uang haram 2Apa sebenarnya makna rezeki itu sendiri? Apakah rezeki hanyalah kenikmatan-kenikmatan, atau juga mencakup penderitaan-penderitaan?

Al-Raghib al-Isfahani menjelaskan makna rezeki ada tiga yaitu : pemberian yang mengalir baik bersifat duniawi maupun ukrawi; porsi dan bagian; dan sesuatu yang sampai ke tenggorokan dan dijadikan makanan.

Sabzawari menjelaskan hakikat rezeki :

“Sesungguhnya rezeki setiap makhluk adalah sesuatu yang mengukuhkan eksistensi serta menjadikan kesempurnaan baginya. Seperti halnya rezeki tubuh adalah pertumbuhan dan kesempurnaan jasmani, rezeki indera adalah kemampuan mengindera, rezeki imajinasi adalah kemampuan menggambarkan konsep imajiner dan ilusi, rezeki akal adalah kemampuan menangkap makna-makna universal dan ilmu-ilmu mengenai ketuhanan dan kehidupan ukhrawi. Maka rezeki adalah sesuatu yang terkait dengan semua itu”

Al-Razi berkata, “Sesungguhnya rezeki badan adalah makanan, rezeki ruh adalah pengetahuan dan yang kedua ini lebih baik dan lebih mulia, karena hasilnya adalah kehidupan abadi, sedangkan hasil rezeki lahiriah dan badaniah adalah kekuatan tubuh untuk sementara waktu.”

Salah satu sifat Allah swt adalah Maha Pemberi rezeki (al-Razaq). Para ulama menyebutkan bahwa al-Razzaq adalah nama khas Allah swt yang menciptakan, mewujudkan dan menyebabkan munculnya rezeki untuk semua makhluknya. Alquran mengatakan, “Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi Rezeki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (Q.S. adz-Dzariyat : 58)

Selain al-Razzaq, Allah juga disebut sebagai “sebaik-baik pemberi rezeki” (khair al-raziqin), seperti firman-Nya, “Berilah kami rezeki, dan Engkaulah pemberi rezki yang paling utama” (Q.S. al-Maidah : 114)

Dengan penegasan ayat-ayat di atas, maka jelaslah bahwa satu-satunya sumber pemberi rezeki adalah Allah swt. Dan Allah memberikan rezeki kepada setiap makhluknya dengan berbagai cara dan perantara. Ada yang mendapat rezeki dengan perantaraan tumbuhan, ada dengan perantaraan hewan, ada dengan perantaraan manusia, ada juga dengan perantaraan benda-benda mati seperti batu. Dan juga bukan hanya manusia mendapatkan rezeki, seluruh makhluk leih rendah dari manusiapun dijamin rezekinya oleh Allah, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya…” (Q.S. Hud : 6).

Hanya saja bedanya, bagi manusia sebagai makhluk hidup yang berakal dan memiliki kehendak (ikhtiyar), maka untuk memperoleh rezeki, dia harus berusaha semaksimal mungkin. Dia tidak bisa hanya berpangku tangan menunggu datangnya rezeki, atau hanya berdoa tanpa melibatkan usaha. Gunakan tenaga, pikiran, keterampilan, keahlian dan lainnya untuk menarik rezeki Tuhan. Oraet labora, berdoa dan berusaha.

Juga bukan hanya manusia yang hidup diberikan rezeki, manusia yang sudah wafat pun juga bisa memperoleh rezeki dari Allah swt. Alquran mengatakan, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki” (Q.S. Ali Imran : 169)

Kalau rezeki sudah terjamin, lantas mengapa seringkali manusia mengeluh akan kesempitan rezekinya. Dalam hal ini ada yang perlu diperhatikan.

Pertama, Allah tetap memberikan rezeki kepadanya, tetapi boleh jadi ia lapang dalam rezeki ukhrawi, tetapi sulit dalam rezeki duniawi. Misalnya, keimanan sebagai rezeki ukhrawi, meskipun dalam kondisi terlilit kemiskinan. Sebaliknya, mungkin saja Allah melapangkan rezeki dunia dan menyempitkan rezeki ukhrawi. Kaya raya hidupnya, tetapi gelisah hatinya, maksiat kerjanya, dan sulit untuk ibadah kepada Tuhannya. Alquran menyatakan, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).’ Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Q.S. Saba’ : 39)

Kedua, Allah telah menetapkan setiap jiwa rezeki yang halal, tetapi adakalanya manusia mengambil yang haram, karena itu Allah swt mempersempit hidupnya. Dalam hal ini, Imam Muhammad al-Baqir berkata, “Tidak ada satu jiwa pun kecuali Allah telah tetapkan baginya rezeki. Ia akan mendapatkan rezeki yang halal. Tetapi ia juga disodori rezeki yang haram dari sisi lain. Jika ia mengambil sedikit saja dari yang haram, maka Allah akan memotong bagiannya yang halal yang telah ditetapkan baginya. Allah memiliki karunia yang banyak. Itulah yang dimaksud ayat, “Dan mintalah kalian kepada Allah karunianya” (Q.S. an-Nisa : 32)

Karena itu perhatikanlah dari mana kita memperoleh rezeki, sebab kelak di akhirat kita akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah swt, ketika Dia bertanya tentang harta kita, “Darimana engkau peroleh, dan kemana engkau gunakan”. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*