zikir 3Qadhi Iyadh al-Maliki dalam kitab Fahrasat Syuyukh al-Qadhi ‘Iyadh atau yang dikenal dengan sebutan al-Ghunyah meriwayatkan dari salah seorang gurunya, bahwa guru Qadhi Iyadh ini berkata : “Aku mendengar Abu Ishaq al-Habbal berkata: Aku mendengar Abu al-Hasan ibn al-Murtafiq ash-Shufi berkata: Aku mendengar Abu ‘Amr ibn ‘Alwan berkata ketika aku melihat tasbih di tangannya dan aku berkata kepadanya: “Wahai Guruku, dengan keagungan isyaratmu dan ketinggian i’tibarmu, mengapa engkau masih menggunakan tasbih?”. Beliau berkata kepadaku: “Ketika aku melihat al-Junaid ibn Muhammad (al-Baghdadi) dan di tangannya ada tasbih, lalu aku bertanya kepadanya seperti engkau bertanya kepadaku, maka Junaid berkata kepadaku: Hal ini karena aku melihat guruku Bisyr ibn al-Harits dan di tangannya ada tasbih, maka aku bertanya kepadanya seperti engkau bertanya kepadaku, maka Bisyr berkata kepadaku: Hal ini karena aku melihat ‘Amir ibn Syu’aib dan di tangannya ada tasbih, maka aku bertanya kepadanya seperti engkau bertanya kepadaku, maka ‘Amir berkata kepadaku: Hal ini karena aku melihat guruku; al-Hasan ibn Abu al-Hasan al-Bashri dan di tangannya ada tasbih, maka aku bertanya kepadanya seperti engkau bertanya kepadaku, maka al-Hasan berkata kepadaku:

يَا بُنَيَّ، هذَا شَىْءٌ كُنَّا اسْتَعْمَلْنَاهُ فِيْ الْبِدَايَاتِ مَا كُنَّا بِالَّذِيْ نَتْرُكُهُ فِيْ النِّهَايَاتِ، أُحِبُّ أَنْ أَذْكُرَ اللهَ تَعَالَى بِقَلْبِيْ وَيَدِيْ وَلِسَانِيْ

 “Wahai anakku, tasbih ini adalah alat yang kita gunakan saat memulai mujahadah kita, dan tidak meninggalkannya saat telah sampai pada tujuan. Aku ingin berzikir kepada Allah dengan hatiku, tanganku dan dengan lidahku.” (al-Ghunyah, h. 180-181).

Selain dengan menggunakan hitungan-hitungan tangan, salah satu kebiasaan para ahli zikir adalah menggunakan untaian tasbih untuk digunakan sebagai alat berzikir. Butir-butir tasbih itu terbuat dari berbagai bahan seperti tanah, kayu, dan lainnya. Untaian tasbih diikat dan memiliki jumlah tertentu ini disebut dengan subhah, karena digunakan sebagai alat untuk bertasbih. Imam an-Nawawi dalam Tahdzib al-Asma’ Wa al-Lughat, menjelaskan bahwa subhah adalah sesuatu yang dirangkai yang biasa digunakan untuk berzikir oleh ahl al-khair (orang-orang saleh). Subhah berasal dari kata tasbih.” (Tahdzib al-Asma’ Wa al-Lughat Jilid III , h. 143-144).

Jumhur ulama membolehkan berzikir dengan menggunakan untaian tasbih tersebut sebagaimana dinyatakan as-Suyuthi dalam al-Minhah Fi as-Subhah bahwa, “Untaian tasbih telah umum digunakan oleh para panutan, tokoh-tokoh, dan ulama-ulama sumber ilmu serta sandaran ummat, sebagaimana halnya sahabat Nabi saaw Abu Hurairah. Beliau memiliki seutas benang yang memiliki dua ribu bundelan. Tidaklah ia pergi tidur hingga ia berdzikir sebanyak dua belas ribu kali dengan untaian benang tersebut, sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Ikrimah… as-Syuyuthijuga menegaskan, “Tidak ada seorangpun, dari ulama terdahulu dan ulama belakangan yang melarang berzikir dengan tasbih. Kebanyakan ulama justru berzikir dengan menggunakan tasbih, dan mereka tidak memandang hal tersebut sebagai makruh”.

Dengan demikian, penggunaan tasbih merupakan perbuatan ulama sejak masa dahulu sampai sekarang dan menganggapnya sebagai hal yang dibolehkan.Namun sayang, masih ada saja sebagian kelompok yang memandang perbuatan ini sebagai bid’ah dan kesesatan dan melontarkan berbagai kecaman terhadap para ahli zikir seolah-olah merekalah yang paling tahu urusan agama ini. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL