Oleh : Abu Ikhwan as-Syatari

TasawwufSejarah tasawuf beriringan dengan sejarah Islam sendiri. Walaupun bukan dinamakan dengan tasawuf pada masa awal Islam (masa Rasulullah saw dan Sahabat beliau ra), namun pola hidup kesufian dalam bentuk wara’, zuhud, ikhlash, sabar, jihad dan sebagainya berlangsung pada saat itu dan terus berlanjut hingga saat ini. Tasawuf bukanlah hal yang baru dalam Islam, dan pola kehidupan sufi telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW sendiri.

Karena Rasulullah saw adalah uswah hasanah (teladan yang baik) bagi kita sebagaimana difirmankan Allah : “Laqad kana lakum fii rasulillahi uswatun hasanah“, “sungguh telah ada bagi kalian keteladanan yang baik pada Rasulullah,” maka kehidupan yang sederhana, sabar, cinta kebaikan, penyayang, lembut hati dan sebagainya, tidaklah perlu diperintahkan oleh Rasulullah untuk kita ikuti, tapi dengan kerelaan hatilah kita mengikutinya. Beda halnya dengan hal-hal yang bersifat ibadah formal yang memang diperintahkan seperti yang termaktub dalam rukun Islam. Tasawuf adalah jalan untuk mencapai hal-hal tersebut di atas dan untuk itu perlu latihan-latihan spiritual dengan mengamalkan wirid, zikir dan doa disamping menjalankan ibadah mahdhah dengan baik.

Bagi seorang sufi, beribadah yang sepintas lalu nampaknya berat diamalkan, bagi mereka adalah hal yang mudah dan perlu demi peningkatan kualitas penghambaannya kepada Allah. Tapi untuk menjaganya agar tetap istiqamah dan berkelanjutan, butuh mujahadah(perjuangan).

Seorang sufi tidak ingin menjadi minimalis dalam menerapkan ajaran Islam, dan tidak ingin sekedar menjalankan secara formal belaka. Mereka menginginkan nilai lebih dalam hal kualitas ibadahnya dan juga menginginkan agar ibadah yang dilakukannya tidak sekedar “melakukan” tapi tidak membangun kesadaran, dan nilai lebih itu hanya bisa diperoleh apabila dilaksanakan dgn keikhlasan. Diantara fungsi bertasawuf bagi mereka adalah untuk memperoleh ikhlas dalam makna hakiki.

Kemusyrikan adalah lawan dari ikhlas. Ibadah yang tidak didasari keikhlasan, itulah ibadah yang syirik dalam pandangan kaum sufi. Seorang sufi tidak dapat dihukum musyrik, karena apa yang dilakukannya adalah demi meraih keridhaan-Nya semata. 

Sebagaimana bidang kajian lain dalam ajaran Islam, tasawuf juga merupakan manhaj dalam membersihkan jiwa menurut tuntutan Alquran dan tuntunan sunnah Rasul. Kita tidak menafikan ada segelintir, atau malah sebagian besar kaum sufi yang menyimpang dan mengamalkan ajaran-ajaran yang menyimpang dari Alquran dan Sunnah Rasul, tapi apakah kita akan menolak sufisme sebagai manhaj dalam olah jiwa menurut Alquran dan Sunnah Rasul-Nya.

Kalau kita sama-sama tengok ke masa Islam awal, jangankan tasawuf, ilmu fiqih maupun ilmu kalam pun belum terformulasi kecuali pada akhir-akhir abad pertama hijriyah. Tapi model kehidupan sufisme yang menjadi teladan bagi para sufi telah ada pada sahabat-sahabat beliau, seperti halnya ahli shuffah, dan juga para khulafa arrasyidin. Para sahabat Rasulullah saw digambarkan oleh orang-orang sebagai,“Singa di waktu siang dan rahib di waktu malam”. Mereka giat dalam mencari karunia Allah dengan berusaha, dan mencari peningkatan kualitas ruhani dengan ibadah-ibadah mahdahseperti salat dan puasa.

Jadi hendaknya kita menyadari bahwa sufisme yang sesuai dgn syariat Islam yang mencakup akidah, ibadah dan muamalah serta akhlak Islami, sudah dipastikan bukan sebagai kemungkaran yang harus ditindas dengan tangan (kekuasaan) atau ditebas dengan (ketajaman fitnah) lidah, atau kebencian hati, karena hal itu sama sekali tidak Islami. Kita berpatokan saja kepada ayat Alquran mengenai kemusyrikan, “Dan janganlah kamu termasuk kelompok musyrikin, yaitu mereka yang memecah belah agamanya menjadi beberapa golongan dan masing-masing kelompok merasa bangga dengan kelompoknya” (QS Ar-Rum 32-33).

Perdebatan yang tak kunjung selesai sepanjang sejarah Islam antara lain adalah tentang tasawuf. Sebenarnya jika kita lihat apa yang menjadi motivasi dari bertasawufria ini, bukan supaya ruwet dan jadi bahan perdebatan yang gakberujung berkesimpulan, tapi supaya ada ketenangan jiwa dan kebahagiaan menurut kaca mata Islam.

Kalaupun pernyataan para sufi yang nampaknya ruwet, sebenarnya kejernihan berpikir dan keterbukaan jiwa kita yang masih belum mampu menerimanya. Tapi bagi mereka yang berpikir mendalam dan kedalaman jiwa, pasti tidak akan melihat ada yang salah dengan tasawuf sebagai salah satu bagian integral dari Islam, sebagaimana ilmu kalam dan juga fiqih.

Kalau ada perilaku yang menyimpang dalam sebagian kalangan sufi, itu hal yang wajar saja. Orang yang sedang kemaruk tak bisa disalahkan, atau dituding, tapi dibimbing. Selagi masih hasil galian dari Alquran dan sunnah Rasulullah saw sufisme tetap merupakan bagian integral dari Islam.

Sebagaimana dalam aliran-aliran tasawuf, dalam kalangan mazhab fiqih juga terjadi banyak penyimpangan. Begitu juga dalam ilmu kalam. Bukan saja sesama madzhab, bahkan di dalam internal mazhab terjadi pertentangan sengit dan saling tuduh sesat dan menyesatkan. Terjadinya saling menuduh dan menyesatkan itu tidak lain karena kita tak mampu melihat adanya rahmat dalam perbedaan itu. Dan mereka yang memaksakan pendapat dan pandangan dgn mempolitisir dalil guna memperkuat argumennya menunjukkan kepicikan seseorang.

Saya yakin bahwa sunnah bukan hak ahli hadits. Islam masih punya segudang ahli dalam ilmu-ilmu keagamaan, ada ahli hikmah, ada ahli fiqih, ada ahli tasawuf, ada ahli hadits, ada ahli tafsir, dan lainya, yang masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan.

Jadi, sufisme adalah khazanah atau kekayaan Islam yang harus dipelihara. Lebih berharga sufisme bagi Islam, ketimbang para pengkritiknya. Jika mau ber-Islam, maka pahami ilmu kalam (akidah), jalankan syariat (ilmu fiqih) dan bersihkan jiwa dan kesadaran dengan tasawuf, maka kita akan mereguk kebahagiaan dunia dan akhirat.(hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL