AllahhSecara kejiwaan, dalam kesadaran dan pengalaman beragama, akan terlihat sisi batin seseorang terlibat dengan sesuatu yang sakral dan dunia gaib. Diantara yang gaib itu adalah Tuhan, Malaikat, Jin (setan), surga dan neraka. Keyakinan yang kuat akan keberadaan wujud gaib ini akan melahirkan sikap keberagamaan yang mendorong seseorang bertingkah laku sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya. Sikap tersebut muncul karena adanya konsistensi antara kepercayaan terhadap agama sebagai unsur kognitif, perasaan terhadap agama sebagai unsur afektif, dan perilaku beragama sebagai unsur konatif.

Tuhan sebagai puncak tertinggi dari kegaiban, merupakan fondasi dasar bagi akidah Islam. Karena kita dituntut secara akal untuk berterima kasih atas pemberian Tuhan, maka kita dituntut pula untuk mengetahui dan memahami keberadaannya. Dengan keharusan tersebut, maka mempelajari Tauhid yang intinya membahas masalah keberadaan dan keesaan Tuhan jelaslah sebagai keharusan pula.

Tauhid merupakan masalah terpenting dalam ajaran Islam. Dia bukan hanya merupakan salah satu dasar agama, akan tetapi satu-satunya prinsip yang menjiwai seluruh ajaran dan amalan Islam, baik yang ushul (pokok)maupun yang furu’ (cabang). Inilah sentral atau pusat yang semua elemen mengkristal dititik fokus keesaan-Nya. Esa dalam zat-Nya, Esa dalam sifat-Nya, dan Esa dalam perbuatan-Nya. Setiap pelanggaran akan keesan Allah adalah sebuah kezaliman dan dosa yang besar yang dikenal dengan syirik, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni jika Dia disekutukan, tapi mengampuni selain itu, bagi yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa menyekutukan Allah sungguh telah melakukan dasa besar. (QS. Al-Nisa/4:48)

Karena itu pengenalan tentang Tuhan adalah kondisi tertinggi kemanusiaan dan kesempurnaan spiritual tertinggi yang mampu membawa manusia kepada hakekat di sisi-Nya. Bahkan kemanusiaan manusia terletak pada pengetahuannya tentang Tuhan, sebab hal itu merupakan sisi hakiki dan termurni dalam eksistensi manusia dan keberadaan manusia akan senantiasa bergantung pada keberadaan-Nya sebagai wajib al-wujud. Menurut perspektif Islam, doktin keberadaan Tuhan adalah telah final dan aksiomatik tanpa memandang segi praktis dan sosial yang ditimbulkannya dan ma’rifah (pengenalan) ketuhanan tersebut merupakan tujuan dari manusia dan kemanusiaan itu sendiri.

Untuk itulah kita semua dituntut untuk mengenal akidah Islam ini secara jelas dan gamblang serta tidak diperkenankan ikut-ikutan dalam urusan akidah. Artinya untuk menentukan akidah yang dipegang teguh haruslah berdasarkan dalil dan argumentasi yang kokoh secara akal dan didukung oleh wahyu secara naql.

Memang, Allah sebagai wujud mutlak yang tidak terbatas, maka hakikat diri-Nya tidak akan pernah dicapai, namun pemahaman tentang-Nya dapat dijangkau sehingga kita mengenal-Nya dengan pengenalan yang secara umum dapat diperoleh, malalui jejak dan tanda-tanda yang tak terhingga. Imam `Ali dalam Nahjul Balagahmenjelaskan hal ini dengan sungguh luar biasa indahnya :

“ Segala puji bagi Allah. Dia ada di dalam segala yang gaib. Segala yang terekspose atau bisa dijangkau memperlihatkan jalan kearah-Nya. Dia tidak mungkin dilihat dengan mata siapapun yang melihat, namun, mata yang tak melihat-Nya tak mungkin menafikan-Nya, sedangkan akal yang menunjukkan eksistensi-Nya tak mungkin melihat atau memahami-Nya.

“Dia sedemikian tinggi dalam kebesaran dan keagungan, sehingga tak ada yang lebih besar dan agung dari Dia, sementara dalam kedekatan, Dia sedemikian dekat sehingga tak ada yang lebih dekat dari Dia. Namun keagungan-Nya tidak membuat-Nya berjarak dengan makhluk-Nya, juga kedekatan-Nya tidak membuat makhluk-Nya setingkat dengan-Nya. Dia tidak memberikan informasi kepada akal dan kecerdasan (manusia) tentang batas-batas kualitas-Nya. Meskipun begitu, Dia tidak menghalangi akal dan kecerdasan untuk memperoleh pengetahuan fundamental atau penting tentang-Nya.

“Karena itu Dia sedemikian rupa sehingga segenap tanda atau indikasi eksistensi memperkuat eksistensi-Nya, sampai jiwa pengingkar mengimani-Nya juga. Keagungan dan kemuliaan Allah sedemikian rupa sehingga tak terlukiskan oleh mereka yang menyamakan Dia dengan sesuatu atau mereka yang mengingkari eksistensi-Nya.”

Namun, ini merupakan problema bagi seorang anak, sebab anak-anak jauh dari kemampuan memahami gambaran abstrak keberadaan wujud yang tidak dapat disaksikan seperti Tuhan, malaikat, jin, surga dan neraka. Untuk itu kita mesti dengan sadar memberikan penjelasan yang tidak menyalahi ajaran Islam disamping tidak membuat bingung anak-anak sebagai penerima penjelasan.

Penting diketahui, bahwa meskipun diakui anak merupakan makhluk spiritual, namun perlu disadari tahap perkembangan spiritual anak dalam mempersepsi objek-objek spiritualnya. Sebagai manusia dewasa, guru dan orang tua tidaklah pantas membiarkan anak mempersepsi sendiri objek-objek gaib yang ada, melainkan senantiasa membimbing mereka dengan memberikan jawaban-jawaban dan penjelasan-penjelasan yang rasional sesuai taraf perkembangan kognitif mereka. Tiga “padepokan” pendidikan yakni keluarga (informal), sekolah (formal), dan masyarakat (non formal) mestilah memperhatikan hal ini secara instens. Karenanya pendidikan yang komprehensif, bertanggungjawab, menyenangkan sekaligus mencerdaskan menjadi agenda tak tersingkirkan dalam usaha membangun sumber daya manusia yang memiliki ketangkasan akal, kematangan emosional, sekaligus kecerahan spiritual. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL