hematManusia yang mampu mengekang syahwat dan keinginannya maka ia memperoleh kenyamanan dan kebahagiaan. Biasanya ia akan bersikap hemat dalam kehidupannya atau seimbang dalam mengurus hartanya. Keseimbangan dalam cinta harta disebut qana’ah. Imam Shadiq berkata, “Aku menjamin bahwa orang yang hemat tidak akan menjadi miskin.”

Tidak ada hubungan antara kikir dan hemat. Namun banyak orang yang kikir tidak mengeluarkan hartanya dengan dalih bersikap hemat yag dianjurkan oleh akal. Ini hanya alasan yang dibuat-buat orang yang berdosa yang sebenarnya dicekam oleh perasaannya sendiri. Bersikap hemat berarti mengatur pendapatan sesuai dengan ketentuan akal sehat. Yakni, memberi jika memang keadaan megharuskan memberi dan menahan harta (tidak memberi) jika memang keadaan menuntut demikian tanpa berlebihan dan kekikiran. Sedangkan kikir berarti menahan harta pada saat harus memberi. Lalu, adakah kesamaan antara dua karakter ini?

Tindakan hemat merupakan keseimbangan yang tepat, dan lawannya ialah pemborosan dan kikir. Sedangkan kedermawanan dan mendahulukan orang lain (itsar) tidak bertentangan dengan sikap hemat jika memang keadaan menuntut demikian. Orang yang hemat adalah orang yang dermawan, karena ia menjalankan tuntutan syariat dan tuntutan kemuliaan diri serta tradisi. Dan orang kikir ialah orang yang menghalangi salah satu dari tuntutan tersebut.

Qanaah merupakan sifat yang hampir mendekati ekonomis (hemat) dalam pengaruhnya, juga dalam maknanya. Perbedaan antara keduanya seperti perbedaan antara khuluq (akhlak atau karakter) da suluk (perilaku). Qanaah adalah malakah (karakter yang melekat) yang ada dalam diri manusia yang menjadikannya puas dengan hal yang sedikit dan merasa cukup dengan apa yang memenuhi kebutuhan. Sedangkan hemat ialah pengaturan terhadap pendapatan atas dasar keperluan dan kebijaksanaan. Pengaruh dari dua karakter tersebut adalah ketenangan jiwa dengan apa yang diperolehnya. Jadi, sikap hemat memerlukan qana’ah dalam keberadaannya, sedangkan qana’ah membutuhkan sikap hemat dalam praktiknya.

Manusia diciptakan dan diciptakan pula bersamanya kebutuhan dan berbagai sarana yang akan menopang kebutuhan tersebut. Manusia membutuhkan pangan karena ia ingin hidup. Ia pun butuh pakaian karena ingin bermasyarakat; ia butuh tempat tinggal karena ingin menyendiri (bebas). Jelasnya, manusia memerlukan hal-hal primer sebagai sarana kehidupan. Ia memerlukan harta untuk mencapai segala tujuan itu, dan membutuhkan pekerjaan untuk memperoleh uang. Dan bagaimana mungkin ia akan bisa bekerja kalau tidak bermasyarakat.

Mata rantai kebutuhan-kebutuhan ini satu dengan lainnya saling terkait. Harta benda termasuk dari bagian mata rantai ini yang berhubungan. Dan tidak ada seorangpun yang mengingkari peran pentingnya dalam kehidupan. Hanya saja, masalah yang ditentang oleh akal adalah saat harta dijadikan tujuan pertama dan terakhir yang dapat meghancurkan segala tujuan, bahkan demi mendapatkan harta tersebut dihalalkan segala cara dengan tidak memperdulikan hukum-hukum syariat dan undang-undang. Ini adalah sumber kejahatan dan merupakan virus penyakit. Inilah yang disebut sikap berlebihan terhadap harta, dimana kita mendapatkan banyak kecaman berkenaan denganya.

Sehubungan dengan bahaya harta dikatakan bahwa jika setan letih menggoda manusia, maka dia akan memperdaya manusia dengan menggunakan harta kekayaan. Karena itulah, harta merupakan perangkap dan jebakan setan yang paling berbahaya. Harta adalah pintu syahwat dan kunci segala ketamakan. Manusia tergadai oleh ketamakannya dan budak syahwatnya. Demikianlah harta akan memperbudak manusia yang merdeka.

Syariat Islam mempunyai pandangan yang tepat berkenaan dengan cara menyikapi harta. Harta menurut Islam adalah sarana yang dengannya manusia dapat memenuhi kebutuhannya, bukan menjadi tujuan dalam kehidupan manusia. Karenanya memperoleh harta dengan cara mencuri dan berkhianat atau berbuat aniaya dalam muamalah serta merampas hak orang lain benar-benar dikecam dalam syariat Islam dan akal serta akhlak. Begitu pula dengan riba dan rentenir adalah hal yang terlarang. Riba saat ini adalah penipuan yag dilegalkan oleh undang-undang sipil, sedagkan rentenir adalah pencuri yang dihormati oleh undang-undang. Karea itu setiap muslim, harus dengan sepenuh keyakinan untuk menolak praktek riba dan rentenir ini dalam kehidupannya sehari-hari dan jangan coba-coba menerapkannya. Untuk itu sering-seringlah membaca doa qanaah berikut ini :

doa qanaah (1)

*Sumber : Buku Membangun Surga di Hati dengan Kemuliaan Akhlak karya M. Amin Zainuddin. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL