Ramadhan-5Bagi orang yang bermata, fajar telah terbit  (Ali ibn Abi Thalib ra)

Setelah sebulan kita berada dalam lembaga pembinaan bulan Ramadhan, maka pasca ramadhan merupakan starting point langkah menuju perubahan ke arah yang lebih baik. Dalam madrasah Ramadhan, kita telah melaksanakan ibadah-ibadah dengan ketulusan niat dan keinginan memperoleh kebaikan dari-Nya semata.

Di madrasah Ramadhan kita membiasakan diri bertadarus Alquran. Tadarus Alquran artinya mempelajari Alquran. Bagi yang belum bisa membaca alquran, tadarus berarti belajar membaca, bagi yang sudah bisa membaca, mereka bertadarus agar bacaan mereka menjadi lebih baik, bagi yang sudah baik bacaannya, mereka mempelajari makna dan mencoba menghayati kandungannya, dan selanjutnya mereka yang sudah memahami kandungannya, mereka mempelajari bagaimana cara menerapkannya dalam kehidupan.

Di bulan Ramadhan, kaum muslimin juga giat melaksanakan salat secara berjamaah baik solat fardhu maupun sholat sunnah (nafilah). Dengan semaraknya pelaksanaan solat berjamaah, nampak bagi kita bahwa kaum muslimin ternyata berwibawa dan kuat bila ada kebersamaan sesuai dengan pernyataan Allah “Muhammad Rasulullah dan orang-orang yang bersama dengannya, mereka itu tegas terhadap orang-orang kafir dan saling berkasih sayang diantara mereka, Nampak mereka itu dalam keadaan ruku’ dan sujud, terpancar pada wajah-wajah mereka kesan dari sujud”. (QS Al-Fath: 29)

Walaupun masih ada beberapa kekeliruan dalam mensyiarkan solat berjamaah yang sebagian kalangan mengutamakan solat malam Ramadhan yang merupakan solat nafilah, padahal seharusnya berjamaah itu lebih ditekankan pada solat-solat fardhu. Namun begitupun kita berharap dengan dididik sebulan di madrasah ramadhan, kaum muslimin dapat lebih semarak melaksanakan solat fardhu berjamaah di masjid-masjid. Panggilan azan “hayya ala ash-sholah, hayya ‘ala al-falah” dari menara masjid-masjid akan disahuti dan ditanggapi dengan baik dengan mendatangi masjid agar solat dapat ditegakkan dan kemenangan dapat diraih.

Dengan melaksanakan solat berjamaah di bulan Ramadhan secara rutin, hal itu menjadi sarana pembiasaan bagi kita untuk solat berjamaah pada bulan-bulan berikutnya. Selanjutnya karena solat berjamaah sudah terbiasa dilakukan, hal itu akan meningkat menjadi kebutuhan. Kaum muslimin akan merasa butuh melaksanakan solat secara berjamaah terutama solat-solat fardhu.

Begitu juga dengan bersedekah, menjamu atau menyiapkan makanan berbuka puasa untuk orang lain dan juga membayarkan zakat fitrah atau zakat diri pada penghunjung bulan Ramadhan, hal itu juga merupakan latihan bagi kita agar tidak merasa berat hati untuk melepaskan saudara muslim kita dari himpitan kesulitan, menyelamatkan mereka dari keterpurukan, dan membebaskan mereka dari keterjeratan, terutama yang berkenaan dengan masalah-masalah penghidupan.

Di bulan Ramadhan, kita telah dilatih untuk berlapang dada, bahkan melapangkan orang lain walau kita sendiri bisa jadi belum lepas dari kesulitan; agar pada masa-masa mendatang kita tidak lagi merasa keberatan dalam membantu dan menolong saudara-saudara kita, apalagi jika kita berada dalam situasi yang lapang.

Walau tidak sama bagi setiap orang dalam merasakan lapar dan haus di siang hari dengan berpuasa, namun semua sama-sama merasakan lapar dan haus. Dengan berpuasa mereka dilatih untuk menahan diri dalam memenuhi hasrat badaniahnya walau dengan sesuatu yang halal. Dan bila tiba saat berbuka, maka kaum muslimin diperbolehkan kembali menikmati rezeki yang dianugerahkan Allah tadi tanpa berlebihan. Dari sini kita dapat mengambil hikmah, bahwa dengan berpuasa—untuksesuatu hal yang halal saja—kita dilatih untuk menahan diri, yang apabila kita mampu menjalaninya dengan benar, hal-hal yang terlarang untuk dikonsumsi dan tindakan-tindakan yang tercela, Insya Allah akan mampu kita jauhi di luar bulan Ramadhan. Ternyata berpuasa adalah sarana belajar yang efektif dalam hal menaati Allah. Maha benar Allah dengan firman-Nya : “Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan untuk kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, suapaya kamu bertaqwa”(Q.S. Al-Baqarah : 183).

Islam adalah sistem panata kehidupan dari Allah bagi manusia agar manusia hidup dalam keselamatan, kesejahteraan, kesentosaan dan kedamaian. Sebagai satu-satunya sistem penata kehidupan yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan, Islam tentu saja memiliki suatu cara pandang dunia yang tidak membelenggu kebebasan berpikir manusia, begitu juga dalam hal sikap dan tindakan yang dipilihnya, semuanya berorientasi pada peningkatan kualitas individu yang berlanjut pada kemajuan masyarakat. Oleh karenanya, segala sistem pembinaan dalam Islam yang disebut dengan Arkaanul Islam, bila benar-benar terlaksana dengan benar dan baik, niscaya terwujud khairu ummah (ummat terbaik) yang memiliki kewibawaan, diperhitungkan dan tampil di tengah-tengah panggung peradaban dunia. Kalimat “Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya” yang keluar dari lisan suci Rasulullah saw bukanlah sekedar slogan, tapi kalimat itu adalah motivasi bagi kita dalam mewujudkannya. Semua itu hanya dapat kita raih jika kita kembali beraktivitas dengan semangat ramadhan. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL