raja2Saat kita berdoa dan memohon ampun kepada Allah, apakah di dalam hati kita ada terbersit sebuah keinginan agar doa-doa kita dikabulkan dan dosa-dosa diampuni? Jika, kita merasakan hal itu, berarti kita sedang berharap kepada Allah swt. Kondisi yang penuh harapan inilah yang disebut dengan raja’.

Raja’ sebagai harapan terjadi pada saat seseorang merasa bahwa di masa depan ia memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menjadi lebih baik dari saat ini. Jika, perkiraannya menunjukkan bahwa kemungkinan memperoleh tujuan itu terbuka lebar, maka di dalam hatinya akan muncul suatu perasaan senang dan gembira yang bercampur dengan keinginan untuk mencapai kesuksesan. Harapan (raja’) sangat bermanfaat bagi manusia untuk memotivasinya agar berusaha lebih keras untuk mencapai tujuannya menuju kebahagiaan dan kesempurnaan yang lebih tinggi, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan ramat Allah.” (Q.S. al-Baqarah : 218)

Harapan merupakan sumber optimisme terhadap ampunan dan maaf dari Sang Pencipta Yang Maha Agung dan Maha Mulia, dan juga menjadi sumber dari keyakinan adanya belas kasih Allah swt. Salah satu wasiat Lukman kepada anaknya adalah agar senantiasa takut kepada Allah, hingga bila engkau merasa jika engkau datang kepadanya dengan kebaikan manusia dan jin, Dia akan tetap menghukummu; dan berharaplah kepada Allah dengan harapan sedemikian rupa, sehingga engkau merasa jika engkau datang kepada-Nya dengan dosa-dosa manusia dan jin, Dia akan tetap mengasihimu.

Dengan demikian, harapan memberikan kepada kita suatu ketenangan diri untuk senantiasa mendapatkan kebaikan di tengah ketakutan yang melanda diri kita. Sebab, orang yang tidak memiliki harapan akan menjadi berputus asa dan merasa kehilangan. Karena itu, Allah menegaskan kepada kaum mukmin untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah swt. Bahkan, Allah mengancam orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah swt akan dikategorikan sebagai kelompok orang kafir, “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang yang kafir.” (Q.S. Yusuf/12 : 87)

Karena itu, berharaplah ampunan Allah meskipun engkau merasa bahwa dosamu setinggi langit sedalam lautan. Dalam Kanz al-Ummal diriwayatkan bahwa Al-Alla’ bin Zaid menceritakan, “Aku berkunjung ke kediaman Malik bin Dinar dan di sana ada Syahr bin Hausyab. Ketika keluar, aku mengataka kepada Syahr bin Hausyab, “Semoga Allah swt merahmatimu. Berilah aku sesuatu, agar Allah memberimu sesuatu.” Ia menjawab, “Bibiku Ummu Darda menyampaikan kepadaku, bahwa Abu Darda menyampaikan kepadanya hadis dari Nabi saw yang menceritaka bahwa Jibril as menyampaikan kepada Nabi saw, “Tuhanmu berfirman, ‘Wahai hamba-Ku, jika engkau menyembah-Ku, berharaplah perjumpaan dengan-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku, maka Aku akan megampuni seluruh dosamu sekalipun engkau datang membawa dosa seluas bumi. Aku akan tetap mengampunimu, dan tidak perduli (dengan banyaknya dosamu).”

Namun, perlu juga diketahui, bahwa harapan bukan hanya sekedar keyakinan hati tanpa perbuatan. Raja’ bukanlah angan-angan kosong. Para ulama membedakan antara raja’ (harapan) dan tamanni (berangan-angan)dari sisi nilai dan efeknya. Tamanni dapat mengakibatkan orang menjadi malas dan tidak mau berusaha degan sungguh-sungguh, sedangkan raja’ adalah harapan yang disertai usaha dengan sungguh-sungguh. Kalau anda mengharapkan dapat pekerjaan dan rezeki yang baik tapi hanya tidur-tiduran saja di rumah, maka anda terkena tamanni. Tapi jika anda bekerja sesuai dengan kemampuan dan peluang yang ada, maka berharap menjadi kaya adalah raja’. Begitu pula anda berharap masuk surga, tetapi tetap melakukan dosa terus menerus dengan mengharap kasih sayang Tuhan, maka anda terkena virus tamanni.

Dahulu ada budak yang memiliki seorang majikan yang baik dan beriman kepada Allah, akan tetapi majikannya itu orang yang lalai. Ketika malam hari, budak tersebut membangunkan majikannya untuk mengajak salat malam. Majikannya menjawab, “Saya masih ngantuk, biarkan saya tidur sesaat lagi, nanti saya akan bangun, karena sesungguhnya Allah Maha Penyayang.” Ketika masuk subuh, budak tersebut membangunkan majikannya kembali, tetapi dijawab, “biarkanlah saya tidur sebentar lagi, nanti saya bangun, karena sesungguhnya Allah Maha penyayang.” Waktu terus berjalan, dan sang budak kembali membangunkan majikannya, tetapi mendapat jawaban yang sama seperti sebelumnya, “sesungguhnya Allah Maha Penyayang”.

Setelah matahari meninggi, majikannya pun bangun. Ia memberi biji gandum kepada budaknya untuk ditabur di ladangnya. Budak itupun pergi ke ladang, tetapi tidak menabur biji gandum, melainkan biji kacang. Lalu ia pulang dan menyampaikan apa yang telah dilakukannya. Mendengar hal itu, majikannya pun marah. Budak tersebut mnejawab, “Sesungguhnya Allah Maha Penyayang! Saya melihat bahwa harga gandum sangat mahal sementara kacang lebih murah. Maka saya menanam kacang dengan harapan nanti akan tumbuh gandum.”

“Darimana kamu belajar hal itu”, tanya majikannya. Budak itu menjawab, “saya belajar dari Tuan!.” “Kok bisa begitu?”, tanya Tuannya heran. “Karena tuan tidur dan tidak bangun untuk salat, tetapi mengharapkan masuk surga dengan alasan Allah Maha Penyayang” Jawab budaknya.

Jadi, harapan yang benar di sisi Allah swt, adalah harapan yang diiringi dengan usaha untuk mencapainya. Imam Ja’far Shadiq berkata, “Ada satu kelompok manusia yang melakukan dosa, lalu berkata, ‘Kami penuh harapan akan rahmat Tuhan’, merekapun memegang keyakinan ini sampai kematian mereka dan mereka tidak bertobat.” Lalu dikatakan, “Mereka adalah para pendusta; mereka tidak berpengharapan kepada Tuhan dan mereka tidak takut kepada hukum-Nya; sebab jika seseorang mengharapkan sesuatu, dia mencarinya, dan jika orang takut sesuatu, dia lari menjauhinya.” (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL