Tasawwuf or SufismeKaum sufi menegakkan cinta berdasarkan cahaya Al-Quran dan ilmu kenabian. Bagi mereka yang mau mendalami, Al-Quran adalah bisikan cinta yang hangat. Ajakan nyata untuk mencurahkan kelezatan hidup pada jalan kebahagiaan, memperoleh ridha Allah dan cinta kepada-Nya. Adakah pendorong cinta yang lebih menakjubkan dari pada ayat suci yang sempurna itu, yang karena sangat menakutkannya, para sahabat menangis ketika turun ayat :“Katakanlah, Jika Bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatir kerugiaannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS. At-Taubah: 24).

Sebuah gambaran yang jelas, menerangkan bahwa sesungguhnya cinta terhadap Allah adalah mahkota tertinggi, yang dicari oleh setiap mukmin. Dan pula menjelaskan bahwa cinta kepada Allah, yang di dalamnya terbungkus cinta terhadap Rasul serta jihad di jalan-Nya, wajib diangkat tinggi-tinggi dalam hati, sampai melumpuhkan cinta duniawi yang paling kokoh sekalipun, yang begitu kuat melekat pada perasaan manusia. Sebab tidak ada yang lebih melekat pada hati manusia melebihi cintanya kepada Bapak, anak, suami, istri, keluarga, harta dan tempat tinggal.

Kemudian ancaman keras dan menakutkan muncul pada ujung ayat, yaitu apabila cinta mereka kepada Allah tidak lebih tinggi dari pada cinta kepada hal-hal tadi. Maka, manusia tinggal menunggu keputusan-Nya (keadilan-Nya) yang hanya sekilas, bagaikan kedipan mata. Dalam sebuah firman-Nya yang ditujukan kepada para sahabat Nabi, yang merupakan penjelasan apabila mereka tidak menyempurnakan syarat-syarat mahabbah dan taat. Disana disebutkan: “Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (QS. Al-Maidah: 54).

Pada ayat diatas terdapat penjelasan bahwa, sesungguhnya orang yang cinta kepada Allah akan berlaku lemah lembut terhadap sesama mukmin, keras terhadap orang kafir, berjihad di dalam menegakkan hukum Allah dan risalah Nabi-Nya, tabah menghadapi celaan orang yang suka mencela dan memukulnya. Namun apabila mereka kelewatan, akan dengan gagah berani menantangnya, walaupun mereka berkekuatan.

Kembali kepada tasawuf Islam. Dalam kondisi mabuk melayang, seorang sufi berbisik, “Aduhai… andaikan mereka tahu rahasia cinta yang tertuang dalam firman Tuhan yang  Pengasih yang artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Maka ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” Kalau saja mereka tahu, mereka tak akan sengsara selamanya.”

Di kala Rasulullah berbisik kepada Tuhannya, beliau memohon cinta. Memohon agar menjadi kesayangan-Nya di dalam mengerjakan amal shalih. Beliau berdoa: “Wahai Tuhan kami, jadikanlah cintaku kepada-Mu sebagai sesuatu yang paling aku suka, dan takutku kepada-Mu sebagai rasa yang paling dalam. Putuskanlah segala ketergantungan duni dariku, menggantinya dengan perasaan rindu berjumpa dengan-Mu. Jika Engkau memberikan kepada ahli dunia kesejukan harta mereka. Maka jadikanlah kesejukan bagiku di dalam ibadahku.”

Bahkan Rasulullah saw pernah mendeskripsikan bahwa, manusia tidak merasakan manisnya iman dan lezatnya keyakinan, serta indahnya taat, apabila tidak bisa merasakan hangatnya cinta dan cahaya-Nya. Maka beliaupun bersabda: “Tiga perkara apabila eksis pada diri seseorang, dia akan merasakan lezatnya iman, yaitu: Hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih disukai daripada yang lainnya. Hendaknya mencintai seseorang hanya karena Allah. Dan benci kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya. Sebagaimana tidak sukanya dia apabila dilemparkan ke dalam neraka.”

Kemudian Rasulullah saw mendaki ke peringkat atasnya, yaitu cinta Ilahi yang berpengaruh pada cinta dari dan untuk Allah. Cinta yang demikian mengangkat pemiliknya kepada derajat yang luhur, yang kelak di hari ketakutan yang luar biasa, berpasang-pasang mata melihatnya. Beliau bersabda: “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat manusia-manusia yang bukan Nabi juga bukan para syuhada, tapi para Nabi dan syuhada sendiri menginginkan keadaan seperti mereka.” Seorang lelaki bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka? Dan apakah amalan mereka? Agar kita dapat menyintai mereka.” Rasulullah menjawab, “Yaitu kaum yang saling menyintai dengan ruh Allah Azza wa Jalla. Di antara mereka tidak ada hubungan keluarga, dan tidak pula saling memberi harta. Demi Allah! Wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka diatas panggung cahaya. Mereka tidak takut di saat manusia lainnya merasa takut, dan tidak merasa resah di waktu manusia lainnya resah.” (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL