Oleh: Sofia Abdullah*

Akhir-akhir ini banyak saya temukan broadcast atau status Facebook yang menyebut bahwa Raden Fatah (Raden Patah) dan mayoritas Walisongo beretnis Tionghoa, bahkan disebut pula nama-nama Tionghoa mereka. Benarkah demikian? Tulisan saya berikut ini tentang klarifikasi tentang isu tersebut yang merupakan hasil penelitian saya dan rekan-rekan selama 5 tahun terakhir.

Sebelumnya, saya kutip dulu informasi yang beredar di jejaring sosial:

“Kerajaan Islam pertama di jawa didirikan oleh seorang keturunan Tionghoa-Jawa,yaitu Raden Patah alias Jin Bun, Jin bun dalam bahasa Tionghoa artinya adalah orang kuat. Jin bun atau Raden Patah ini adalah anak dari Raja Majapahit Brawijaya dengan selir Tionghoa bernama Siu Ban Ci. Siu Ban Ci adalah seorang wanita yang sangat cantik jelita, sehingga permaisuri Dwarawati sangat cemburu dgn selir ini. Karena Raja Brawijaya sangat sayang dengan permaisuri Dwarawati, akhirnya dengan terpaksa membuang selir Siu Ban Ci yg lagi hamil ke daerah Palembang.

Siu Ban ci di terima oleh Bupati Palembang Swan Liong atau Arya Damar yang juga anak dari Raja Brawijaya dgn selir Tionghoanya yang lain. Raja berpesan agar Siu Ban Ci tidak boleh disentuh sampai dia melahirkan anaknya.

Setelah Siu Ban Ci melahirkan anaknya yaitu Jinbun yg kelak bernama Raden Patah, Selir Siu Ban Ci dinikahi oleh Swan Liong alias Arya Damar. Dari pernikahan ini lahir lagi seorang anak bernama Kimsan atau artinya Gunung Emas. Kimsan yang merupakan adik tiri Raden Patah ini, kelak bernama Raden Kusen.

Setelah Dewasa Raden Patah dan Raden Kusen dikirim berguru oleh Arya Damar kembali ke Jawa menemui Bong Swie Hoo atau Sunan Ngampel. Setelah mendalami ilmu agama juga ilmu bela diri, Bong Swi Hoo mengirim Raden Kusen untuk menjadi Prajurit mata-mata kerajaan Majapahit, sedangkan Raden Patah diberikan satu daerah di bintara untuk memimpin daerah tersebut.

Bong Swi Hoo alias Sunan Ngampel mempunyai hubungan yg sangat baik dengan Raja Majapahit, karena bibinya Dwarawati adalah permaisuri Raja.
Sedangkan Raden Patah juga adalah anak dari Raja Majapahit dari selirnya yang bernama Siu Ban Ci. Sehingga ketika Sunan Ngampel meminta suatu daerah bernama Bintara untuk dikuasai oleh Jin Bun alias Raden Patah, Raja Majapahit menyetujuinya, padahal Raja Saat itu bukan beragama Islam.

Raden Patah atau Jin Bun pada usia 23 tahun sudah mempunyai ribuan pengikut, dia bercita-cita mendirikan Mesjid Demak yang megah dan mewah, pembangunan Mesjis Demak ini dibantu para Wali, serta dibantu juga oleh orang2 Tionghoa non Islam tukang ahli kayu yg yang dipimpin oleh ahli perkapalan Gan Si Cang, kelak Gan Si Cang juga masuk Islam dan berganti nama menjadi Raden Said atau Sunan Kalijaga.

Setelah kekuatan pengikut Raden Patah menjadi semakin besar karena banyaknya orang2 Jawa yg ikut berpindah ke agama Islam, Raden Patah menyerang daerah Majapahit secara tiba2, Majapahit pun jatuh tanpa perlawanan ke tangan Raden Patah, Raja Majapahit yang juga merupakan Ayah Jin Bun atau Raden Patah ditawan, namun diperlakukan dengan hormat.
Sejak itu timbullah kerajaan Islam pertama di Jawa, yaitu kerajaan Demak dengan Rajanya Raden Patah atau Jin Bun alias orang kuat.
Bagi yang ingin bergabung dengan Persaudaraan Tionghoa Indonesia, Serikat Tolong Menolong Gotong Royong dapat menghubungi Bpk.Amin minhan WA.0878-7757-2025”

Perlu saya tegaskan, klarifikasi ini tidak bermaksud menyinggung SARA, melainkan semata-mata meluruskan meluruskan informasi mengenai sejarah masuknya Islam, berdasarkan sumber-sumber yang valid dan telah diverifikasi.

Berikut ini klarifikasi saya:

  1. Hingga ringkasan ini dibuat, yang merupakan hasil penelusuran kami dari berbagai sumber yang terkait tentang jati diri Raden Fatah dan keluarganya masih sama, beliau adalah seorang sayyid yang berdarah Champa (sekarang Vietnam) dan Jawa, bukan Tionghoa. Sayyid (untuk laki-laki) dan syarifah (untuk perempuan) adalah gelar untuk para keturunan Imam Hasan dan Imam Husein, putra dari Sayyidah Fatimah az Zahra, putri Rasulullah saw. Karena tekanan penguasa, dan puncaknya setelah peristiwa pembantaian Imam Husein di Karbala (Irak), oleh Yazid putra Muawiyyah, kaum Sayyid banyak yang berhijrah ke berbagai negeri, terutama wilayah Nusantara yang pada masa itu masih memiliki tanah yang sangat luas dan sangat sedikit jumlah penduduknya [1]. Kaum sayyid ini kemudian menikah dengan penduduk setempat dan berketurunan, melahirkan generasi-generasi muslim berikutnya di Nusantara.
  2. Raden Fatah adalah putra dari Sayyid Abdullah atau Wan Abu Abdullah atau dalam bahasa Champa lebih dikenal dengan nama Wan Bo Tri Tri bin Ali Nurul Alam bin Jamaluddin Hussein. Kakek buyut Raden Fatah, Jamaluddin Husein adalah pemimpin terakhir Nusantara yang pada masa pemerintahannya wilayah Nusantara sangat luas, kekuasaannya hampir meliputi seluruh wilayah Asia Tenggara, di antaranya adalah wilayah Champa yang sekarang jadi wilayah Vietnam. Dalam naskah-naskah Sunda, Jamaluddin Husein al Akbar disebut dengan gelar Prabu Siliwangi. Dicatat dalam naskah-naskah itu bahwa beliau diberi gelar demikian karena kekuasaannya yang luas dan memimpin dengan adil, serta masyarakatnya makmur. Jamaluddin Hussein memiliki 5 orang istri dan beberapa orang putra, di antaranya seorang putra yg bernama Ali  Nurullah/Ali Nurul Alam; dia memiliki putra bernama Abdullah, dan Abdullah memiliki anak bernama Raden Fatah.
  3. Nasab/silsilah Raden Fatah selengkapnya : Raden Abdul Fatah bin Sulthan Abu Abdullah bin Ali Nurul Alam bin Jamaluddin Hussein bin Ahmad Syah Jalal bin Amir Abdullah Khan bin Amir Abdul Malik [2] bin Alawi bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Kholi Qasam bin Alawi Muhammad bin Muhammad bin Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad Muhajir bin Isa ar Rummi bin Muhammad an Naqib bin Ali Uraidhi bin Imam Ja’far Shadiq bin Imam Muhammad Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Imam Hussein as Syahid bin Imam Ali wa Fatimah az Zahra binti Rasulullah saw.
  4. Tulisan broadcast yang mengatakan bahwa Raden Fatah adalah putra dari Brawijaya V dengan Siu Ban Ci, dst. adalah bersumber dari buku babad Tanah Jawi. Tapi di Babad Tanah Jawi pun hanya sampai pernikahan Bhrawijaya V dengan putri China, Siu Ban Ci dan berputra Raden Fatah. Selebihnya tentang nama China Walisongo diambil dari “Kronik China dari Kelenteng Sam Po Kong” di Semarang yang telah berpuluh kali direnovasi, termasuk penambahan terbaru adalah relief kronik China yang terpahat di Gua Batu yang menjadi dinding makam Juru Mudi ChengHo yang wafat dan dimakamkan di tempat ini, yang kemudian dijadikan Klenteng Sam Po Kong di Semarang.
  5. Berdasarkan penelitian terkini, dengan melihat bentuk asal bangunan, dan tokoh yang dimakamkan, yaitu Juru Mudi Cheng Ho yang Muslim dan didirikan oleh China Muslim yang ikut bersama kapal ChengHo, besar kemungkinan Klenteng Sam Po Kong awalnya adalah bangunan masjid bercorak China, seperti Masjid Xi an dan umumnya masjid-masjid kuno di China. Bangunan ini kemudian terabaikan, dan dibangun lagi menjadi Klenteng pada awal abad ke-19 oleh para pekerja Tionghoa yang bekerja pada pemerintah kolonial Belanda. Relief yang dibuat adalah tambahan baru, yang besar kemungkinan nama-nama yang dimaksud dalam broadcast yang menyebut Raden Fatah keturunan Tionghoa adalah kisah tokoh Juru Mudi yang dimakamkan di gedung batu tersebut.
  6. Babad Tanah Jawi yang menjadi rujukan ini pun BUKAN Babad Tanah Jawi yang asli, tapi merupakan naskah Tinulad/salinan yang ditulis kembali tahun 1890an dan telah mendapat penambahan, pengurangan dan perubahan alur cerita dari naskah aslinya; selain karena harus mengikuti aturan guru lagu (ritme dalam karya sastra) juga karena mengikuti pesanan penguasa kolonial pada saat itu. Adanya perubahan berupa pengurangan dan penambahan mengikuti guru lagu dapat dilihat dalam halaman Pembuka buku Babad Tanah Jawi. Jadi bila kita hendak mengambil sumber dari babad Tanah Jawi, HARUS di-crosschek ulang dengan sumber sejarah yang lain.
  7. Raden Fatah MEMANG putra dari Bhrawijaya V atau Bhrawijaya terakhir, tapi Bhrawijaya yang dimaksud dalam naskah ini adalah GELAR, bukan nama.  Gelar ini berasal dari kata bhra dan wijaya, bermakna gelar bangsawan yang menjabat kedudukan di pemerintahan di wilayah Wijaya. Wijaya adalah nama ibu kota Champa yang terakhir sebelum akhirnya Champa dikuasai oleh bangsa Khmer.
  8. Untuk mengetahui siapa Bhrawijaya terakhir ini harus diselusuri melalui silsilah dari keturunan Raden Fatah, yang banyak tersebar di Jawa Tengah, beberapa di antara mereka, termasuk beberapa rekan kami masih ada yang menyimpan silsilah keluarga, dari silsilah keluarga inilah kami mengetahui nama dari Bhrawijaya V. Selain mengetahui silsilah harus juga menelusuri sejarah Champa, dari mulai berdirinya, penduduknya, kepercayaannya hingga keruntuhannya. Saat ini penelitian sejarawan dalam dan luar negeri tentang Champa sudah tidak sesulit masa lalu, informasi tentang Champa dapat diperoleh, baik melalui buku ataupun tesis-tesis penelitian yang dpt di-download dari internet.
  9. Sayyid Abdullah sebelum menjadi Sultan (pemimpin) Sriwijaya-Champa, menjabat sebagai Bupati di Palembang. Ketika menjabat sebagai bupati, Sayyid Abdullah dikenal juga dengan nama Arya Dillah atau Arya Damar, karena beliau tinggal di daerah pendamaran, Palembang (sumber: Agus Sunyoto, Atlas Walisongo)
  10. Arya Damar/Arya Dillah alias Sayyid Abdullah menikah dengan Syarifah Champa putri Penguasa Wijaya pada saat itu yang bernama Ali Rahmatullah, yang nantinya setelah hijrah ke Jawa, dan berdomisili di Ampel-Surabaya lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ampel. Dari pernikahan ini lahirlah Raden Fatah.
  11. Sayyid Abdullah dan keluarga kemudian pindah ke Ibu kota Champa saat Itu, yaitu Wijaya dan menduduki jabatan Pemimpin yang berkedudukan di Wijaua, menggantikan BhraWijaya sebelumnya yang juga mertuanya, yaitu Ali Rahmatullah alias Sunan Ampel.
  12. Ketika Champa akhirnya kalah, para pembesar yang memang asalnya dari Jawa ini kembali ke Jawa, termasuk mertua Sayyid Abdullah, Ali Rahmatullah, yang kemudian diberi wilayah di daerah Ampel Denta. Dari sini kemudian Ali Rahmatullah lebih dikenal dengan gelarnya Sunan Ampel/Ngampel. .
  13. Sayyid Abdullah dan keluarganya (termasuk istri-istri dan putra putrinya) setelah melapor ke Jawa, yang pada saat itu menjadi ibu kota pemerintahan, ditugaskan kembali ke Palembang. Karena itulah Sayyid Abdullah juga digelari Prabu Mulih alias Prabu yg kembali, kembali ke posisinya dulu sebelum menjadi pemimpin Wijaya.
  14. Sayyid Abdullah kembali ke Palembang bukan hanya dengan keluarganya, tetapi juga membawa ratusan pengungsi dari Champa. Di Palembang ini kemudian mereka berketurunan dan menjadi penduduk asli Palembang yang tetap bertahan dengan tradisi leluhur mereka di Champa. Itulah sebabnya, kita bisa menyaksikan hari ini bahwa tradisi Palembang dan Champa banyak sekali kemiripannya, mulai dari tradisi pernikahan, makanan, hingga pemilihan warna pakaian tradisional.
  15. Tambahan informasi tentang Champa: nama wilayah Champa diambil dari bunga champaka sama seperti negara tetangganya Kambuja atau Kambujadesa. Pada masa lalu wilayah ini pernah menjadi bagian dari Nusantara, namun kemudian satu persatu melepaskan diri, terutama setelah era kolonial. Berdasarkan catatan China, wilayah Champa telah dibuka sejak tahun 182 M oleh seorang pangeran dari Jawa yang menikah dengan putri China.
  16. Ciri-ciri Pangeran Jawa yang disebutkan dalam catatan Cina adalah: berkulit putih, bermata lebar, rambut ikal, berhidung mancung. Dari ciri-ciri ini kami menyimpulkan bahwa yang dikatakan sebagai pangeran Jawa, yang kemungkinan mewakili ciri-ciri penduduk Jawa saat itu (tahun 182 M) adalah dari keturunan Bani Ismail a.s. atau Bani Isra’il. Isra’il adalah gelar untuk Nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim a.s.
  17. Sama seperti Indonesia, wilayah Champa dan sekitarnya telah mengenal Islam sejak zaman Rasulullah saw. Utusan Rasulullah ke Champa adalah sahabat nabi dan juga mertua beliau yang bernama Jash ibn Riyab, ayah dari Zainab binti Jahsy (sumber: TW Arnold, Preaching of Islam). Jahsh bin Riyab telah menjadi utusan Rasul untuk mengenalkan Islam sejak periode Mekkah, sebelum hijrah ke Madinah. Jash bin Riyab ke Champa melalui jalur laut dari Abbysinia (Ethiopia).
  18. Sisa orang-orang Champa yang ada sekarang membentuk kampung Cham, tersebar di wilayah Vietnam, Kamboja, Thailand, dan menamakan diri mereka “Urang Cham” dan hingga saat ini pun mereka masih mengetahui bahwa leluhur mereka adalah orang Jawa yang menikah dengan putri China. Jawa pada masa lalu adalah sebutan bagi seluruh wilayah Nusantara yang dikenal denga nama Hindia atau dalam bahasa Arabnya disebut al Hind.
  19. Agama mayoritas bangsa Champa adalah Islam yang kental dengan tradisi Ahlulbait (menurut Agus Sunyoto, mayoritas mereka adalah Muslim Syiah).
  20. Selain Islam, ada juga penganut agama leluhur yang disebut Brahmanik yang ritual ibadahnya persis dengan Hindu Bali. Karena itu,  bila dilihat dari tradisinya, ajaran Hindu Bali/Jawa sebenarnya agama Brahmanik tadi, berbeda jauh dengan Hindu India. Kecuali tentu saja, penganut agama Hindu yang memang dibawa oleh para pendatang yang beragama Hindu dari India.
  21. Karena Bangsa Champa adalah campuran antara Bani Israil atau Bani Ismail, dan China, bangsa Cham memiliki ciri perpaduan 3 bangsa ini; berhidung mancung, mata sipit atau sebaliknya, warna kulit umumnya putih atau kecoklatan, postur tubuhnya rata-rata tinggi besar atau tinggi, atau sebaliknya hidung tidak mancung dengan mata lebar, bulat, dan alis tebal. Di Indonesia banyak kita temukan orang-orang dengan ciri-ciri ini. Karena sejarah Champa dan penyebaran penduduknya belum banyak diketahui publik, mereka seringkali disamakan saja dengan keturunan China (Tionghoa).

Kesimpulan

Menyimpulkan asal-usul seorang, apalagi sosok seorang tokoh yang disegani, tak bisa asal klaim. Kita harus melakukan penelusuran yang panjang. Dari uraian saya di atas terlihat bahwa Raden Fatah dan para Walisongo memiliki perpaduan ras, suku, bangsa dan budaya yang sempurna. Kita tidak bisa mengklaim begitu saja bahwa mereka berasal/milik ras atau suku tertentu hanya karena penyebutan nama. Sejarah memang sering kali digunakan untuk pengesahan kekuasaan dan unsur-unsur lain yang bermuatan politis. Maka itulah gunanya penelusuran sejarah, agar dapat meluruskan kembali sejarah yang telah dibelokkan demi kepentingan individu atau golongan tertentu, tentunya dengan pembuktian-pembuktian yang jelas.

Perjalanan penduduk Indonesia adalah perjalanan yang panjang, berbagai peristiwa sejarah yang melibatkan perjalanan berbagai macam ras dan budaya dari berbagai bangsa dan kalangan yang telah berasimilasi menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang unik dan istimewa, perpaduan dari multi-kultural dan multi-etnis. Sikap-sikap rasis, sukuisme, merasa golongannya paling hebat atau paling benar adalah warisan kolonial yang wajib dibuang jauh-jauh. Selain itu, kita perlu semakin aktif mempelajari sejarah agar bisa memahami betapa luar biasanya bangsa kita ini.

*Sofia Abdullah adalah peneliti sejarah independen, tinggal di Bandung. Tulisan-tulisannya yang lain dapat dibaca di rubrik sejarah LiputanIslam.com

[1] Berdasarkan sensus penduduk 1800an yang dibuat pemerintah kolonial Belanda, penduduk seluruh pulau Jawa saat itu hanya berjumlah sekitar 50 juta jiwa, sebagian besar wilayah masih berupa hutan. Karena sedikitnya penduduk ini, pemerintah Kolonial kemudian banyak membeli budak dari negara-negara jajahan Eropa yang lain untuk dipekerjakan sebagai buruh perkebunan. Di daerah daerah pesisir utara, pekerja-pekerja dan budak-budak dari Tionghoa juga banyak didatangkan untuk mengurus administrasi perdagangan Belanda bagi mereka yang berpendidikan dan sebagai buruh perkebunan dan perdagangan bagi yang tidak berpendidikan.

[2] Amir Abdul Malik karena perdagangan dan masalah politik, hijrah dari Hadramaut (Yaman) ke Gujarat-India, beliau diberi gelar al Muhajir ilallah (Yang berhijrah karena Allah SWT) seperti kakek beliau Ahmad bin Isa yang hijrah dari Irak ke Yaman. Dari hasil penelusuran kami melalui silsilah yang ada, sebelum hijrah ke Gujarat-India, Abdul Malik menikah dengan syarifah dari kota Tarim keturunan Jawa, yang bernama Sarah binti Abdurahman bin Sayyid Hasan. Sayyid Hasan adalah bupati Leran yang menikah dengan Fatimah binti Maimun (wafat 1082, makamnya di Leran, Jawa Timur).

Referensi:

  1. T.W Arnold; The Preaching of Islam
    2. Al Habib Alwi bin Thahir al Hadad; Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh
    3. Prof. DR. H. Aboe Bakar Atjeh; Aliran Syi’ah di Nusantara
    4. Pustaka Rajya-Rajya I Bhumi Nusantara 2.4
    5. Silsilah keturunan Raden Fatah
    6. Silsilah keturunan kesultanan Malaysia dan Brunei
    7. Babad Tanah Jawi
    8. Prof.DR.DRS I Ketut Rana, S.U; NagaraKrtagama, transliterasi&terjemah
    9. Undang-Undang Kedah, naskah kuno ttg hukum2 dipelabuhan Kedah yang dibuat oleh Sultan Ali yang menguasai Kedah dan berkedudukan di Aceh pada tahun 818 M.
    10. Prof. Kong Yuanzhi; Cheng Ho
    11. Idrus Alwi al Masyhur; Sejarah, Silsilah&Gelar Keturunan Nabi Muhammad saw di Indonesia, Singapura, Timur Tengah, India dan Afrika
    12. H.M.H. Al Hamid Al Hussaini; Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad saw
    13. Ja’far Subhani; Sejarah Rasulullah saw
    14. Yasin T al Jibouri; Allah SWT, Konsep Tuhan Dalam Islam
    15. Erlangga Ibrahim; Champa, Kerajaan Kuno di Vietnam
    16. L.W.C Van den Berg; Orang Arab di Nusantara
    17. Susan Blackburn; Jakarta Sejarah 400 tahun
    18. Adolf Heuken; Historical Sites of Jakarta

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL