sumpah palsuDan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah”. (Q.S. al-Qalam : 10-11)

Ayat ini menyebutkan tiga sifat tercela yang sangat berbahaya :

Pertama, Bersumpah dan berjanji palsu. Sumpah dan janji biasanya digunakan untuk membujuk dan meyakinkan orang lain agar mempercayai ucapannya. Karena itu, banyak orang menyebar sumpah dan janji-janji palsu hanya sekedar untuk mempengaruhi orang lain dan agar mengikuti dirinya.

Kedua, Menghina dan mencaci. Hinaan dan cacian biasa dilakukan agar orang lain dipandang rendah oleh masyarakat. Hinaan dan cacian juga sering dilakukan karena kecemburuan dan saingan. Hinaan itu terkadang memang benar dimiliki oleh yang dihina, dan ini dalam Islam di sebut ghibah (gosip).

Ketiga, Fitnah yaitu menyebarkan suatu keburukan yang tidak dilakukan oleh orang lain. Fitnah banyak menghasilkan kecurigaan, adu domba, pertengkaran, dan menghancurkan kehidupan masyarakat.

Ketiga sifat ini bukan hanya berbahaya bagi kehidupan individual, tetapi juga kehidupan sosial masyarakat. Ketiga sifat ini, jika menyebar di tengah-tengah masyarakat akan menyebabkan kehidupan umat menjadi tidak stabil, penuh kecurigaan, hingga mengantarkan pada konflik yang membhayakan. Sistem sosial, politik, ekonomi, bahkan keagamaan akan rusak jika muncul aktor-aktor yang menyandang sifat dan karakter tersaebut.

“Suatu hari Rasululah saaw berkumpul dengan para ahabatnya, beliau memanggil Sayidina Ali bin Abi Thalib dan membisikkan sesuatu. Tiba-tiba beliau mengangkat kepala seperti terkejut, dan berkata : “Wahai Ali, keluarlah. Bawalah orang itu seperti membawa kambing ke tukang perah”. Kemudian Sayidina Ali pergi menunaikan perintah Rasul. Tidak lama kemudian, Sayidina Ali datang membawa al-Hakam bin al-Ash ke depan Nabi saaw dengan menjewer telinganya.

Pada zaman jahiliyah, Al-Hakam bin al-Ash bertetangga dengan Nabi saaw dan sering mengganggu Nabi. Setelah Fathu Makkah, ia ikut hijrah ke Madinah dan masuk Islam bersama anaknya Marwan bin Hakam. Akan tetapi kesenangannya mengganggu Nabi saaw tidak berhenti. Jika Nabi saaw berbicara dalam majelis, ia mengejek Nabi dengan meniru-niru gerakan Nabi dari belakang. Pada suatu hari, nami memergokinya saat mengejek cara bicara Nabi saaw, kemudian nabi bersabda : “Fakadzalika faltakun” (Jadilah kamu seperti itu). Sampai akhir hayatnya, tubuhnya selalu bergetar dan bergerak.

Ia juga sering mengintip pembicaraan Nabi, apabila beliau berbicara tentang nama-nama orang musryik dan munafik. Kemudian, Hakam menyebarkannya kepada orang banyak. Kadang-kadang ia mengintip Nai saaw ketika di rumah istri-istrinya. Saat itu Nabi kembali memergokinya mengintip pembicaraan Nabi, dan Nabi pun mealaknatnya : “Sesungguhnya orang ini akan mengkhianati kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Dan dari sulbinya akan lahir fitnah yang kabutnya sampai ke langit”. (Kanz Ummal 6: 39; Ushud al-Ghabah 2: 34). Tentang Hakam ini Allah kemudian menurunkan ayatnya, “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah”. (Q.S. al-Qalam : 10-11) (Tafsir dur al-Mantsur 8 : 246)

Kemudian atas perintah Nabi, al-Hakam dan anaknya Marwan di usir ke Thaif. Pada zaman Utsman bin Affan, mereka kembali lagi ke Madinah dan Marwan bin Hakam menjabat sebagai sekretaris negara. Marwan kemudian menyebarkan isu-isu yang mengadu domba kaum muslimin sehingga terjadi kerusuhan massal yang menyebabkan Utsman bin Affan terbunuh.

Kemudian setelah Bani Umayyah berkuasa, Marwan bin Hakam semakin banyak menyebarkan fitnah dan sangat ingin berkuasa. Akhrinya, setelah terbunuhnya Yazid bin Muawiyah dan kedudukan kekhalifahan dijabat oleh anak Yazid yang bernama Muawiyah. Namun, Marwan kembali melancarkan fitnahnya dan merong-rong pemerintahan Muawiyah dan Yazid, hingga akhirnya Muawiyah tersingkir dari kekuasaan, dan Marwan menjadi Khalifah.

Ketika ia menjadi khalifah, ia mempunyai anak yang bernama Abdul malik bin Marwan yang juga menjadi khalifah setelah Marwan. Sebelum menjadi khalifah, Abdul Malik sering berada di mesjid. Waktunya dihabiskan dalam berdoa dan membaca al-Quran. Begitu seringnya ia di mesjid sehingga orang menggelarnya sebagai ‘hamamatul masjid’ (merpati mesjid). Ketika Marwan meninggal, kekuasan di berikan kepada Abdul Malik yang saat itu berada di mesjid. Lalu ia mengabil al-Quran dan berkata, “Salam padamu, inilah hari perpisahan antara aku dengan engkau, hai al-Quran.”

Setelah berkuasa, Abdul Malik mengangkat al-Hajjaj menjadi gubernurnya. al-Hajjaj adalah algojo yang membunuhi ribuan kaum muslimin, yang dikatakan Umar bin Abdul Aziz sebagai penjahat yang tak terkalahkan sepanjang masa. Maka benarlah ramalan nabi dan peringatan Tuhan, “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah”. (Q.S. al-Qalam : 10-11)

Orang yang bersumpah dan berjanji palsu; suka mencaci dan menghina, serta hobi melakukan fitnah digolongkan oleh Allah sebagai pengkhianat dan termasuk kelompok orang-orang munafik. Orang yang memiliki ketiga sikap ini, ditegaskan Allah dalam ayat di atas untuk tidak didengar dan jangan pernah diikuti. Kisah dan ayat al-Quran di atas memberikan pelajaran kepada kita bahwa sumpah dan janji palsu, hinaan dan cacian, serta fitnah sangat berbahaya bagi kehidupan pribadi dan masyarakat. Dan lebih berbahaya lagi jika sumpah palsu, caci maki, dan fitnah itu disebarkan oleh orang-orang yang dianggap sebagai tokoh-tokoh masyarakat, pemimpin atau ulama. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL