugat Islam?

Dalam salah satu suratnya, di tulis pada bulan Agustus tahun 1900, kartini melaporkan nasibnya dan nasib perempuan Indonesia pada Ny Abendanon, berikut ini,

Saudara yang berkulit putih dengan hatimu yang penyayang dan penuh rasa kasih, pandangamu yang luas, dengan pikiranmu yang kaya, ulurkan tanganmu! Angkatlah kami dari kubangan derita dan sengsara, tempat di mana kami di dorong dan dicelupkan untuk selamanya oleh kepentingan diri orang laki-laki. Tolonglah kami memberantas sifat mementingkan diri kaum laki-laki yang tak mengenal segan itu, Iblis, yang ratusan tahun mendera, menginjak-nginjak perempuan sedemikian rupa sehingga karena biasa akan aniaya itu, perempuan tak memandangnya lagi sebagai ketidakadilan, melainkan dengan rasa menyerah dan tawakal menerimanya sebagai hak yang wajar (!) laki-laki, sebagai pusaka penderitaan setiap perempuan. Saya masih muda, tetapi saya tidak tuli dan tidak pernah buta dan saya telah banyak mendengar dan melihat. Bahkan terlalu banyak barangkali, sehingga hal tersebut menjadikan saya menyusut kecil kesakitan, mencambuk saya dengan garang untuk tegak berdiri melawan adat kebiasaan jahat, yang telah tertanam dalam-dalam dan merupakan kutuk bagi perempuan dan anak-anak.

Saya putus asa, dengan rasa pedih perih saya puntir-puntir tangan saya jadi satu. Sebagai manusia seorang diri saja saya merasa tidak mampu melawan kejahatan berukuran raksasa itu, dan yang—aduh alangkah kejamnya, dilindungi oleh ajaran Islam dan dihidupi oleh kebodohan perempuan, kurbannya. Aduh! Saya pikir mungkin pada suatu ketika nasib menimpakan kepada saya suatu siksaan yang kejam, yang bernama poligami itu! ‘Saya tidak mau’!” (hal 10)

Memperhatikan surat kartini ini, saya teringat kalangan penganut Radical Feminist, yang menekankan suatu keyakinan bahwa “laki-laki adalah masalah” dan karena itu perlu dihindari atau dilawan. Titik fokus perhatian mereka adalah penindasan perempuan yang terjadi sepanjang sejarah di berbagai tempat. Tapi, apakah kartini penganut Feminis Radikal? Tentu tak gampang menjawabnya, saya tidak tahu!

Namun, isi surat di atas setidaknya memberi gambaran kepada kita bahwa bagi Kartini, penindasan laki-laki atas kaum perempuan diterapkan secara sistematis dalam struktur masyarakat, dengan pranata adat, budaya, kekuasaan, bahkan diberi landasan doktrin keagamaan, sehingga penguasaan terhadap perempuan akan didukung dan diterima secara sukarela. Dengan sistem ini, eksploitasi terhadap perempuan akan cenderung dilestarikan. Karenanya, perjuangan semestinya diarahkan untuk menggugat pranata-pranata sosial tersebut.

Kartini menggugat Islam? yang dipandangnya memberi peluang bagi kekejaman laki-laki, sebab Islam membolehkan poligami, tidak mentolerir hidup membujang, dan menjadikan perceraian berada di tangan lelaki, perhatikan surat Kartini lainnya, yang ditulisnya pada tanggal 27 Maret 1902,

“Saya pernah mengutip sesuatu dari pidato Profesor Max Muller, bangsa Jerman yang ulung dalam bahasa-bahasa Timur, sejarah dan sebagainya. Bunyinya lebih kurang sebagai berikut, ‘Poligami seperti dijalankan pada bangsa-bangsa Timur adalah suatu kebajikan bagi kaum perempuan dan gadis-gadis, yang di dalam negerinya tidak dapat hidup tanpa suami atau pelindung dan apakah kebiasaan itu tidak tumbuh dari dorongan hawa nafsu seperti halnya pada Salomo.’

Max Muller sudah meninggal, kami tidak dapat memanggilnya kemari untuk memperlihatkan kebajikan adat itu kepadanya. Orang mencoba membohongi kami, bahwa tidak kawin itu bukan hanya aib, melainkan dosa besar pula. Telah berulang kali hal itu dikatakan kepada kami. Aduhai! Dengan menghina sekali orang sering kali membicarakan perempuan yang membujang!

Kami ingin sekali pergi ke negeri Belanda, karena Negeri Belanda akan membebaskan kami. Eropah akan mengenakan baju besi kami, akan membuat kami kebal terhadap serangan orang kebanyakan yang berjiwa kerdil, membuat kami kebal terhadap ejekannya!

Untuk menjadi bebas, kawin dulu, lalu bercerai! Tetapi yang terakhir ini juga dapat sangat dipersukar. Kalau suami tidak mau, maka isteri boleh menggantungkan harapan hampa untuk memperoleh kebebasannya, sedang apabila suami mau, dia tidak minta pendapat isterinya dan dia dapat mengusirnya pada setiap jam, tiap hari. Tetapi isteri dapat menebus diri. Dia harus membayar sekian dan sekian. Suatu keadaan yang tentu saja menyedihkan!” (hal 247)

Perhatikan beberapa poin Kartini menggugat Islam?, misalnya “menggugat angapan bahwa Poligami sebagai kebajikan”, “menggugat anggapan bahwa hidup membujang adalah kehinaan, aib, dan dosa besar”, “menggugat model perceraian yang memberikan hak dan kebebasan pada pria untuk kapan saja menceraikan isterinya, tetapi mengekang perempuan melepaskan dirinya dari lelaki, bahkan perempuan harus membayar ganti rugi”, semua ini bagi kartini adalah “peluang yang dilegalisasi agama” atas penindasan perempuan.

Saya tidak tahu, apakah kartini belajar agama dengan baik, memahami hukum-hukum dan ajarannya yang saling terkait antara yang satu dengan lainnya,,, Saya juga tidak tahu, mengapa Kartini tidak mengutip penghormatan dan pembelaan Islam atas para wanita dan pemberian hak-hak spesial yang diberikan Islam pada mereka.

Tidak sampai di situ saja, untuk membangun argumentasinya, Kartini juga mengutip kisah putri Nabi Muhammad saw, Sayidah Fatimah yang “tertindas” dan “makan hati” akibat suaminya berpoligami. Hal ini diungkapkannya dalam sebuah suratnya tertanggal 29 November 1901, di mana Kartini menulis surat kepada Ny Abendanon, di antara isinya melaporkan kisah berikut,

“Tentang Fatimah, anak Nabi, diceritakan bahwa ketika suaminya membawa pulang isteri baru. Ayahnya menanyakan bagaimana pendapatnya, Fatimah menjawab congkak, “Tidak apa-apa.” Ayahnya memberinya telur mentah yang ditekankannya pada hatinya. Ayahnya meminta kembali telur itu, di pecah dan telur itu telah masak. Fatimah bersandar pada pohon pisang, langsung daun-daunnya pertama yang segar menjadi layu dan tempat badannya bersandar pada batang pohon itu menjadi arang. Hati perempuan sejak itu tidak berubah. Cerita ini sekaligus menanamkan kepada Nyonya bagaimana pendapat kebanyakan orang mengenai hal laki-laki yang kejam itu.” (hal 166)

Saya terganggu dengan kisah ini, sebab saya belum pernah tahu kisah tersebut dalam kitab-kitab sejarah atau hadis. Saya tidak tahu sumber yang digunakan kartini untuk mengambil kisah ini. Yang saya tahu, Fatimah ta pernah dimadu. Hanya saja konon katanya, suami Sayidah Fatimah, yaitu Imam Ali, mau melamar putri Abu Jahal, tetapi tidak jadi, karena tidak disetujui nabi dan putrinya. Jika kisah inilah sumbernya, maka berarti Kartini telah mendistorsinya.

Lantas, apakah dengan kisah ini, kartini ingin menggugat dan menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang “melegalkan” atau “memberi peluang” bagi penindasan perempuan? atau ia ingin menjelaskan bahwa para lelaki kejam itulah yang menjadikan agama sarana menindas para wanita? Saya tidak tahu jawabannya, itulah mengapa judul tulisan ini pun tetap diberi tanda tanya (?). Begitupun bagi para wanita Indonesia, Selamat Hari Kartini! (hd/liputanislam)

*Nur el-Fikri hobi nulis dan mengamati sosial-keagamaan

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL