Oleh: Otong Sulaeman

Beberapa tulisan yang sudah saya buat selama musim haji ini mungkin memunculkan pertanyaan: tidakkah sikap-sikap “mengubah persepsi” justru menjustifikasi hal-hal negatif seputar pelaksanaan haji yang semestinya diperbaiki pihak yang berwenang?

Misalnya soal situasi di Mina yang sangat tidak manusiawi. Data terakhir yang saya tahu menunjukkan bahwa jamaah haji Indonesia yang wafat di Mina ada 151 orang. Di maktab kami, ada dua orang yang wafat. Satu orang meninggal di tenda, dan satunya lagi meninggal di toilet. Berita yang saya terima, orang tersebut meninggal setelah mengantri lebih dari satu jam di bawah sengatan sinar mentari Mina di tengah suhu lebih dari 45 derajat Celcius.

Kondisi tenda memang sangat tidak manusiawi. Kami harus berdesak-desakan di dalam tenda karena space kami hanya 0,5 – 0,8 m persegi perorang. Kami juga selalu mengantri berjam-jam ketika mau buang hajat karena untuk sekitar 2.000 – 3.000 orang, toilet yang tersedia hanya sekitar lima belas buah.

Saya sendiri sebenarnya tidak tahu secara akurat berapa jumlah jamaah dalam satu maktab dan berapa tepatnya space yang tersedia buat kami. Saya juga tidak ingat secara persis, berapa jumlah toilet yang disediakan untuk satu maktab itu. Yang pasti, pengamatan saya secara lahiriah di lapangan menunjukkan betapa sangat buruknya situasi di tenda-tenda Mina. Situasi ini membuat kematian tinggal menunggu, khususnya bagi mereka yang sudah lanjut usia, atau yang sudah punya penyakit bawaan sejak dari Indonesia.

Sikap “mengubah persepsi” sehingga kita mampu menerima kondisi buruk dengan ikhlas seolah membuat mereka yang bertanggung jawab atas situasi seperti ini melenggang dengan nyaman tanpa perlu khawatir dimintai pertanggungjawaban atau dikritisi.

Tentu saja tidak demikian. Kita perlu memandang persoalan ini dalam dua dimensi. Pertama, dimensi pribadi. Kedua, dimensi struktural.

Saya melihat bahwa perbaikan struktural dan perjuangan membela orang-orang yang lemah akan menjadi efektif jika dilakukan oleh orang-orang yang punya jiwa kuat. Anda akan bisa berjuang jika mampu menjaga jarak dari masalah yang Anda perjuangkan. Jika Anda sendiri menjadi bagian dari masalah, sangatlah sulit untuk bertindak secara objektif, tepat-sasaran, dan konsisten.

Sejarah perjuangan Rasulullah sendiri menunjukkan hal seperti itu. Sebelum menerima wahyu di usia 40 tahun, Rasulullah melakukan tahannuts selama sebulan penuh dalam setahun (biasanya di bulan Ramadhan). Hal itu beliau lakukan selama 10 tahun sebelum akhirnya menerima wahyu. Beliau menyingkir ke luar kota, melewatkan hari-hari di gua-gua sekitar Makkah. Yang dilakukan oleh beliau adalah diam, merenung, mengheningkan jiwa, menguatkan jiwa.

Setelah menerima wahyu, Rasulullah tetap belum mendapatkan tugas untuk langsung terjun ke tengah-tengah masyarakat, memperbaiki keadaan, melakukan amar makruf nahi munkar, dan mendakwahkan ajaran Islam. Selama 2 atau 3 tahun, Rasulullah hanya disuruh rajin bangun di malam hari untuk salat dan membaca Al-Quran.

Jadi, selama 12 atau 13 tahun lamanya Rasulullah tidak melakukan apapun. Padahal, situasi kekacauan sangat merajalela. Perzinahan di mana-mana, penguburan hidup-hidup bayi perempuan mendapatkan legalisasi secara kultural, dan perendahan manusia lewat perbudakan dianggap sebagai hal yang lumrah belaka.

Tapi Rasulullah seperti tidak melakukan apapun. Ia hanya diperintahkan untuk menguatkan jiwanya. Sebagaimana yang dikatakan di dalam Al-Quran, penguatan jiwa itu sangat penting karena risalah bukanlah tugas yang biasa-biasa saja. “Sungguh akan Kami berikan kepadamu tugas yang berat. Ketahuilah, bangun di tengah malam itu menguatkan dan memperteguh jiwa.” (Al-Muzzammil: 5 – 6)

Jadi, ada masanya ketika Rasulullah hanya berdiam diri saja. Tapi itu adalah diam yang penuh makna; diam yang membangun strategi, dalam rangka menguatkan jiwa. Tuhan tak membiarkan Rasulullah terjun ke tengah-tengah masyarakat dengan jiwa yang lemah dan compang-camping, sementara tantangan yang dihadapi sangatlah berat.

Itulah juga yang seharusnya kita lakukan. Mungkin kita tidak mesti bertahun-tahun menempa diri seperti yang dilakukan oleh Rasulullah, karena beratnya tugas yang diemban juga sangatlah berbeda. Tapi, pada intinya, penguatan jiwa dan upaya menyelesaikan diri sendiri adalah fase yang harus dilewati oleh siapapun yang hendak terjun berjuang melakukan perbaikan di tengah-tengah masyarakat.

Dan tentu saja, juga buruk kalau kita hanya berkutat saja di ranah pembenahan diri dan penguatan jiwa, tanpa menjadikannya sebagai sarana persiapan untuk melakukan hal yang berguna di tengah-tengah masyarakat. Bertempur tanpa persiapan adalah sikap buruk, sebagaimana buruknya jika kita keasyikan berkutat terus di persiapan, lalu alpa untuk maju ke medan laga. Wallahu a’lam.

(Catatan tanggal 31 Agustus 2019)

 

Baca:
Efek ‘Wow’ Melihat Ka’bah

Jejak-Jejak Makna di Baitul ‘Atiq

Menjadi Setitik Noktah

Bara’ah di Arafah dan The Not-To-Do-List

Qurban, Ibadah di Atas Limpahan Kesyukuran

You Two Were Made for Each Other

Menghamba di Rumah Kebebasan

Memilih Memori

Pilihan di Antara Dua Kebaikan

Memilih Menaikkan Level Diri

Mendekatkan Target

Berdoa Tapi Tak Berharap

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*