pernikahanSeorang wanita cerdas dan berparas cantik bernama Ummu Ayyas menikah dengan seorang kepala suku Kandah. Pesta pernikahan berlangsung dengan meriah. Kini giliran keluarga mempelai pria menyiapkan pesta dalam menyambut kedatangan mempelai wanita (mengunduh). Mereka menyembelih unta dan kambing serta menyiapkan berbagai jenis makanan. Amamah, ibu mempelai wanita yang dikenal sebagai orator piawai dan berwawasan luas melepaskan kepergian putrinya dengan memberi nasehat yang berharga berikut ini :

“Putriku! Sekiranya wanita tidak membutuhkan suami, pasti ayah dan ibu mu tidak saling membutuhkan, dan dengan demikian engkau tidak akan lahir ke dunia. Benar, kaum pria diciptakan demi kaum wanita dan  begitu juga sebaliknya. Berpasang-pasangan merupakan hukum penciptaan yang berlaku di alam semesta ini; menolak hukum penciptaan berarti menilak kehidupan dan eksistensi kita. Karena itu, wahai putri ku, jalani dan patuhi hukum ini dengan melakukan pernikahan. Tinggalkan rumah ayah mu ke rumah suami mu.

Benar, engkau meninggalkan rumah tempat kau dibesarkan, dan pergi ke rumah yang masih asing bagi mu untuk hidup bersama orang yang selama ini belum kau kenal. Sekarang demi meraih bahagia dan keberhasilan hidup baru mu, dengarlah nasehat ibumu, agar ketika berada di rumah suami mu, engkau tetap mulia sebagaimana di rumah ayah mu.

Putriku! Jadilah sahabat baik suamimu, agar dia juga rela berkorban dan membantu mu sepenuh hati. Terimalah nasehatku yang merupakan oleh-oleh amat berharga. Oleh-oleh yang tak akan ada habisnya dan memberi manfaat panjang hidupmu serta menjamin bahagia dirimu, suami, dan anak-anak mu :

1. Hiduplah dengan selalu merasa cukup. Hindarilah berbagai keinginan yang membuat suamimu letih, jemu, dan dapat  menghancurkan kebahagiaan rumah tanggamu. Hendaklah engkau merasa cukup dan puas dengan penghasilan suamimu. Belanjakanlah pada tempatnya. Jangan berangan-angan tinggi dan menginginkan sesuatu diluar kemampuan suamimu.

2. Bersikaplah saling mengerti agar kehidupan menjadi indah. Hendaklah salah seorang pasangan memiliki telinga yang peka dan siap mendengar pembicaraan pasangannya, atau bersikap sabar dan tabah menghadapi kekurangan dan sikap buruk pasangannya. Berusahalah memikirkan kepentingan bersama, menyatukan pendapat dan hati. Kalau ada perbedaan selera, apa salahnya engkau merelakan hak dan keinginanmu, lalu menuruti apa yang dikatakan suamimu.

3. Secara alamiah, manusia merasa senang dengan pemandangan yang indah dan bersih, serta membenci pemandangan yang jorok dan kotor. Hidung juga sangat senang mencium wewangian dan aroma yang harum; serta tidak menyukai bau tidak sedap. Karena itu perhatikanlah, jangan sampai suamimu memandang dirimu dan menemukan isi rumah sesuatu yang tidak sedap dipandang

4. Perhatikan kebersihan tubuh dan rumahmu. Aturlah semuanya dengan indah dan rapi. Mungkin engkau tidak punya alat kecantikan, tapi engkau punya air untuk membersihakan tubuhmu. Sebaik-baik kecantikan adalah kecantikan alami karunia Tuhan. Boleh jadi engkau tak punya parfum yang dapat kau gunakan untuk mengharumkan tubuhmu. Tapi engkau dapat menghindarkan diri dari bau tak sedap yang menyengat hidung.

5. Aturlah secara tertib waktu makan dan tidur suami dan anak-anakmu. Jangan sampai dia marah karena menahan lapar. Perlu engkau ketahui, kalau dia sampai marah karena menahan lapar dan tak mampu menahan diri, kau juga akan menanggung kesedihan saat itu, dikarenakan kelalaian kecil, kebahagiaan dan ketenangan rumah tanggamu akan rusak. Kurang tidur juga dapat menimbulkan kejengkelan; kalau tak dapat beristirahat dan tidur dengan tenang di rumah, suamimu akan mencari tempat lain.

6. Jadilah istri yang menjaga dan memelihara harta, rumah, dan perabotannya. Sesuatu yang diperoleh dengan susah payah jangan dilenyapkan begitu saja.

7. Perhatikanlah orang-orang yang ada dalam tanggungan suamimu, sanak keluarga, para pegawai, dan pembantu. Itulah tanda kecerdasan dan kemampuan istri mengurus rumah tangga. Jangan menzalimi mereka.

8. Berusahalah menjaga dan memelihara rahasia suami dan rumah tangga. Janganlah bongkar rahasia yang diamanatkan padamu. Sebab dia akan menganggap itu sebagai penghianatan dan akan menjatuhkan harga dirimu.

9. Berusahalah untuk merasa sehati dengan suamimu. Kalau suamimu mengalami musibah dan bersedih, berusahalah menghiburnya dan jangan menampakkan rasa senang dan gembira. Karena itu berarti tidak memenuhi hak-hak persahabatan. Sebaliknya, jkia dia senang dan gembira, janganlah engkau bermuka masam dan bersedih. Sikap semacam ini menandakan hatimu tidak suci.

10. Hormatilah suamimu agar dia juga menghormatimu. Perlu kau camkan baik-baik; sebatas kerendahan dirimu dihadapan suamimu, sebatas itu pula penghormatan suami pada dirimu. Bila kehidupan rumah tanggamu harmonis dan penuh bahagia, dahulukanlah kesenangan suamimu dari segala kesenanganmu.

Sekarang engkau telah mendengar nasihat ibumu dan siap menempuh hidup bersama. Pergilah, “Semoga Tuhan melindungimu!”.

Ummu Ayyas wanita pengantin baru menitiskan air mata bahagia. Saking malunya, bunga yang digenggam terlepas dari tangannya. Lalu dengan gemetar, dia berkata kepada ibunya, “Ibuku sayang! Aku akan menyimpan nasehatmu dalam hati dan akan berusaha ku amalkan. Aku juga akan berusaha menjauhkan diri dari berbagai keburukan yang ibu isyaratkan, serta berusaha menjadi istri yang baik bagi suami sebagaimana yang ibu harapkan!”.

Kemudian, wanita sangat berbahagia itu bertolak menuju rumah suaminya dengan membawa oleh-oleh yang sangat berharga. Kelak dia memiliki posisi dan kedudukan yang tinggi disisi suaminya. Sampai akhirnya, dia memiliki tujuh putra yang masing-masing mempunyai kekuasaan di berbagai kawasan di Yaman. (hd/liputanislan.com)

*Sumber : Muhammad Ali Karimi, Kisah-kisah Wanita.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL