akhlak 2Akhlak sebagaimana dirumuskan oleh Imam al-Ghazali adalah pembawaan yang melekat (malakah) dalam jiwa yang darinya muncul beragam perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Dalam bahasa Indonesia akhlak selalu dipadankan dengan moral.

Akhlak atau moral ini, dikatakan oleh Mujtaba Lari (Ethic and Spiritual Growth,2005: 11) merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi perkembangan masyarakat, apakah akan menuju kemajuan atau malah tersungkur kepada lembah kehancuran. Untuk itu, sebuah kenyataan penting jika empat belas abad yang lalu, seorang manusia sempurna di utus dengan tujuan inti untuk menyempurnakan akhlak manusia, “sesungguhnya aku di utus untuk meneyempurnakan akhlak manusia”, begitu sabda agung kenabian Muhammad saw.

Begitu pula jika merujuk pada sejarah pemikiran, maka persoalan akhlak telah menjadi salah satu pembahasan serius para pemikir dunia, baik di Timur maupun di Barat, pra Islam maupun pasca Islam. Yunani, yang merupakan salah satu ikon peradaban dunia telah meninggalkan jejak-jejak pemikiran para ilmuannya mengenai akhlak seperti yang dapat kita temui pada ungkapan-ungkapan Socrates, Plato maupun Aristoteles. Socrates dan Plato menuangkan pemikirannya dalam kitab Republic-nya sedangkan Aristoteles secara konfrehensif membahas dalam buku Nichomachian Ethic yang sangat terkenal itu.

Adapun dalam sejarah Islam Klasik kita mengenal sederet filosof besar yang mengukir sejarah seperti al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Miskawaih, al-Ghazali hingga Mulla Sadra dan para  filosof-ulama di abad kotemporer ini. Dengan antusiasme yang tinggi, mereka menelaah perkembangan jiwa mausia, karakter dan perbuatannya baik secara individu maupun sosial. Mereka juga melakukan studi perbandingan antara nalar peradaban Barat dan Islam.

Dengan tekun dan serius mereka geluti persoalan pertumbuhan dan perkembangan akhlak serta spiritual manusia dengan ragam dialektisnya dalam kehidupan sosial, budaya, politik, ataupun pergumulan ekonomi kemasyarakatan. Kesungguhan dan ketekunan para ulama yang luar biasa ini dalam mengembangkan pokok-pokok pikiran mereka demi merekonstruksi konsepsi pendidikan akhlak di dunia Islam. Pendidikan akhlak tersebut merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk menjalani kehidupan pribadi, sosial kemasyarakatan, berbangsa dan bernegara.

Karena itu, sangat penting dirumuskan konsepsi pendidikan akhlak secara konfrehensif. Sebab, meskipun dimensi akidah, dimensi ibadah (syariah), dan dimensi akhlak adalah trikonsepsi struktur ajaran Islam, tetapi akhlak menempati posisi inti sebagai puncak dari pembuktian akidah dan pelaksanaan ibadah. Insan kamil (manusia paripurna) yang merupakan orientasi tertinggi kemanusiaan dicirikan secara khas dengan karakter akhlak al-karimah (akhlak mulia).

Hal di atas mengindikasikan bahwa pembentukan akhlak merupakan dimensi puncak terpenting dari kesempurnaan manusia. Secara umum hal ini dapat kita benarkan. Sebab, lazimnya kita menilai manusia dari akhlaknya hingga ukuran-ukuran fisikal terpental jauh dari penilaian. Misalnya, jika ada orang yang tampan atau cantik, tetapi berperangai buruk, maka secara otomatis kita akan mencibirkannya. Begitu juga dengan orang yang berilmu pengetahuan, cerdas dan pintar, akan tetapi berakhlak rendah, kurang ajar dan tidak tahu sopan santun, maka kita akan cenderung membenci dan menghinanya. Namun sebaliknya, ada orang yang biasa-biasa saja dari fisiknya, tidak terlalu cerdas otaknya, tetapi berkhlak mulia, maka kita akan senang bergaul dan berinteraksi dengannya. Jadi, sederhananya dapat disimpulkan nilai kemanusiaan terletak pada akhlaknya. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL