tahzibul akhlakSuatu hari dalam majelis ilmu, seorang filosof sedang menyampaikan pelajaran kepada murid-muridnya yang terdiri dari para pelajar berabagai kalangan. Kebetulan pada saat itu, hadir juga Abu Ali Ibnu Sina. Ia mendengarkan dengan seksama berbagai pelajaran yang disampaikan oleh filosof tersebut. Mendadak Ibnu Sina memprotes keras dan mengajukan berbagai kritik serta pertanyaan-pertanyaan yang ingin menyudutkan sang filosof. Ibnu Sina menuntut sang guru untuk menjawabnya dengan jelas, karena dalam perkiraannya sang filosof akan kesulitan memberikan jawaban. Dengan wajah yang lembut sang filosof itu berkata kepada Ibnu Sina, “Pelajarilah buku akhlak ini terlebih dahulu sehingga hati dan akalmu menjadi bersih, baru aku akan menjawab semua pertanyaanmu itu”. Jawaban sang guru ini, menyadarkan betapa pentingnya akhlak dalam menuntut dan menguasai ilmu. Siapa sang filosof itu? Dialah Ibnu Miskawaih penulis Tahdzib al-Akhlak.

Nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Khasim Ahmad bin Ya’kub bin Maskawaih. Ia lebih dikenal dengan nama Ibn Miskawaih.[1] Beliau dilahirkan di kota Ray (Iran) pada tahun 320 H/932 M ada juga yang menyebutkan tahun 330 H/940 M. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, Ibn Miskawaih mempelajari kitab Tarikh al-Thabari kepada Abu Bakar Ahmad ibn Kamil al-Qadhi (w. 350 H/960 M). Selain belajar sejarah, beliau pun mempelajari filsafat kepada Ibn al-Khammar, salah seorang komentator Aristoteles[2] dan al-Hasan bin Siwar, seorang ‘ulama pengkaji filsafat, kedokteran dan logika.

Tidak hanya sebatas itu, beliau pun mempelajari ilmu bahasa, ilmu kedokteran, ilmu fiqh, hadits, matematika, musik, ilmu militer,[3] dan lainnya. Karena beliau memiliki tingkat kecerdasan yang sangat tinggi, maka beliau pun dapat melahap habis semua pelajaran yang diberikan kepadanya. Walhasil, beliau pun menjadi salah seorang filsuf Islam terkemuka di zamannya.

Sebagai seorang pemikir besar, Ibn Miskawaih telah melahap seluruh kitab-kitab filsafat dari warisan peradaban pra-Islam. Pada masanya, beliau banyak membaca dan menelaah kitab-kitab pemikir dari berbagai peradaban seperti Yunani, Persia, Romawi. Sehingga, pemikiran-pemikiran tokoh dari berbagai peradaban itu memberikan pengaruh yang tidak kecil bagi Ibn Miskawaih. Hal ini terlihat jelas, ketika Ibn Miskawaih merumuskan pandangannya, beliau pun mengkombinasikan pemikiran-pemikiran dari Plato, Aristoteles, Galen dan ajaran Islam.[4]

Ibn Miskawaih hidup pada masa dinasti Buwaihi. Ketika masih muda, ia mengabdi kepada Abu Muhammad al-Hasan al-Muhallabi, wazir pangeran Buwaihi, Mu’iz ad-Daulah di Baghdad. Setelah Al-Muhallabi itu wafat pada tahun 352 H/963 M), Ibn Miskawaih pun mendekati Ibn al-‘Amid di Ray, wazir dari Rukn al-Daulah. Rukn al-Daulah ini tidak lain adalah saudara Mu’iz al-Daulah. Ibn al-‘Amid bukan orang sembarangan, sebab ia seorang tokoh sastra terkenal. Tidak hanya itu, Ibn al-‘Amid bekerja sebagai pustakawan. Karena Ibn al-‘Amid menjadi wazir dari Rukn al-Daulah, maka beliau pun mendapat kedudukan terhormat di ibukota pemerintahan dinasti Buwaihi tersebut.[5]

Pada tahun 360 H/970 M, al-‘Amid wafat, sehingga kedududkannya digantikan oleh anaknya, yakni Abu al-Fath. Ibn Miskawaih pun mengabdi kepada anak al-‘Amid ini. Pada tahun 366 H/976 M, Abu al-Fath wafat, sehingga jabatan wazir direbut oleh musuhnya yang bernama al-Shahib ibn ‘Abbad. Karena musuh Abu al-Fath merebut kekuasaan, maka sebagai pendukung Abu al-Fath, Ibn Miskawaih pun meninggalkan kota Ray. Kemudian, Ibn Miskawaih berangkat menuju Baghdad. Di kota ini, Ibn Miskawaih mengabdikan diri kepada penguasa Dinasti Buwaihi, yakni ‘Adhud al-Daulah. Pada masa ini, Ibn Miskawaih diangkat sebagai bendahara penguasa dinasti Buwaihi. Setelah ‘Adhud al-Daulah wafat, Ibn Miskawaih tetap mengabdi kepada para pengganti pangeran dinasti Buwaihi ini, yakni Shamsham al-Daulah (388 H/998 M) dan Baha’ al-Daulah (403 H/1012 M).

Meskipun beliau menduduki jabatan strategis di pemerintahan Dinasti Buwaihi, namun hal itu tidak membuatnya malas menulis. Hal ini terbukti karena beliau banyak menulis kitab-kitab yang bermutu tinggi, antara lain al-Fauz al-Akbar; al-Fauz al-Ashghar; Tajarib al-Umam; Uns al-Farid; Tartib al-Sa’adah; al-Mustaufa; Jawidan Khirad; al-Jami’; al-Siya; On the Simple Drugs; On the Compositions of the Bajats; Kitab al-Asyribah; Tahdzib al-Akhlaq; Risalah fi al-Lazzah wa al-Alam fi jauhar al-Nafs; Ajwibah wa As’ilah fi al Nafs wa al-‘Aql; al-Jawab fi al-Masa’il al-Tsalas; Risalah fi Jawab fi Su’al Ali ibn Muhammad Abu Hayyan al-Shufi fi Haqiqah al-‘Aql; dan Thaharah al-Nafs.[6]Berbagaikarya itu dihasilkan Ibn Miskawaih hingga ia wafat di Isfahan (Iran) pada 9 Shafar 421 H/1030 M.

Catatan

[1] M. Luthfi Jum’ah, Tarikh Falsafah al-Islam, (Mesir: tp, 1927), hlm. 304.

[2] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999), hlm. 56.

[3] Ahmad Amin, Zuhr al-Islam, Juz II, (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1969), hlm. 66.

[4] T.J. D Boer, The History of Philosophy in Islam, (New York: Dover Publication, tt.), hlm. 128.

[5] Oliver Leamen,Ibn Miskawaih”, dalam Syed Hossein Nasr dan Oliver Leamen, ter. Tim Penerjemah Mizan, (Bandung: Mizan, 2003), hlm. 310.

[6] Abdurrahman Badawi,Miskawaih”, dalam M.M. Sharif (ed), A History of Muslim Philosophy, vol. 1, (Wiesbaden: Otto Harrosowitz, 1963), hlm. 469-470.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL