adnanDr. Sayyid Adnan bin Syaikh Ibrahim lahir pada 1966 di Kamp Nashirat, seitar 80 km selatan kota Gaza. Ia lahir di tengah keluarga sederhana dari keturunan keluarga Asy-Syanthi yang mulia yang nasabnya sampai kepada Sayidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

Adnan kecil tumbuh berkembang di bawah pengasuhan kedua orang tuanya dengan penuh kasih sayang. Tanda-tanda kecerdasan, keunggulan, dan semangat menuntut ilmu mulai nampak sedikit demi sedikit. Ia menyelesaikan pendidikan formalnya di sekolah yang ada di Gaza dengan penuh penderitaan dan kesulitan hidup saat itu. Pada saat itu Adnan Ibrahim kecil menghabiskan mayoritas waktunya di masjid komplek kamp pengungsi tempat tinggalnya dengan terus menjaga shalat dan mampu menyelesaikan hafalannya di usia yang sangat belia. Ia sampai digelari penjaga masjid karena seringnya ia berada di sana dan ia tidak terbiasa bergaul dengan teman-teman sebayanya karena hobbynya yang suka membaca dan menelaah.

Setelah beliau menyelesaikan pendidikan menengahnya beliau sangat berhasrat untuk menjadi seorang dokter. Ia pun pergi ke Yugoslavia untuk belajar ilmu kedokteran di sebuah Universitas di sana. Karena situasi perang ia pindah lagi ke Viena pada awal-awal tahun sembilan puluhan untuk menyelesaikan kuliah kedokterannya di Universitas Viena yang ada di sana. Kemudian karena minatnya untuk belajar ilmu syar’i tinggi ia juga belajar ilmu-ilmu syar’i di fakultas Imam Auza’I di Libanon. Ia lulus dari fakultas tersebut dengan nilai sangat memuaskan. Kemudian ia mendapatkan gelar magister dan doktor dari Universitas Viena di jurusan Bahasa Arab dan Study Islam.

Sejak kecil ia sudah hafal Alquran, dilanjutkan mempelajari akidah asy’ariyah, fikih mazhab Syafi’i, serta tulisan-tulisan lain dari ulama tentang berbagai disiplin ilmu seperti bahasa Arab, tajwid, tafsir, tarikh, sirah, hadis, dan lainnya. Ketekunan yang luar biasa membuat ia dengan baik menguasai berbagai studi Islam tersebut, baik dari ulama-ulama masa lalu (salaf) maupun belakangan (khalaf) serta saat ini (muta’akhirin).

Tidak sampai di situ saja, ia pun melanjutkan studi dan penelaahannya dengan memperdalam ilmu-ilmu umum (saintifik) dan berusaha melakukan integrasi dengan ilmu-ilmu keilsaman. Minat yang besar dalam membaca dan menelaah ilmu-ilmu, membuatnya berhasil setidaknya mengumpulkan sekitar delapan puluh ribu buku dalam berbagai bidang kajian dengan berbagai bahasa yang berbeda seperti Arab, Inggris, Rusia, Jerman, dan lainnya.

Salah satu kajiannya yang cukup mendapat perhatian adalah kajian beliau tentang para pengingkar agama dan ketuhanan (ateisme) yang menjangkiti para pemuda Islam. Judul kajiannya Mithraqatul Burhan wa Zujaj Al Ilhad (Kokohnya Bukti Ketuhanan dan Rapuhnya Ateisme), yang memberikan pembuktian wujud Allah melalui dalil-dalil rasional dan bukti-bukti ilmiah.

Dalam sikap beragama, Syaikh Adnan Ibrahim mengedepatkan sikap moderat dan toleransi yang besar terhadap berbagai perbedaan yang ada. Ia selalu menyampaikan pesan baik dalam ceamah maupun tulisannya, untuk menjaga persatuan kaum muslimin dan tidak berpecah belah karena urusan politik duniawi. Ia juga sangat mengecam keras sikap fanatisme, takfirisme, dan terorisme yang belakangan ini banyak melanda umat Islam dunia.

Dr. Adnan banyak mengadakan kajian ilmiah dan mengajar berbagai cabang keilmuwan seperti tafsir, hadis, fikih, tasawuf, filsafat, dan juga perbandingan agama. Salah satu yang menjadi kontroversial adalah studinya dalam judul Bidayatu Karitsatina (Malapetaka yang Menimpa Kita) dan Silsilah Syubuhat wa Bayyinaat (Studi tentang Syubhat-syubhat dan Bukti-bukti), yang membincangkan tentang pendiri dinasti Umayyah yaitu Muawiyah bin Abi Sufyan dan persoalan keadilan sahabat. Ia menampilkan berbagai pandangan dari ulama Ahli Sunnah baik ulama terdahulu maupun belakangan.

Karena hal tersebut sebagian ulama mulai marah dan menuduhnya menganut paham Syiah Rafidhah. Ia diserang dengan oleh mereka dengan serangan membabi buta, sampai ada yang mengkafirkannya. Beliau tidak pernah peduli dengan tuduhan-tuduhan tersebut yang menurut beliau para penuduh itu akan menyeret kita kepada aksi kekerasan, sektarianisme, dan fanatisme kelompok.

Beliau dan beberapa sahabatnya mendirikan lembaga Jam’iyyah Liqa Al-Hadharat pada tahun 2000 di Viena dan ia pun diangkat menjadi ketuanya. Beliau juga banyak berpartisipasi dalam berbagai muktamar dan pertemuan ilmiah di berbagai negara di dunia. Untuk menyebarkan ide-ide dan gagasan besarnya ia selalu menjadi narasumber di beberapa program televisi seperti Program Fil ‘Umq di Al-Jazirah Channel dengan judul Syariat Islam dan Daulah Madaniyah (Negara Sipil); Program Ittijahaat, program Fi Ash-Shamim, program Rahmatan lil Alamin di Rotana Al Khalijiyyah Channel, yang berisi diskusi seputar persoalan-persoalan yang menimbulkan perdebatan publik.

Sehubungan pembicaraan tentang buku karyanya, banyak orang bertanya, entah itu dari kalangan pemikiran maupun ulama tentang keengganan Dr. Adnan dari menulis buku, beliau menjawab dengan perkataannya bahwa ia mulai menulis buku sejak umur 14 tahun. Ia terus menulis buku hampir sejumlah 7 buku hingga usia 21 tahun. Setahun terakhir beliau juga mulai lagi untuk menulis ensiklopedi ilmiah integral yang semoga Allah memudahkan beliau untuk segera menyelesaikannya. Banyak para ulama dan ilmuwan yang memberikan pengakuan akan kualitas keilmuan Dr. Adnan Ibrahim seperti Prof. Adnan Al-Baih, Prof. Isham Atthar, Syaikh Thayyib al-Mishri, Dr. Thariq Suwaidan, Dr. Salman Audah, dan Syaikh Abu Zaid Al-Muqri. Bahkan ulama kharismatik Suriah Alm Syahid Ramadhan al-Buthi menyebut Dr. Adnan Ibrahim sebagai ensiklopedi hidup umat Islam. (hd/liputanislam.com)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL