cinta_allahKenalkah anda Mustafa Chamran? Seorang Doktor teknik elektro dari Universitas Tehran dan mendapat beasiswa belajar di Universitas Barkeley, Amerika Serikat. Meskipun dengan gelar bergengsi dan seorang ahli, Chamran menghabiskan umurnya di medan juang Libanon melawan kebiadaban Israel, dan Syahid di medan tempur Iran pada 1981, dalam peristiwa perang Irak-Iran.

Sebagai pejuang, hidupnya tak menentu. Jangankan harta melimpah, untuk makan pun susah. Jangankan pekerjaan, tidur pun beralaskan koran dan berselimut awan. Jangankan membanggakan keluarga, bahkan nasabnya pun tak jelas adanya. Tapi, betapa beraninya, ia jatuh cinta pada anak wanita Libanon yang hidup kaya bernama Ghadeh Jabir.

Berbeda dengan Chamran yang hidup tak tentu arah, sebagai anak dari pengusaha berlian, Ghadeh hidup mewah. Bahkan sejak kecil ia biasa traveling ke Eropa dan Afrika dan meniti karir sebagai jurnalis sukses. Namun mereka dipertemukan dalam suatu kesamaan, yaitu sama-sama suka puisi dan sama-sama membenci Zionis Israel. Ini yang mempertemukan mereka. Tetapi untuk menikah, terlalu lebar jurang pemisah.

Dari usia, Chamran 20 tahun lebih tua dari Ghadeh. Rambutnya sudah botak setengahnya, tempat tinggal tak punya, alamat pun tiada. Di Libanon dia menumpang di yayasan yang menampung anak-anak yatim. Hartanya hanya buku dan kardus bekas yang digunakan sebagai alas tidurnya. Aktivitas sehari-hari Chamran dekat dengan kematian. Setiap saat maut siap menjemput, karena ia aktif mendidik para pemuda Libanon untuk melawan Israel.

Saat tahu anaknya jatuh cinta dan nekat menikah, Ibunda Ghadeh hanya bisa meradang. Dia mengeluarkan sumpah serapah setiap kali melihat calon menantunya. Dia berkali-kali pingsan dan terakhir harus diinfus di sebuah rumah sakit di Beirut. Tetapi Chamran, yang tak layak dianggap calon menantu, justru punya sentuhan emas.

Saat sang Ibunda Ghadeh jatuh sakit, Chamran menggendongnya hingga ke rumah sakit dan menjaganya sepenuh hati. Ibunda Ghadeh luluh, dan merestui pernikahan mereka. Ibunda Ghadeh mengingatkan Chamran tentang kebiasaan anaknya, “Tiap pagi setelah bangun tidur, dia langsung ke kamar mandi. Mencuci wajah dan menggosok gigi. Harus ada orang yang merapikan tempat tidurnya, menyiapkan segelas susu dan secangkir kopi di kamarnya. Apakah kau sanggup hidup dengan gadis seperti ini? Sementara kau tak mampu membayar pembantu rumah tangga untuk melayaninya.”

Dengan penuh keyakinan Chamran berkata, “Saya memang tak mampu membayar pembantu, tetapi saya berjanji, selama hidup, setiap kali Ghadeh bangun, saya akan merapikan tempat tidurnya, membawakan segelas susu dan secangkir kopi di kamarnya.”

Ghadeh mengenang janji suaminya, “Mustafa benar-benar menepati janjinya hingga dia syahid. Bahkan ketika di kota Ahwaz saat sibuk menghadapi peperangan, Mustafa tetap bersikeras merapikan tempat tidur kami, membawakan segelas susu dan secangkir kopi untukku. Meski Mustafa tak suka minum kopi, namun dia selalu membuatkan kopi untukku.”

Dalam psikologi sosial ada yang disebut dengan cognitive dissonance, kegelisahan kognitif dari Leon Festinger. Menurut Festinger (1957), “Cognitive dissonance is as a psychological state which results when a person perceives that two cognitions (thoughts), both of which he believes to be true, do not fit together”. Teori ini menyatakan kita akan merasakan kehidupan yang tidak nyaman karena kesulitan menyesuaikan diri baik sikap, pikiran ataupun perilaku saat memilih satu di antara dua hal yang diinginkan. Agar kegelisahan itu hilang kita harus menghilangkan sumber kegelisahannya atau menyesuaikan diri.

Seperti kisah Chamran dan Ghadeh di atas. Chamran mencintai Ghadeh dan menikah dengannya. Tentu dia menginginkan kebahagiaan dalam rumah tangga. Ghadeh tak bisa merapikan tempat tidur dan menyukai kopi. Chamran tidak menyukai kopi. Tetapi, setiap hari merapikan tempat tidur dan membuatkan kopi. Jika tidak bisa menerimanya, Chamran akan mengalami kegelisahan. Kegelisahan akan hilang bila Ghadeh mengubah kebiasaanya, atau Chamran berusaha menyukai kopi. Rumusnya “jika mencintai seseorang, cintailah apa yang dicintainya”. Inilah penyesuaian diri terhadap sang kekasih.

Islam mengajarkan kita untuk mencintai Allah swt dan Nabi-Nya, Alquran menegaskan : “Katakanlah (hai Muhammad), ‘Siapa yang mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu.” (Q.S. Ali Imran : 31). Alquran juga memerintahkan mencintai keluarga Nabi, “Katakanlah (hai Muhammad), ‘Aku tidak meminta upah apapun kepada kamu, kecuali kecintaan dalam kekeluargaan” (Q.S. as-Syuara : 23)

Perhatikan bagaimana ayat-ayat tersebut menggandengkan kecintaan kepada Allah, dibarengi dengan ketaatan kepada Nabi dan cinta pada keluarganya. Cinta dan ketaatan adalah dua hal yang menyatu, sebab tanda cinta adalah taat pada yang tercinta. Karena itu, jika menyintai Allah dan Nabi-Nya, maka akan menyesuaikan diri dengan apa yang disukai dan dibenci oleh Allah dan Nabi-Nya. Jika tidak menyesuaikan diri dengan perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya, maka kita akan mengalami kegelisahan.

Bahkan, Allah swt saja menegaskan bahwa Dia akan “menyesuaikan” diri-Nya dengan orang yang dicintai-Nya. Dalam salah satu hadis Qudsi Allah berfirman :

“Tidaklah hamba-Ku memperlihatkan cintanya kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Kucintai daripada melaksanakan apa yang Kuwajibkan padanya, dan dia benar-benar memperlihatkan cintanya pada-Ku dengan mengerjakan perbuatan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar; Aku akan menjadi penglihatannya yang dengannya dia melihat; Aku akan menjadi lidahnya yang dengannya dia berbicara; Aku akan menjadi tangannya yang dengannya dia memegang; Aku akan menjadi kakinya yang dengannya dia melangkah. Jika dia berdoa pada-Ku, niscaya Aku kabulkan doanya, dan jika dia memohoin kepada-Ku, niscaya Aku penuhi permohonannya.”

Inilah cinta sejati, karena tidak ada kebahagiaan yang lebih membahagiakan bagi para pecinta kecuali bersama yang dicintai. Terhadap orang yang dicintai-Nya, Allah menyatakan menjadi telinga, mata, lidah, tangan dan kaki orang tersebut. Apa yang diinginkan oleh hamba itu, adalah juga keinginan Allah swt. Dalam cinta seluruh derita menjadi nikmat, seluruh bencana menjadi rahmat, yang dalam lirik lagu Imam S. Arifin “Kalau cinta sudah melekat, gula jawa rasa coklat”. Kalau ingin merasakan semua itu, maka sesuaikan diri melalui kecintaan kepada Allah, Nabi dan keluarganya. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL