hatiKata qalb (hati) dalam berbagai betuknya di dalam Alquran disebut lebih dari seratus kali dalam bebagai arti yang dapat disimpulkan dalam dua fungsi utama.

Pertama, fugsi persepsi, pengetahuan intuitif, dan ilmu pengetahuan. Misalnya, “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi supaya mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami hakikat atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar (seruan kebenaran)? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati (qalb) yang ada di dalam dada (Q.S. al-Hajj : 46) “Apakah mereka tidak merenungkan Alquran ataukah hati mereka telah terkunci(Q.S. Muhammad: 24).

Ibnu Manzhur dalam Lisan al-Arab, saat menerangkan kata qalb mengtakan bahwa kata qalb adakalanya dimaknai akal, seperti dalam Alquran, “sesugguhnya dalam hal itu terdapat pelajaran bagi orang yang memiliki qalb.” Kata qalbdalam ayat ini berarti akal. Diriwayatka juga oleh al-Farra bahwa terdapatsekelompok orag berkata, “Di mana qalbmu?” maksudnya adalah, “Di mana akalmu?”.

Kedua, fungsi keimanan dan yang terkait dengannya, yaitu emosi, kesenangan spiritual, dan potensi kehendak. Misalnya,  “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat mencintai orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu adalah ayah, anak, saudara, atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka...” (Q.S. al-Mujadalah: 22); “Orang-orang Arab Badui itu berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk’ karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu...” (Q.S. al-Hujurat: 14)

Qalb menurut Islam identik dengan Kehadiran Tuhan dan yang dapat mencapai visi kehadiran ini, melalui mata hati. Dilihat dari sudut ini, hati juga menggambarkan kehadiran ruh dalam kedua aspeknya, yakni pengetahuan maupun wujud, sebab hati adalah organ intuisi (al-kasyf) dan juga tempat identifikasi (wajd) dengan wujud (al-wujud). Menurut sebuah hadits qudsi, “Langit dan bumi tidak dapat menampung-Ku, tetapi hati hamba-Ku yang mukmin mempunyai ruang untuk-Ku.” Dari sudut pandang ini, qalb dapat dipertimbangkan sebagai sinonim dengan ‘ruh’ yang mempunyai aspek Ilahi maupun ciptaan, dan salah satu simbol besar ruh adalah matahari yang merupakan hati alam semesta kita.

Imam Al-Ghazali dalam karyanya Ajaibal-Qulub (Keajaiban-Keajaiban Hati) menjelaskan qalb memiliki dua makna. Pertama, dalam makna jantung yang merupakan salah satu bagian  dari struktur tubuh fisik manusia yang aktivitasnya memompa darah manusia keseluruh tubuh. Kedua, bermakna batin. Kalau kita katakan, “aku lagi sakit hati”, maka tentu, hati di sana bermakna batin. Atau kita katakan, “Aku lagi jatuh hati”. Hati dalam makna batin ini menurut al-Ghazali memiliki sifat latifah rabbanniyah ruhiyah aqliyah (kelembutan, ketuhanan, keruhanian, dan pegetahuan).

Menurut Al-Ghazali, qalb adalah esensi manusia. Hati adalah entitas spiritual tetapi terhubung dengan hati fisik(jantung) dan mengendalikan fungsi-fungsi organisnya, meskipun esensi hubungannya itu bersifat transendental. Hati spiritual adalah substansial dan hati fisik yang bernama serupa hanyalah aksidental. Pengetahuan tentang entitas ini esensial bagi pengetahuan tentang realitas pokok.

Al-Ghazali memilih menggunakan kata qalb untuk diri dalam semua tulisannya. Diri mempunyai kerinduan inheren terhadap suatu ideal yang ia upayakan untuk direalisasikan. Dalam kondisi yang diragakan, diri telah diberi sifat-sifat yang membantunya, pada satu sisi, untuk mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan ragawi dan, pada sisi lain, untuk memenuhi syarat ideal. Diri memenuhi kebutuhan-kebutuhan ragawi melalui daya gerak (muharrikah) dan persepsi (mudrikah). Dalam hal ini al-Ghazali meyebutkan jenis-jenis kekuatan yang terhubung dengan qalb, yaitu :

  1. Kekuatan syahwat (al-quwwah asy-syahwaniyyah) dan kekuatan amarah (al-quwwah al-ghadhabiyyah). Yang pertama mendorong raga untuk berjuang mendapatkan kepuasan kebutuhan-kebutuhan primer, sedangkan yang kedua mendorong untuk menghindari apa yang membahayakan raga.
  2. Kekuatan akal atau persepsi (al-quwwah al-mudrikah) adalah kekuatan pencerapan dan itu termasuk, lima indra luar yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap, dan perasa; serta juga indra batin, seperti pikiran sehat (al-hiss al-musytarak), imajinasi (takhayyuli), perenungan (tafakkur), dan ingatan (hafizhah; tazakkur).

Syahwat, amarah dan akal adalah dasar untuk semua kekuatan diri yang lain. Kekuatan dasar ini memiliki asal-usulnya sendiri dalam sumber-sumber tertentu pada sifat manusia. Syahwat berasal dari sifat kebinatangan (al-bahimiyah), amarah dari kebuasan (as-sab’iyyah), dan akal dari ketuhanan (ar-rabbaniyah). (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL