Arbain atau Arbaeen adalah peringatan (haul) 40 hari gugur syahidnya Imam Husain di Karbala, yang terbunuh dalam pertempuran tak seimbang melawan ribuan pasukan Yazid bin Muawiyah.

Para imam, wali, dan ulama telah menekankan pentingnya dan besarnya keutamaan berziarah ke makam Imam Husain as pada hari Arbain. Menurut catatan sejarah, Jabir bin Abdullah adalah orang yang memulai tradisi ini berjalan kaki. Dari sebagian catatan sejarah disebutkan bahwa dimasa Syaikh Anshari (wafat tahun 1281 H) berjalan kaki menuju Karbala adalah tradisi masyarakat yang sangat masyhur.

Namun sepeninggal beliau, tradisi tersebut pelan-pelan ditinggalkan masyarakat muslim sampai pada masa Syaikh Mirza Husain Nuri yang lewat upaya dan dakwahnya menghidupkan kembali tradisi tersebut. Ulama besar tersebut tercatat sebagai yang pertama kali berjalan kaki dari Najaf ke Karbala pada hari raya Idul Adha. Beliau bersama 30 orang murid dan sahabatnya menempuh perjalanan selama 3 hari untuk kemudian tiba di Karbala. Setelah melakukan perjalanan tersebut, beliau bertekad akan mengulanginya pada hari Arbain dan selanjutnya mentradisikannya setiap tahun sepanjang umurnya. Tahun 1319 H tercatat dalam rekaman sejarah sebagai perjalanan beliau yang terakhir dari Najaf ke Karbala dengan hanya berjalan kaki.

Tahun ini (2018) terdapat lebih dari 1,8 juta visa Irak yang diberikan kepada warga Iran yang mengikuti ritual ziarah Arbaeen Walk. Belasan juta lainnya berdatangan dari daerah-daerah di Irak dan negara-negara lain.

Menurut liputan AFP, para peziarah Arbaeen dari Iran ini berasal dari berbagai latar belakang, laki-laki dan perempuan, muda dan tua, bayi yang dibawa dengan kereta bayi, dan lansia di kursi roda.

“Saya pergi karena hati saya berkata begitu, saya pergi karena kecintaan saya kepada Imam Hussein,” kata seorang warga Iran, Morteza Taghikhani (39), yang sudah lima kali mengikuti ritual ziarah Arbaeen.

Untuk ziarah tahun ini, Morteza ditemani oleh istri dan anaknya: “Mereka bersikeras untuk datang. Meski ini adalah perjalanan yang sulit, mereka sangat menikmatinya.”

Para peziarah bergerak melewati tenda-tenda yang disebut “mokeb”, yang menyediakan makanan gratis seperti telur orak-arik dan lobak rebus. Makanan dan minuman tersedia dari pagi hingga malam, begitu pula selimut dan tenda bagi siapa saja yang butuh istirahat selama perjalanan puluhan kilometer itu.

Setiap beberapa meter, ada warga Irak yang menyediakan jasa semir sepatu gratis. Ketika peziarah membuka sepatu, penyemir seringkali mencium kaki mereka sebagai tanda hormat. Bagi kaum Syiah, gelaran Arbaeen sangatlah suci sehingga melayani para peziarahnya pun akan mendapatkan pahala.

Arbaeen adalah momen peringatan kematian Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad, yang menolak untuk menerima kepemimpinan “perampas” Khalifah Yazid. Imam Hussen dibantai bersama dengan para pengikutnya di Karbala.

Kaum Muslim menmperingati kematiannya dengan upacara berkabung. Pendirian terakhir Hussein dianggap sebagai simbol keteguhan dan pengorbanan yang kuat dalam menghadapi penindasan.

Citra ini selalu menjadi bagian penting dari citra diri Iran secara religius dan politik. Bahkan ketika modernitas telah mengubah sebagian besar negara, peringatan Arbaeen yang berskala besar selalu menjadi pengingat bahwa simbolisme itu tetap ada.

“Pawai ini menunjukkan kepada dunia imperialisme bahwa negara Muslim tidak dapat dikalahkan, baik dengan cara ekonomi, militer, atau politik,” kata Sajjad Entezar, seorang ulama berusia 23 tahun dari Qom, Iran.

Salah satu peziarah, Khadijeh Mehrjoo (36), seorang anggota dewan kota di Iran, mengaku tidak khawatir karena harus berjalan kaki amat jauh selama beberapa hari ke Karbala. Dia bahkan tidak khawatir soal isu keamanan di Irak.

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Imam Hussein sendiri menjaga kami,” katanya.

Pawai itu sempat dilarang selama bertahun-tahun di bawah diktator Irak, Saddam Hussein, yang memerangi Iran pada tahun 1980-an. Larangan itu akhirnya dicabut setelah kejatuhan sang diktator pada tahun 2003.

Dengan pembentukan negara Irak baru, di mana jabatan perdana menteri dipegang oleh seorang Syiah, pawai Arbaeen dengan cepat menjadi salah satu ritual ziarah keagamaan paling populer di dunia.

Bahkan dengan munculnya kelompok ekstrimis ISIS yang menyerang Syiah dengan kejam, para peziarah Arbaeen tidak pernah berhenti mengalir.

Serangan kelompok teroris di pernah terjadi pada tahun 2014, sekitar 70 kilometer dari Karbala. Tapi, itu malah memperkuat keimanan pemeluk Syiah, dan jumlah peziarah Imam Hussein terus bertambah sepanjang waktu hingga puluhan juta.

Bagi Mehrjoo, pawai ziarah itu sendiri dilakukan dalam rangka melawan ancaman yang dihadapi.

“Pawai itu menciptakan persatuan, solidaritas,” katanya.

“Jika kita bergandengan tangan, kita bisa menang. Kita bisa mengalahkan musuh-musuh Islam,” ucapnya. (ra)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*