pakuAda seorang petani yang mempunyai anak laki-laki yang bernama John. Anak ini sangat mudah untuk bersikap tergesa-gesa  dan ceroboh dalam mengerjakan segala sesuatu yang diperintahkan kepadanya. Pada suatu hari, ayahnya berkata kepadanya, “John, kamu begitu ceroboh dan pelupa, karena itu setiap kali kamu melakukan kekeliruan, aku akan menancapkan sebuah paku pada tiang ini untuk mengingatkanmu seberapa sering kamu bersikap nakal. Dan setiap kali kamu melakukan tugasmu dengan benar, aku akan mencabut satu paku dari tiang itu.” Ayahnya melakukannya, dan setiap hari dia menancapkan paku, tetapi jarang sekali mencabut paku.

Pada akhirnya John melihat bahwa tiang itu hampir tertutup oleh paku dan dia mulai merasa malu dengan kesalahannya yang begitu banyak. Dia memutuskan untuk menjadi anak yang baik. Hari berikutnya dia bersikap begitu manis dan rajin sehingga beberapa buah paku dicabut. Begitu seterusnya sampai lama, hingga akhirnya hanya sebuah paku yang tersisa masih menancap di sana. Ayahnya kemudian memanggilnya, dan berkata, “Lihat John, ini adalah paku terakhir dan sekarang aku akan mencabutnya. Apakah kamu tidak senang melihatnya?”

John memandang tiang itu, dan mendadak dia menangis tersedu-sedu. “Ada apa” tanya ayahnya bingung, “Mengapa kamu menangis? Aku pikir kamu akan bersukacita karena semua paku sudah tidak ada lagi.”

“Memang, “ kata John dengan sedu sedan di dadanya, “memang semua paku sudah tidak kelihatan lagi, tetapi bekas-bekasnya masih ada di sana.”

Setelah mengkisahkan cerita di atas dalam bukunya Kompas Moral (2001: 21-22), William J Bennet memberikan nasehat yang indah berikut,

“Begitulah, anak-anak yang baik, dengan kesalahan-kesalahan dan kebiasaan-kebiasaan buruk kalian, kalian mungkin bisa mengatasinya, kalian mungkin bisa menyembuhkannya secara besar-besaran, tetapi bekas-bekas lukanya masih tetap saja kelihatan. Jadi, terimalah nasihatku, dan kapan saja kalian menyadarinya bahwa kalian melakukan sesuatu yang salah, atau melakukan kebiasaan yang buruk, berhentilah segera. Karena setiap kali kalian menyerah dan melakukannya, berarti kalian menancapkan sebuah paku lain, dan hal itu akan meninggalkan bekas luka pada jiwa kalian, bahkan meskipun setelah pakunya dicabut kemudian.”

Dalam Alquran, Salah satu istilah yang dikenal untuk menyebut dosa adalah dzanb, yang secara bahasa  berarti “ekor”  atau “akibat”, karena dosa memiliki akibat atau bekas dalam setiap perbuatannya, baik di dunia maupun di akhirat. Dan tentu saja, dosa itu ada yang hanya bersifat pribadi yang hanya melibatkan diri sendiri dan Tuhan, tetapi juga ada dosa yang melibatkan diri kita, Tuhan dan orang lain. Kalau kita tidak solat, secara pribadi kita berdosa dan ingkar pada perintah Tuhan. Semakin sering tidak solat, semakin membekas di jiwa kita keingkaran pada Tuhan.

Dilain pihak, kalau kita mefitnah atau mezalimi orang lain, maka kita berdosa pada Tuhan dan juga pada orang yang kita zalimi. Dan pegampunan Tuhan tergantung pada kemaafan orang yang kita zalimi. Yang paling sulit adalah meghilangkan bekas kezaliman dari hati kita sendiri dan hati orang yang kita zalimi. Mungkin kita dimaafkan, tetapi kezaliman itu masih membekas di fisik dan di hati orang yang kita sakiti. Begitu pula, penyesalan dan rasa berdosa mungkin masih membekas di hati kita saat melihat orang yang kita zalimi. Seperti kisah paku di atas, inilah bekas yang tertancap kuat di hati kita.

Dalam filsafat ada suatu teori besar yang dikenal dengan teori al-harakah al-jauhariyah (gerakan substansial) yang meyebutkan bahwa seluruh semesta berada dalam keadaan terus menerus bergerak. Gerak adalah perubahan, itu berarti, alam semesta termasuk manusia di dalamnya senantiasa mengalami perubahan, bukan hanya fisikya tetapi juga ruhya, dan perubahan ruh itu yang paling utama untuk diperhatikan. Perubahan itu dipengaruhi oleh ilmu dan perbuatan. Artinya antara orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu, berbeda kondisi ruhya. Begitu pula antar orang yang hidupnya dipenuhi dengan kesucian dengan orang yang hidupnya penuh kemaksiatan. Semakin seseorang berilmu dan bertindak suci, maka ruhnya semakin suci dan dekat dengan ilahi. Sebaliknya, semakin seseorang bertindak jahil dan maksiat, semakin ruhnya kotor dan jauh dari Tuhan. Karenanya  ilmu dan perbuatan akan membekas pada ruh manusia dan mempengaruhi kehidupannya. Semakin membekas, semakin sulit dihapuskan.

Jadi, semakin sering melakukan suatu perbuatan—baik amal soleh maupun amal salah—, maka semakin mensubstansial perbuatan itu pada ruhnya, dan jika telah mensubstansial, maka sulit untuk diubah, karena subtsansi itu adalah hakikat dirinya. Jika seseorang kesuciannya sudah mensubstansial, artinya telah menjadi hakikat dirinya, maka tentu sulit untuk diajak pada kemaksiatan, dan mudah untuk berbuat kebaikan. Sebaliknya, jika seseorang kemaksiatannya sudah mensubstansial dan menjadi hakikat dirinya, maka sulit pula untuk berbuat kebaikan, tetapi akan mudah untuk berbuat dosa dan kejahatan. Sebab dia sudah merasa nikmat dalam berbuat kemaksiatan. Itu berarti dosa dan kemaksiatan telah membekas sempurna pada jiwanya. Berhati-hatilah. (hd/liputaislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL