majelis zikir“Suatu hari rasulullah saaw masuk ke dalam mesjid di Madinah di dalamnya terdapat dua majelis. Pandangan Rasulullah saaw pun tertuju pada kedua majelis tersebut yang dihadiri oleh para sahabatnya. Majelis pertama adalah kumpulan para sahabat yang sedang berzikir (majelis zikir) dan memuji Allah swt, sedangkan majelis yang satunya lagi adalah kumpulan para sahabat yang sedang belajar mengajar (majelis ilmu).

Rasulullah saaw pun senang melihat hal tersebut. Kemudian beliau berpaling ke arah seorang sahabatnya yang berjalan bersamanya sambil bersabda, “Dua majelis ini melakukan kebaikan, mereka berbahagia dan terpuji. Namun, aku diutus untuk mengajar dan menyebarkan ilmu.” Kemudian Rasulullah saaw menuju ke majelis ilmu dan bergabung bersama mereka.”

Dari riwayat di atas kita dapat menyimpulkan bahwa salah satu majelis yang dimuliakan Islam—selain majelis pikir (majelis ilmu)— adalah majelis-majelis zikir. Bergabung di majelis zikir ini dianjurkan untuk mendapatkan kebaikan yang banyak. Terdapat banyak riwayat dari Rasulullah saaw yang menunjukkan sunnahnya mengadakan majelis zikir. Imam an-Nawawi dalam Riyadl ash-Shalihin, mengumpulkan beberapa hadits yang menunjukkan hal tersebut, diantaranya :

لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالَى إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah sekelompok orang berkumpul dan barzikir menyebut nama-nama Allah kecuali mereka dikelilingi oleh para Malaikat, diliputi rahmat, diturunkan kepada mereka ketenangan, dan Allah sebut mereka di kalangan para Malaikat yang mulia”. (HR. Muslim)

أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَليهِ وَسَلّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَقَالَ: مَا يُجْلِسُكُمْ ؟ قَالُوْا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ وَنَحْمَدُهُ، فَقَالَ: إِنَّهُ أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ فَأَخْبَرَنِيْ أَنَّ اللهَ يُبَاهِيْ بِكُمْ الْمَلاَئِكَةَ

“Suatu ketika Rasulullah keluar melihat sekelompok sahabat yang sedang duduk bersama, lalu Rasulullah bertanya: Apa yang membuat kalian duduk bersama di sini? Mereka menjawab: Kami duduk berzikir kepada Allah dan memuji-Nya, kemudian Rasulullah bersabda: “Sungguh Aku didatangi oleh Jibril dan ia memberitahukan kepadaku bahwa Allah membanggakan kalian di kalangan para Malaikat”. (HR. Muslim)

مَا مِنْ قَوْمٍ اجْتَمَعُوْا يَذْكُرُوْنَ اللهَ لاَ يُرِيْدُوْنَ بِذَلِكَ إِلاَّ وَجْهَهُ تَعَالَى إِلاَّ نَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ قُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk berdzikir, dan mereka tidak berharap dengan itu kecuali untuk mendapat ridla Allah maka Malaikat menyeru dari langit: Berdirilah kalian dalam keadaan sudah terampuni dosa-dosa kalian”. (HR. ath-Thabarani)

Dalam hadits qudsi berikut digambarkan bagaimana kemuliaan majelis zikir dengan suara perlahan maupun dengan suara yang keras, sendiri-sendiri maupun berjamaah :

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِيْ، فَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِيْ نَفْسِيْ، وَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِيْ مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ

“Allah berfirman: “Aku berbuat seperti sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku”, dan Aku senantiasa bersamanya jika ia senantiasa menyebut nama-Ku. Jika ia menyebutku dengan perlahandalam dirinya maka Aku akan menyebutnya secara sembunyi-sembunyi dalam diriku, dan jika ia menyebut-Kusecaraberjama’ahdengansuara keras, maka Aku akan menyebutnya di kelompok yang lebih baik dari mereka—yakni paraMalaikat yang mulia. (HR. Bukhari dan Muslim)

Qadhi Iyadh menjelaskan bahwa makna “Aku berbuat seperti sangkaan hambaku terhadap-Ku” adalah jika hamba tersebut berharap untuk diampuni maka akan Allah mengampuni dosanya, jika ia mengira taubatnya akan diterima maka Allah akan menerima taubatnya, jika ia berharap doanya dikabulkan maka Allah akan mengabulkannya, dan jika ia mengira akan dicukupi kebutuhannya maka Allah akan mencukupi kebutuhannya.

Imam Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar menyatakan bahwa termasuk kesepakatan ulama akan sunnahnya berdzikir setelah melaksanakan salat baik dengan suara pelan maupun keras. Ibnu ‘Abbas menyatakan bahwa ia mengetahui berakhirnya salat Rasulullah saaw dengan adanya suara takbir, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim berikut ini :

 كُنْتُ أَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ بِالتَّكْبِيْرِ

“Aku mengetahui selesainya salat Rasulullah dengan takbir (dengan suara keras)”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lainnya disebutkan bahwa ‘Abdullah ibn ‘Abbas berkata:

 كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ بِالتَّكْبِيْرِ

 “Kami mengetahui selesainya salat Rasulullah dengan takbir (dengan suara keras)” (HR. Muslim)

Kemudian ‘Abdullah ibn ‘Abbas juga berkata:

أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ

“Mengeraskan suara dalam berdzikir ketika orang-orang telah selesai shalat fardu sudah terjadi pada zaman Rasulullah”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa mengeraskan bacaan zikir adalah sesuatu yang dibolehkan, tentu saja tanpa berlebih-lebihan. Sebab Rasulullah saaw melarang berlebih-lebihan dalam mengeraskan suara. Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari bahwa ketika para sahabat sampai dari perjalanan mereka di lembah Khaibar, mereka membaca tahlil dan takbir dengan suara yang sangat keras. Lalu Rasulullah berkata kepada mereka: “Ringankanlah atas diri kalian (jangan memaksakan diri mengeraskan suara secara berlebihan), sesungguhnya kalian tidak meminta kepada Dzat yang tidak mendengar dan tidak kepada yang ghaib, kalian meminta kepada yang Maha Mendengar dan Maha Dekat …” (H.R.Bukhari). (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL